Sirih

Ibuku memang bawel soal kebersihan tubuh anak-anaknya. Bukan sekali, aku kena omelannya gara-gara tidak mandi dan mengganti baju hingga dua minggu. Biasanya aku bilang iya-iya saja. Tapi semenjak sudah tidak tinggal permanen di rumah, omelan ibu soal itu jadi tidak begitu sering terdengar. Tetapi minggu ini saat aku pulang ke rumah, ibu memaksaku dan adikku buat minum ramuan racikannya. Segenggam daun sirih dan air yang digodok sampai airnya jadi berwarna cokelat. Katanya biar si Miss V singset. Adikku meminumnya dengan tenang, sementara aku ogah meneguknya. Aku kadung ilfeel saat meminumnya pertama kali dulu. Bau dan aneh rasanya! Huek!

Berulang kali ibuku nanya sudah diminum atau belum air sirihnya. Aku hanya bilang iya-iya. Lalu tadi nanya lagi dan aku hanya bilang ntar. Alih-alih meminumnya aku malah duduk dan mengetik sebuah tulisan di laptop yang entah kapan akan selesai dan akan aku unggah di my lovely lonely house, dearthy ini.

Tulisan yang baru menyentuh halaman kedua itu nyatanya tidak rampung dan menggantung. Dasar mudah bosan dan buntu, aku memilih untuk menekan Ctrl dan S secara bersamaan. Mencari tanda power, mematikan laptop, menutupnya, beranjak dari kursi dan mengambil sebuah gelas. Aku membuka panci putih berisi daun-daun layu itu. Ada uap yang menempel di atas permukaan tutupnya. Ku icip sedikit. Wanginya khas dan tak perlu waktu yang lama untuk menuangkan setengah air berwarna cokelat itu ke dalam gelas. Hanya dalam hitungan detik, gelasku sudah terisi lumayan penuh.

Ah itu pasti bapak pulang dari mesjid.

Tangan kiri ku memegang gelas berisi air mineral. Berjaga-jaga jika minuman berwarna cokelat di sebelah kanan yang hendak aku minum ini memabukkan.

Glek, glek..

Sambil menutup hidung aku menengguknya perlahan-lahan. Kentara sekali dengan caraku meminumnya pertama kali dulu yang terburu-buru dan penuh rasa jijik.

Glek, glek..

Minuman dengan bau menyengat  itu habis dalam sekejap. Aku lantas menengguk air mineral yang telah disiapkan. Tetapi nyatanya hanya sedikit yang terteguk. Karena ternyata air sirih yang aku minum tak memiliki rasa. Karena ternyata aku tiba-tiba merasa bisa meminumnya lagi dan lagi jika nanti disuruh lagi. Karena ternyata saat aku berjalan menuju kamar, sebuah pertanyaan melintas “Mengapa dulu rasanya tidak seenak ini?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s