Magazine Reality

Saat mendengar majalah Freemagz dan (katanya) Trax mau gulung tikar, aku termenung. “Beneran ada ya, masa saat majalah gak dibutuhkan lagi?”. Aku merasa sedih karena aku termasuk anak yang tumbuh dengan membeli, menunggu edisi terbaru majalah dan membacanya. Kedua kakak ku juga begitu, kalau gak salah di tahun 90’an – 2000an mereka langganan majalah GADIS. Banyak banget deh jumlahnya dan aku sangat senang membacanya. Ayah aku juga suka baca majalah, dari tahun 80’an ayah aku langganan majalah TEMPO, dan beberapa majalah jadul itu masih di rumah. Cita-citaku pun dari dulu bukan mau menulis untuk koran atau jadi reporter TV, aku selalu pengen nyoba kerja di majalah.

Aku mengalami sendiri gimana perubahan ukuran majalah GADIS dan isinya, pun perubahan tabloid Gaul, pertamakali munculnya Gogirl, ya, aku melihatnya. Sekarang kalo aku baca GADIS, jujur aja aku hanya akan membolak-balikan halamannya saja. Bukan karena udah lewat segmentasinya, tapi kontennya udah ga semenarik dulu dan tipis banget. Waktu jaman Petty S. Fatimah, GADIS selalu ngangkat berita artis lokal dengan porsi yang lumayan gede. Aku inget banget GADIS edisi AADC, yang ngebahas Dian Sastro ampe Denis Adhiswara, proses syuting, trivianya, seru deh. Apalagi saat kakak pertama aku membawa pindah semua majalahnya yang banyaaaaak banget ke kamar aku waktu SMP, wah berasa surga banget, setiap hari aku membuka majalah yang beda dan berkenalan sama nama-nama baru kayak JEUNE. Pada masa itu, aku suka mempraktikan tips-tips yang dikasih majalah, entah itu soal kesehatan, kecantikan, relationship dan kebugaran. Saat belum mengenal internet, majalah seakan menjadi pedoman buatku dan alat buat melihat berita-berita luar negeri.

Sampai saat ini aku masih beli majalah, dan aku mencoba membeli majalah yang belum pernah aku baca kayak HELLO. Sisanya paling aku beli Gogirl!, Cosmogirl atau Cita Cinta. Pas semester kapan ya, lupa, ada momen saat aku ngerasa udah gak cocok lagi sama konten majalah Gogirl dan aku memutuskan buat pindah ke Cita Cinta dan sampai mau langganan. Tapi setelah dipikir-pikir, plus kata si Riki sih mending beli majalah yang beda-beda aja terus jangan ampe langganan biar gak bosen.

Balik lagi soal dua majalah di atas yang katanya mau tutup. Setau aku, Trax itu termasuk majalah yang pangsanya oke dan banyak. Gak nyangka bisa kena demam “senjakala media cetak” juga. Hal menarik yang aku perhatiin, majalah Gogirl yang muncul tahun 2008 (kalo ga salah) masih punya “momen” di kalangan anak muda sampe saat ini. Maksudnya, majalah ini masih jadi trendsetter yang hangat, diincar-incar dan kayaknya umurnya masih panjang. Kalo aku melihatnya, karena si Gogirl! ini selalu berusaha buat jadi yang berbeda dan paling up-to-date. Di awal kemunculannya, aku inget cuma Gogirl! yang jadi majalah dengan ukuran B5 dan dia hadir pas majalah masih anget-angetnya dicari orang. Segmentasi, konten dan packaging yang lebih menarik bikin Gogirl! bisa dengan cepat menyalip majalah-majalah tua sejenis. Gak beberapa lama semua majalah kayak GADIS, Cosmogirl, KaWanku, mengikuti jejak Gogirl! soal ukuran kertasnya.

Dua tahun lalu kakak aku bilang, if you want to be the part of journalism work don’t try to work in print media, which mean, print media nowadays karena gak sampai sepuluh tahunan lagi bakal banyak media cetak yang gulung tikar. Dulu aku iya-iya aja sambil tetep optimis mau ngelamar ke majalah, tapi kalo Trax aja bisa bangkrut.. Trax lho.. Well, lihat nanti deh bagaimananya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s