Movie

Review: Fifty Shades of Grey

THIS MOVIE IS F***ING HILARIOUUUUUUUS HAHAHA.

Asliiiii, aku gak berhenti tepok jidat, ketawa, teriak “Hah apaaaan sih” saat nonton film ini. Film apaan sih Fir?

It’s…

Fifty  Shades of Grey! Haha. Jadi bermula dari rasa penasaran aku kenapa film ini eksis, booming like everywhere, di 9gag, di semua situs gosip, di Youtube, like literally people always talking about this movie bahkan Nia Ramadhani ampe ke Singapura buat nonton film ini. Fyuh, so I decided to watch this movie setelah pulang dari kantor. Btw, beberapa hari yang lalu aku juga liat berita kalo film ini dapet lima nominasi di Ajang Penghargaan buat film terburuk.  Hah, seburuk apa sih? Dan kok iya Dakota Johnson yang secara termasuk aktris oke di Hollywood mau maen di film kayak gini? So, yes, I’m watching this movie and…….. I feel like this is the kind of movie that could be terrible but not that worst.

Kocak aja sih jadi ceritanya ada cewek polos, ringkih, a truly virgin, bernama Ana dia diminta temennya Kate buat gantiin mewawancara Mr. Grey, miliuner berusia 27 tahun di kantornya.
It’s like i’m watching a cheap movie, sort of a low budget be like movie seriously, entahlah pengambilan gambarnya, detail saat Ana gigit bibir, kayak cheap porn movie gitu. Nah ajaibnya dalam hitungan detik si Ana ama Mr. Grey udah punya pandangan-pandangan suka, saling flirting yang bikin mikir “Rr… Really? On your very very first meeting?” Ajaibnya lagi baru sekali ketemu si Mr. Grey tiba-tiba muncul di tempat kerja si Analah, ngejemput si Ana pas mabok (?). Cepeeeeeeet banget alurnya, terlampau gak masuk akal, si pendekatannya tuh gak real bangetlah, ya kali baru ketemu beberapa kali, bahkan bisa dikatakan gak ada sebuah aksi yang menunjukan kalo mereka saling suka si Mr. Grey udah ngasih hadiah, manggil Babe lah. Membuat aku berkali-kali memenjamkan mata dan teriak “Apaaaaaaaan ini haha”.

Lanjut, secara ajaib si Ana dicium ama Mr.Grey dan langsung dibawa naik helikopter buat ke mansionnya si Mr.Grey. Dan si Ana terpukau-pukau polos gitu dibawa naek helikopter. Mereka pun mendarat di rumah Mr.Grey, diperkenalkan sama “sistem kerja” Mr.Grey. Jadiiii si Mr.Grey ini punya aturan maen sendiri kalo mau having sex sama seorang cewek, ampe ada kontraknya bok! Haha kocaklah pas dibacain kontraknya, nah lagi-lagi dengan alur super cepat, tanpa tendeng aling-aling mereka mulai melakukan “itu”. Nah pas adegan ini aku merasa lagi nonton parodi. Si Mr.Grey kaget banget pas tau kalo si Ana masih virgin.
“Where have you been,?” ujar si Grey.
Dengan malu-malu si Ana bilang,
“I’m waiting”

Eaaa, as easy as that mereka pun melakukan itu dan membuat aku mikir astaga ini niat gak sih kayak gak sabaran banget yang bikin film. Nah adegan paling kocak yang bikin aku ketawa-ketawa tepok jidat adalah pas mereka udah having sex terus si Mr.Grey ujug-ujug maen pianoooooooooo hahahahahaha gak nyambuuuung aseli gak jelas banget. Duh, gini-gini amat ya?

Terus aku baca review orang-orang soal film ini dan kebanyakan bilang this movie its such a waste. Aku gak tau ya kalo novelnya gimana, tapi aku sependapat sama reviewer itu. Dari segi cerita, it’s totally cheesy and cheap, gak tau kenapa ya tema soal sadisme dalam seks ini jauh lebih menarik di salah satu episode CSI yang aku tonton. Entah karena emang ceritanya emang udah jelek atau eksekusinya tapi aku ngerasa film ini gak menawarkan cerita yang bagus, secara isi ya. Terus dari segi naskah, menurutku the script is really terrible. Ada adegan waktu Ana masuk lift dan saat liftnya mau nutup, dia bilang “Christian”. Terus si Christian yang ngeliatin dari luar lift dan bilang “Ana” mengingatkan aku sama adegan Chunhyang dan Jo Moryong di Sassy Girl. Apa ya, kayak nonton film yang low budget production gitu tau ga siiiih, naskahnya gak banget. Nah soal akting, kebetulan aku nonton yang without censore, jadi aku melihat adegan-adegan yang ramai dihebohkan orang soal film ini. Dakota dan si cowok was naked but ofcourse theyre not showing their genital. Dari segi keberanian, buat sekelas Dakota ya bolehlah diacungi jempol, karena dia berani. Tapi aktingnya? Menurutku jelek sih, it’s like a cheap actress sorry. Kalo si cowok lumayan mengintimidasi tapi mungkin efek naskah yang jelek bawaanya kurang bagus aja. Nah secara keseluruhan, aku paham kenapa film ini gak bisa ditayangkan di bioskop dan booming banget karena the sex scene is about 50%, gak separah yang aku kira sih, atau jangan-jangan sebenernya aku tuh nonton yang disensor? Terus jujur saja menurutku ini terlihat seperti low budget movie, a cheap porn story seller, daaaaaan agak mirip film parodi plus iklan-iklan TV karenaaa liat aja endingnya.

Endingnya tuh bikin aku merenung: “Ini pasti lanjutannya….”

*Disclaimer*

Review ini aku tulis beberapa hari yang lalu, sesaat aku udah menamatkan filmnya jadi ya… Ini reaksi spontan aku saat menontonny. Tadinya aku mau bikin review yang agak niat, mendalam tapi karena ngerjain naskah-naskah jadi keburu males hehe.

image

Advertisements

1 thought on “Review: Fifty Shades of Grey”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s