Let’s Talk About The Movies #1

Menonton sebuah film selalu menjadi aternatif terbaik buat aku dalam menghabiskan waktu. Yes, I’am a movie buff! So, aku ingin membuat semacam ulasan tentang film-film yang aku tonton, sebelumnya aku sudah pernah menulis review film Liberal Arts dan Shattered Glasses. Kali ini aku mau membuat ulasan tentang empat film yang aku tonton tiga hari yang lalu. So, let’s talk about the movies!

Pernah berangan-angan untuk membunuh bos yang menyebalkan?
Pernah berangan-angan untuk membunuh bos yang menyebalkan?

Tiga pria dengan tiga pekerjaan yang berbeda beserta tiga bos menyebalkan yang berbeda pula menghabiskan malam mereka di sebuah bar dan bercerita tentang hari yang mereka lalui. Dijanjikan sebuah promosi jabatan setelah bekerja di perusahaan bertahun-tahun membuat Nick Hendricks (Jason Bateman) mengerahkan segala kesabaran yang ia punya untuk menghadapi bosnya, Si Psycho, David Harken (Kevin Spacey). Sedangkan Dale Arbus (Charlie Day) adalah seorang biasa-biasa saja yang memiliki cita-cita untuk menjadi suami. Tetapi ia sadar, menjadi suami saja tak akan bisa memberinya pundi-pundi uang. Ia pun mesti rela bekerja menjadi asisten seorang dokter gigi yang gemar menjadikan Dale sebagai fantasi seksualnya, Dr. Julia Harris (Jennifer Aniston). Lain halnya dengan Kurt Buckman (Jason Sudeikis). Kurt sedikit beruntung karena bosnya yang sudah tua teramat baik. Tetapi semua berubah saat si bos meninggal dan anaknya Si Cupu Boby (Collin Farrell) mengambil alih jabatan. Saat promosi yang dijanjikan ternyata hanya candaan si bos, saat si dokter gigi semakin mengintimdasi dan saat si bos cupu mulai memecat semua orang tanpa alasan, Nick, Dale dan Kurt sepakat untuk mencari pembunuh yang bisa membuat bos mereka pergi selama-lamanya.

Horribble Bosses masuk kategori film yang gak perlu banyak mikir buat nontonnya, dan ini sangat menghibur! Kebodohan-kebodohan mereka dalam mencari pembunuh sukses bikin ketawa. Apalagi tingkah konyol Dale dengan suaranya yang mirip karakter kartun it’s very funny actually. Hal yang bikin tepok jidat adalah pas Nick, Dale dan Kurt udah mau ditangkap polisi karena dituduh nembak si Harken, tapi mobil pintarnya si Kurt tiba-tiba ngasih rekaman semua percakapan dan akhirnya si Harken yang jadi tersangka itu agak ketebak. But overall, untung aja akhirnya gak cheesy banget. Ada plot mengejutkan diakhir yang bikin penasaran gimana kelanjutan cerita Nick, Dale dan Kurt di Horrible Bosses 2.

Ratings: 8

Apa yang bakal kamu lakukan saat teman sekamar kamu berkata, "Hari ini kamu gak ada jadwal kan? Berarti hari ini kamu milik aku sepenuhnya kan?".
Apa yang bakal kamu lakukan saat teman sekamar kamu berkata, “Hari ini kamu gak ada jadwal kan? Berarti hari ini kamu milik aku sepenuhnya kan?”.

Sara Matthews (Minka Kelly) baru aja pindahan ke asramanya di kampus but she didnt know her roommate seperti beribu-ribu mahasiswa lainnya. Tapi akhirnya dia ketemu juga sama Rebbeca (Leighton Meester) teman sekamarnya itu. Sara yang hobi berteman kesana-kemari pun menjalin hubungan pertemanan sama Rebbeca, the quite one. Malang bagi Sara, dia sudah terlanjur dianggap sebagai satu-satunya sahabat bagi Rebbeca. Ya, ini bukan soal persahabatan manis ala-ala remaja yang mungkin kamu lihat di Bratz karena sayangya Rebbeca bukan cuma sahabat “biasa”.

Aku gak bisa menyembunyikan rasa jengkel lihat akting Minka Kelly di film ini. It’s almost empty! Aktingnya datar banget, pas dia curiga, pas dia marah, pas dia sedih, ekspresinya datar, ngomongnya lempeng alias no emotion. No wonder dia bukan artis yang masuk a good actress list. Untung aja Leighton Meester agak mending dibanding Minka. Tapi dari segi cerita, film ini lumayan serem kok, ya.. meskipun agak cheesy tapi si sutradara bisa membangun emosi penonton dengan cukup baik. Sayang banget plotnya buru-buru, jadi dari awal udah ketebak pasti emang ada yang salah sama si Rebbeca. If you want to know whats wrong with Rebbeca, go watch it by yourself :p.

Ratings : 7

Beautiful and dreamy it's what I was thinking when I watched this movie.
Beautiful and dreamy it’s what I was thinking when I watched this movie.

Sebenarnya aku udah nonton The Grand Budapest Hotel waktu KKN kemaren, tapi entah kenapa ngantuk banget jadi gak sampe kelar. Jadi kemarin aku memutuskan untuk menonton ulang film ini. Bercerita mengenai petualangan seorang Lobby Boy bernama Zero dengan Monsieur Gustave, –katakanlah si manajer– hotel ternama The Grand Budapest Hotel, kita diajak untuk melihat sebuah plot cerita yang menarik, permainan teknik sinematografi yang tidak monoton, serta komposisi gambar yang nyeleneh dan teatrikal. Secara keseluruhan film ini sendiri bercerita soal sejarah, masa lalu, alias petualangan “romantis” Zero dan M. Gustave. Aku sangat merekomendasikan film ini because this is such a beautiful movie. Tipikal film yang memanjakan mata kamu dengan sinematografinya, dan jangan dengerin orang yang bilang film ini rumit dan susah dimengerti. It’s quite simple and delightful movie, really.

Ratings : 9,5

Dan kenyataanya, apa yang kamu lihat di permukaan sangat jauh dengan apa yang ada di dasar.
Dan kenyataanya, apa yang kamu lihat di permukaan sangat jauh dengan apa yang kamu lihat di dasar.

Apakah dia Tuhan? Apakah dia pembunuh? Apakah dia seorang penyelamat perang? Atau apakah dia hanya seorang jenius yang mencintai teman masa kecilnya dulu?

The Imitation Game sukses membuatku penasaran dengan sosok Alan Turing dan Perang Dunia II. Mengapa? Alan Turing adalah matematikawan yang berhasil membuat sebuah mesin pemecah kode enigma, semacam alat yang memuat kode-kode rahasia yang digunakan Jerman untuk berkomunikasi. Memecahkan kode enigma adalah hal yang krusial karena dengan itu jadi bisa tahu pergerakan serangan Jerman. Singkatnya, meskipun beberapa kali dianggap gagal, Turing berhasil memecahkan enigma dengan mesinnya yang ia namai Christoper. Sayangnya karena udah terlanjur terbius sama Benedict Cumberbatch di Sherlock, aku gak bisa melihat akting Bendecit sebagi Turing di film ini secara objektif. Rasanya gak jauh beda. Tapi dari segi cerita, The Imitation Game menawarkan kisah sejarah yang brilian sekaligus menyedihkan. Kalau ingin bicara soal kisah hebat dan sedih Alan Turing, film ini sudah sukses menggambarkannya.

Ratings : 8,9

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s