Berpikir

berpikir

Sejujurnya Rania benci harus bercerita panjang lebar mengenai kegelisahannya, bahkan kepada teman-temannya yang paling dekat pun. Ia enggan dicap galau, enggan dibilang hidupnya hanya dipenuhi cerita melodrama. Tetapi kepada siapa lagi dia harus bercerita? Kita sedang berbicara tentang sesuatu yang alamiah, tidak dapat ditolak dan ditahan. Otak milik Rania itu terus-menerus bekerja 24 jam nonstop, setiap hari, selama ia masih hidup. Bisa dibayangkan? Ruangan di kepala Rania mungkin tak lebih besar dari sebuah kelapa yang dagingnya siap dimakan, tetapi pikirannya jauh melampaui ruangan itu. Rania berpikir ia tidak cukup beruntung memiliki otak yang memaksanya untuk terus-menerus berpikir. Rania ingin menjadi zombie saja yang batok kepalanya kosong digerogoti sampai busuk.

Berpikir, berpikir, berpikir.

Rania benci berpikir. Sediki-sedikit ia melihat ke arah jam yang ada diujung kanan laptopnya. Melihat layar putih yang belum terisi apa-apa lebih membuatnya frustasi dibanding melihat waktu yang sedikit demi sedikit bergerak maju. Sudah satu jam ia duduk di depan laptop dan belum menulis apa-apa. Ia kemudian berpikir –lihat? berpikir itu tak dapat ditahan-tahan!— ini bukan soal acara yang ia datangi kemarin sangatlah membosankan sehingga ia pun memilih pulang lebih awal dan alhasil bahan tulisannya sedikit, bukan. Ini lebih kepada dirinya yang merasa kosong. Rania merasa rutinitasnya itu mulai membosankan dan membuatnya tak bergairah. Ia butuh sesuatu yang baru. Sesuatu yang bisa membuat matanya kembali menyala. Rania butuh sumber penerangan yang baru.

“Sumber penerangan seperti apa yang harus aku cari?” batin Rania.

Rania kemudian sadar dirinya bukan seorang umat yang taat. Ibadahnya dapat dihitung jari, ia juga apatis terhadap ceramah-ceramah yang ia lihat di televisi. Rania berpikir, mendekatkan diri kepada Tuhan bukan hal yang buruk bukan? Ah, Rania yakin ia tak akan mendapat pencerahan dari cahaya langit secara seketika. Tetapi ia mulai terpikir untuk membuka hatinya. Per-la-han. Biarkan cahaya itu masuk pelan-pelan saja. Agar hati Rania siap menerimanya. Bukan tak mungkin hatinya akan berlumeran cahaya jika dimasuki secara cepat dan banyak. Takut nantinya overdosis.

Berpikir, berpikir, berpikir.

Ughh, kini otak milik Rania memutar kendali. Rania dipaksa untuk melihat sebuah pemandangan yang paling ia tidak sukai. Orang-orang berkumpul. Dan ini adalah benda yang paling sulit dihilangkan karena Rania melihatnya berserakan di seluruuuuh penjuru dirinya. Ini yang membuat otak Rania hampir meledak karena mesti memikirkannya setiap hari. Tidak ada dimana-mana selain ada dimana-mana. Glek. Jika Rania mesti menyaksikan pemandangan ini setiap hari itu artinya ia menelan mentah-mentah semua itu bertahun-tahun lamanya. Tak heran pipa pencernaanya mulai bocor. Lagi-lagi overdosis. Argh! Biar kali ini Rania yang mengambil alih kemudi! Jangan otaknya lagi! Dengan sekuat tenaga Rania mendorong pikirannya jauh-jauh. Melewati banyaaaaak sekali arsip-arsip pikiran lain yang merengek minta dibuka. Tetapi hati Rania teguh. Ia terus melaju tanpa membuka mata. Sedikit lagi ia akan sampai dan ini waktunya untuk mengambil alih.

Berpikir, berpikir, berpikir.

Rania berhasil melampaui kegaduhan otaknya. Cukup jauh ia menelusuri babak-babak pikiran yang berwarna merah. Sekali tarik nafas panjang Rania membuka mata. “Ah tempat ini jauh lebih baik dibanding otak ku!” ujar Rania. Ia berdiri di sebuah tempat dengan dinding berwarna hitam di sekelilingnya. “Hmm.. hati bukan tempat yang cukup buruk kan untuk menyepi?,” batin Rania. Rania melenggang. Sesekali ia menabrak dinding hitam itu. Tetapi lama-lama jadi berkali-kali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s