Tidak Tahu Diri

Ini ketiga kalinya aku melihat tikus melintas di dekat gang yang menjadi jalan pintas menuju Jatos. Ini entah untuk keberapa kalinya aku melewati pelataran Jatos, tapi tumben, jam delapan malam sunyi senyap seperti tidak ada aktivitas. Ini entah keberapa kalinya pula aku ditawari ojek Jatos, membuatku bertanya, “Mereka gak hafal muka aku ya setelah setiap hari aku jalan lewat mereka dan gak pernah naik ojek mereka?”
Dari tempat aku berdiri, tepatnya saat menyebrangi satpam Jatos, lebih tepatnya lagi di sebrang kedai ayam goreng tepung yang baru dibuka di seberang jalan, aku menghirup dalam-dalam udara Jatinangor malam ini. Ada aroma sate yang tercium, sisanya udara kosong tanpa bau ataupun hawa. Membuatku berpikir, sambil menunduk melihat tanah di dekat ATM BRI; benar kata Teh Lana, kehidupanlah anugerah yang paling mahal dan sifatnya esensial, tidak akan ditemukan asal-muasalnya, penemunya, awalnya, titik nolnya atau segala macam hal pertama lainnya, makanya manusia tinggal bersyukur sebanyak-banyaknya aja, udah cukup. Orang yang seringnya mempertanyakan segala hal; kenapa bisa ada ini di muka bumi, kenapa begini dan begitu, memang layak dijewer karena selalu banyak bertanya
tanpa berusaha menanyakannya sama orang yang ahli, minimal mencari jawabannya dari dalam hati. Ya begitulah kira-kira aku selama ini.

Karena memikirkan hal ini, aku jadi ingat, setiap hari aku selalu memaksakan diri buat inget; dengan adanya aku ini berarti ada penciptanya. Dengan adanya aku ini berarti ada penciptanya. Dengan adanya aku ini berarti ada penciptanya…. dan seterusnya.

***

Karena terlalu sibuk memikirkan ini, aku gak sadar kalo Bang Anton, Mba Arum dan kawannya ada si teras Perpus. Aku malah ngeleos berjalan lurus melewati mereka dan menemukan kedua pintu masuk dikunci. Untungnya sms yang hendak aku kirim ke Mba Arum gak terkirim, untungnya aku membunyikan lonceng di sebelah pintu. Mba Arum kaget sekaligus bingung ngelihat aku dengan polosnya berdiri di depan pintu. Aku juga gak kalah kaget melihat keberadaan Mba Arum yang jelas-jelas aku lewati saat masuk gerbang.

Tapi ada hikmahnya.
Aku jadi dikasih kunci rumah yang selama ini gak pernah dikasih.
Eh, Ya Tuhan, hamba jadi terpikir sesuatu.
Sama halnya dengan aku yang melewati Mba Arum dan Bang Anton, yang jelas-jelas manusia, besar, berbicara dan hidup.
Apakah aku juga melewatkanmu?
Karena terlampau fokus berjalan sambil menunduk?
Mencari-cari dan melamun?
Bisa begitu gak?
Duh, jangan buat aku jadi semakin sulit bertemu hikmah kayak kunci rumah yang dikasih Mba Arum setelah aku ngekost dua tahun di sini ya?

Maaf gak tau diri.

*ditulis beberapa hari yang lalu tapi baru “berhasrat” ngepostnya sekarang*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s