Glory Box

Tololsi

Hari Rabu ini akan aku ingat sebagai hari yang membuatku merasa sedih karena “dipaksa” untuk menjaga diri dan barang sebaik mungkin, sebisa mungkin, sekuat mungkin dan tidak mengharapkan pertolongan orang-orang yang mestinya bisa menjadi penolong seperti polisi.

Usai kelas Ekopol yang membosankannya minta ampun, bahkan membuatku rasanya ingin tidur dan terlelap di lantai kelas saking tidak inginnya mendengar omongan dosen (sialnya, malah disuruh presentasi) kami, ya, siapa lagi, kolektif cupu ini hendak makan ke D’Cost. Tergiur promo bayar sepuasnya pakai kartu debit dan khususnya tergoda buat makan udang saus telor asin yang dipuja-puja Riki, kalo aku sih.

Semua berjalan normal-normal saja, seharusnya, kalau saja aku dan Mumut tidak jajan kentang goreng cream cheese, kalau saja Lukya tidak ke ATM dulu dan kalau saja Siti gak beli kentang depan Bungamas, harusnya semua berjalan normal-normal saja.

Tapi Lukya yang butuh uang, aku dan Mumut yang penasaran sama stand-stand di festival makan di gerlam dan Siti yang kebelet mau beli kentang mengantarkan kami kepada kejadian ini.

Setelah aku nyampe kosan dan hendak menulis ini meskipun terpotong sejenak lantaran dipanggil si Meidina dulu buat jadi kelinci percobaan dia untuk tugas psikologinya di ruang tamu, aku merasa ada yang mengganjal dari awal kami naik angkot.

Aku jadi ingat Lukya yang buru-buru mau naik angkot sementara Siti masih beli kentang. Lalu Lukya juga berulang kali bilang angkotnya masih cukup walaupun dari luar terlihat sudah penuh, lalu ingat si Mumut yang berulang kali bilang tungguin Siti, ah serasa janggal, ada yang tidak benar.
Anehnya, Lukya yang bersikeras angkotnya masih kosong dan meminta kami buat cepet naik nyatanya malah naik belakangan sehingga dia gak melihat apa yang aku, Aii dan Mumut lihat 10 menit kemudian.

Lukya dan Siti duduk di kursi kecil dekat pintu, Mumut duduk di tempat duduk barisan kanan angkot dan aku di sebelahnya, Aii duduk di seberang ku persis sementara Mumut duduk bersebrangan dengan seorang pria di sebelah kanan Aii. Sementara di sebelah kiri Aii ada seorang mahasiswa Chinese Malaysia yang asyik mengobrol dengan temannya, kami pun demikian, mengobrol kesana kemari.

Tapi Aii, matanya mengatakan sesuatu. Aku lihat si pria yang duduk di sebelah kanannya. Ia tampak meraba-raba Aii dan Aii merasa risih. Aii memajukan badannya ke depan sambil terus memberi isyarat kepada aku yang matanya minus empat, yang bahkan gak bisa melihat dengan jelas huruf berukuran 12 dengan jarak 30 cm ini.

Aii lalu memegang-megang pahaku. Matanya semakin mengisyaratkan sesuatu. Aku refleks melihat si pria di sebelah kanan Aii kayak lagi ngegrepe-grepe pantat si Aii. Lalu aku lihat terus si pria itu yang tampak salah tingkah.

Mesum pikirku, tapi Aii diam saja, aku pun demikian karena gak paham dengan situasi yang tengah berlangsung dan Aii yang hanya menatap-natap tanpa memberi isyarat lebih jelas, misal dengan menulis di notes HP atau pura-pura SMS.

Sesampainya di Jatos, si Pria memerhatikan kami semua keluar, kepalanya bahkan mendongak keluar jendela. Betapa kagetnya aku saat aku nanya Aii,

“Kenapa sih Aii digrepe-grepe?”
“Nggak Fir, itu copet”
“Hah kok gak bilang?”

Aii langsung nyamperin Lukya dan mereka berdua lari menyusul si mahasiswa Malaysia itu. Sayangnya benar, cewek yang duduk di sebelah kanan Aii, HPnya raib. Aku bengong, rasanya bego banget gak pake kacamata pas di angkot karena aku gak liat pria itu ngambil HPnya sementara si Aii lihat dengan matanya sendiri tapi terlampau takut buat bilang atau teriak.

Si cewek yang kehilangan HPnya itu pun cuma diam, dua temannya yang lebih sibuk nanya-nanya kami dan satu diantaranya langsung mengambil motor untuk mengejar si pencuri, berbekal ingatan aku dan Mumut yang duduk persis di seberang si pencuri.

Kami semua lalu mengantarkan si cewek itu ke kantor polisi yang berhasil bikin aku sebal setengah mati dan tak henti-hentinya bilang “Anjing ih” di dalam hati.

Bukan, bukan karena si cewek merepotkan kami dan membuat kami gak jadi makan, bukan. Si polisi ini, sedatangnya kami ke kantornya, tanpa ba bi bu, baru mendengarkan kalimat “Ini pak HPnya dicopet di angkot..” Langsung memberondong si cewek yang HPnya hilang dengan kalimat,

“Yah gimana sih bukannya teriak”
“Udah susahlah kalo gitu”
“Harusnya catetlah nomor platnya”
“Paling orangnya udah pergi kemana, udah ganti angkot”
“Ya susahlah udah kemana”

Harusnya, harusnya, harusnya……

Bisa lebih buruk dari ini gak sih? Marah dan kesel gak udah dapet musibah tapi masih dimarah-marahin dan disalah-salahin, langsung, dengan muka yang dongkol pula. Seenggaknya berempatilah, ya Tuhan aku mesti jujur polisi Jatinangor payah banget.

Temen si cewek yang gak putus asa buat nyari si pencuri ini memberondong si polisi dengan berbagai saran, seperti mengejar si pencuri yang semoga belum terlalu jauh. Si polisi gak menggubris lalu Mumut bilang ke kedua cewek itu kalo polisinya susah untuk diandalkan yang kayaknya didenger sama dia dan si polisi pun minta aku Mumut dan si cewek naik mobil polisi buat patroli mencari muka si pencuri.

Di sepanjang jalan, si polisi lagi-lagi, selalu bilang “Ya udah susahlah pasti udah naek angkot lalala….” “Kok bisa dicopet sih…” *Seriously I want to punch his face* “Harusnya teriaklah bukan diem……..”

PLEASE SHERLOCK HOLMES DATENG KE JATINANGOR PLEASE AKU BUTUH DETEKTIF GANTENG YANG GAK DUNGU KAYAK POLISI-POLISI INI!!!!!!! 😦

Huft, pencarian pun cuma alakadarnya, cuma muter sampai tol doang, nihil, ih. Sesampainya di kantor polisi, si temen cewek yang HPnya ilang ini masih belom nyerah, dia mengusulkan agar kami diizinkan buat ngeliat foto-foto penjahat yang siapa tahu si copet ini.

“Oh bukunya lupa dimana, dimana ya buku yang isi foto-foto pelaku teh?” tanya si polisi. Aku cuma diem, si cewek dan temannya itu bertatapan lalu geleng-geleng. Singkatnya mereka hanya memperlihatkan foto pelaku kejahatan yang ada di komputer. Tentunya, tidak lupa disertai dengan kalimat “Oh, udah susahlah ini mah paling copetnya……”

Oh. Iya, duh lupa dungu.

Akhirnya cewek itu pun memutuskan buat mengisi laporan kehilangan saja. Tapi emang ya selera humor polisi di sini bukan main lucunya. Saat si korban duduk, ia ditanya sama si polisi.

“Namanya siapa? Ling Ling?”

Ya Tuhan, bapak polisi ini waras kan?

image

Advertisements

2 thoughts on “Tololsi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s