Movie

Review: Senyap

Ada perasaan tidak nyaman, yang membuat aku ingin mempercepat film ini. Tatapan yang saling bertemu tapi tanpa kata. Gerak-gerik menghindari ketidaknyamanan.. Sesuai judulnya, “Senyap”, film ini dibuka dengan potongan gambar yang minim suara, hanya terdengar bunyi serangga dan angin, mendayun pelan. Benar-benar membuatku tidak nyaman. Adegan demi adegan yang didominasi kesenyapan ini pun mulai bercerita melalui gambar figur-figur, langit dan jalanan. Cerita mulai mengalir dari berbagai mulut dan mata tentunya, malah menurutku mata menjadi pembicara paling jujur yang aku lihat di sepanjang film karya Joshua Oppenheimer ini. Satu hal yang diluar dugaanku saat memutuskan buat menonton film ini sepulang dari kantor adalah: aku tidak menyangka akan menangis sekencang ini, tersedu-sedu, ingusan tak karuan dan jadinya mengundang perasaan menyesak yang paling aku tidak sukai saat menonton sebuah film, mirip perasaan waktu menonton Memories of Masuko. Dan itu yang aku rasakan saat menonton “Senyap”, ya aku tidak menyangkanya. Jika saat menonton “The Act of Killing” atau “Jagal” aku begidik ketakutan, lain halnya saat menonton film dokumenter yang beberapa hari lalu diumumkan masuk nominasi Oscar ini. Ada perasaan canggung, tidak nyaman, sedih, merasa tidak adil dan miris yang menyelinap saat menyaksikannya. Harus ku akui, belum pernah aku menonton film dokumenter seperti ini. Dan mungkin jika suatu hari orang bertanya apa film dokumenter terbaik menurutku, aku akan tanpa segan menjawab “Senyap”. Bukan hanya karena membuatku bersyukur tidak menontonnya secara massal bersama organisasi-organisasi di kampus, melainkan karena “Senyap” memberitahukan aku bahwa dunia ini kabuuuuuur sekali, buram alias rabun seperti mataku. Kenapa? Dari apa yang aku simak, semua pembunuh pas Tragedi 65 yang ada di film ini tidak merasa punya perasaan bersalah. Beberapa diantaranya enggan buat mengungkit-ungkit masa lalu, terus ada rasa tidak nyaman dan canggung yang terlihat dari raut muka mereka saat pertanyaan-pertanyaan tentang tragedi itu muncul. Kabur ya? Sama kaburnya waktu mereka melakukan pembunuhan.
Lalu datang seseorang yang ingin membantu agar “penglihatan” mereka tidak begitu kabur. Sebagian tercerahkan dan sebagian lagi buta, malah ada yang semakin tidak bisa “melihat”. Para pelaku pembantaian itu menuntut sesuatu saat diserang berbagai pertanyaan yang menyudutkan mereka. Apa yang mereka tuntut? Mereka meminta agar masa lalu selalu diingat sebagai kesalahan lampau, kekhilafan dan kebanggan yang sudah sepatutnya dijaga.
Tapi untuk mereka yang harus kehilangan anggota keluarganya oleh”manusia” juga? Gak ada perasaan yang tertinggal selain sakit, kecewa, menyesal, sedih yang bahkan bisa bikin mereka pikun, ompong, buta dan sakit jiwa.

Betapa gak adil, gak adil, gaaaaaak adil.

Aku meringis menontonnya. Ah apa daya ingin mereview film ini dengan gaya yang lebih serius dan pembahasan yang mendalam aku terlanjur “kepikiran” usai menontonnya dan jadi susah merangkai kata-kata. Untuk kalian yang mau menontonnya, bisa unduh di http://www.thelookofsilence.com.

Aku sangat merekomendasikan film ini, asli. It could show you how dark Indonesia’s past it is, how unfair world and people could be daaan bagaimana luka atas kehilangan orang yang dicintai akan selalu membekas.. serta memaafkan itu *sigh* adalah hal yang amat……………….. Mahal nilainya.

Oh iya, aku gak mempercepat film berdurasi satu setengah jam ini. Nggak sedikit pun. Ada sebuah daya dan upaya yang membuatku enggan untuk mempercepatnya. Rasa canggung dan gak nyaman yang disuguhkan film ini setidaknya memberikan gambaran bagaimana rekonsiliasi diantara pembantai yang terlibat di Tragedi 65 dengan keluarga orang yang mereka bantai berlangsung.

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s