Hemat Atau Gak Hemat Sayangilah Dirimu

Terkadang, ada saatnya aku memilih untuk pulang naik travel meskipun itu siang hari dan jelas-jelas masih ada bus kota. Bukan demi gegayaan, kalau sedang malas terkena macet dan asap rokok kadang aku memilih untuk naik travel walaupun itu lebih mahal. Jujur saja, hemat dan menekan keuangan itu menyebalkan, dan mendengarkannya saja menjengkelkan. Jujur, aku tidak mau jadi seorang gadis berusia 21 tahun yang selalu berpikir dua kali, menimbang-nimbang harga makanan, dan mengumumkan segala pertimbangan itu ke semua orang, bergaya ala ibu-ibu yang baru saja membayar SPP anaknya dan membeli satu liter minyak dan setengah kilogram telur dari minimarket. Catat, kalau kamu sedang hemat, don’t show it, just keep it for your self and make some good excuses if your friend ask you out cause hearing some people complaining or desperate about their broke financial padahal kamu cuma mau makan nasi pake ayam goreng dan sambel.. It’s suck. Don’t make yourself looks like a devil granny who let her grandchild starving because she was thinking that a Rp.10000 for a fried rice is a super damn expensive. No, please just keep that for your own self.
Why am I so care about this?
Lagi-lagi, menurutku tidak akan pernah ada aturan yang menyebut kalau kita tidak boleh membelanjakan uang untuk kesejahteraan diri sendiri. Well, it’s never wrong to let your body your mind treated well. Lelah dari perjalanan 4 jam digerogoti macet gila-gilaan dan kamu memilih untuk naik taksi karena tidak siap dengan penatnya angkot? It’s okay! Muak dengan makanan warteg yang itu-itu aja dan mau membungkus steak sepulang dari kantor untuk dimakan? It’s okay! Karena itu untuk diri kamu. Untuk badan kamu. Untuk pikiran kamu. Bukan untuk orang lain. Aku mengatakan ini bukan berarti memberikan, menraktir atau meminjamkan uang ke teman kerja atau saudaramu adalah hal yang dilarang. No! Dalam hal ini, terkadang kita lupa untuk mementingkan diri sendiri dan selalu menaruh kepentingan orang lain di atas kita. Menurutku itu adalah hal yang tidak selalu membahagiakan. Dan setelah aku percaya bahwa mengeluh adalah hal alamiah manusia yang berhak kamu lakukan meskipun sebuah kutipan bijak berkata mengeluh hanya untuk pecundang, aku pun jadi setuju bahwa “egois” juga hak milik manusia manapun. Hak yang mengizinkan manusia dimanapun untuk memanjakan dirinya sendiri dibanding harus membayar kebutuhan orang-orang terdekatnya. And you should believe it too. Sometimes, what people think it’s bad it’s not always the same as you thought. In the other name? Don’t let some generalization of “kind” definition ruled you.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s