Maklum

Dipikir-pikir, belum lulus kuliah aja which is belum officialy “berpisah” sama orang ini aku merasa menyesal karena mungkin pertemuan kami gak akan sama lagi. Well, mungkin kami masih berteman dan bertingkah normal seperti dulu tapi ya tahu aja ada yang berubah.
Hubungan aku dan temanku ini semacam love and hate relationship sih. Dibandingkan teman-temanku yang lain, yang masih dengan sabarnya menerima sifat orang ini aku gak pernah melihat dia sama lagi semenjak tingkahnya yang semakin menyebalkan.
Temenku ini selalu menggampangkan urusan pinjam-meminjam, baik uang maupun barang. Buat sebagian temanku hal ini bukan masalah besar karena dia akan mengembalikannya walaupun entah kapan dan buat sebagian temanku semuanya akan dilupakan juga kok jadi sifatnya ini bukan perkara besar. Tapi buatku, bukan jumlah uang atau berharganya barang yang ia pinjam jadi persoalan, tapi perilaku dia saat meminjam dan kesadaran dia saat meminjam itu. Dari yang aku alami, kesadaran dia untuk mengembalikan apa yang ia pinjam hampir gak ada. Tapi ya udah kalau aku sih cukup tau. Berarti aku akan berhenti meminjamkan apapun ke dia karena aku ga percaya lagi.

Kejengkelan aku sama temenku yang ini timbul dan tenggelam. Hari ini sebal setengah mati, besok pagi udah cekakak-cekikik bareng. Pernah suatu hari aku memutuskan buat ga menanggapi perkataan dia ke dalam hati lagi saat aku lagi sedih mikirin kesehatan kakak aku dan dia, ya mungkin dia becanda, bilang “Kenapa nangis, kamu gendutan?”. Dari situ aku memutuskan untuk  bodo amat jika semua temanku masih menerima sikap dia tapi buatku dia cuma “teman” dan aku gak mau terlalu dekat sama dia.

Daaaan rasanya itu jauh lebih baik. Terlalu dekat sama orang ini ternyata cuma bikin aku jengkel, makan hati dan kesel sendiri. Lebih baik kalo aku gak terlalu dekat-dekat dia.

Ada saat-saat aku punya sesuatu yang ingin aku ceritakan ke temenku tapi aku udah takut duluan membayangkan reaksi orang ini dengan segala kata-katanya. Waktu aku jadi freelance reporter di sebuah website bahkan ada aja kalimat gak mengenakan yang keluar dari temen yang satu ini, di saat sebenernya aku gak minta pendapat apa-apa sama dia.

Wah, apalagi waktu aku diet jangan tanya betapa menjengkelkannya kata-kata yang selalu ia lontarkan “Hah? Makan segitu doang?” sambil memasang muka super kaget, pernah juga “Udah turun berapa kilo Fir kok yang ada malah makin gendutan”.

Persetan soal memaklumi dan sabar menghadapi dia. Buatku dia udah ada di level pertemanan yang hanya bikin cape hati. Sempat terlintas untuk menjelaskan pelan-pelan ke dia  kalo nasi itu karbohidrat yang punya kandungan gula tinggi sehingga kalau pun gak diet sebenernya sangat dianjurkan buat mengurangi porsinya saat makan. Aku juga tadinya mau menjelaskan ke dia kalau gak makan nasi itu gak bikin mati. Tapi aku gak punya daya dan upaya buat menanggapi dia. Lagi-lagi aku hanya menyimpan kekesalan di dalam hati, senyum getir karena besok, besoknya lagi dan besoknya masih harus bertemu teman ini dan menelan semua sifatnya yang udah terlanjur dianggap wajar dan harap dimaklumi saja.

Beberapa bulan lalu, temanku ini membatalkan janji yang sudah direncanakan jauh-jauh hari. Rencana yang sudah dia amini dengan suka cita tapi akhirnya kandas jadi pupuk tai kucing, well setidaknya buat dia, karena buatku dan sisa teman lain yang ikut, ketidakhadiran dia sudah sangat dimaklumi bahkan diprediksi.

Dan ajaibnya aku gak begitu kesal atau marah dengan sikapnya ini. Temanku yang lain awalnya kesal setengah mati bahkan sampai menangis menghadap kedai baso Malang tapi akhirnya bersikap biasa aja. Segala amarah yang tadinya meluap-luap dan siap dilontarkan buat temanku ini akhirnya terbantahkan karena kami menjunjung tinggi silaturahmi dan perdamaian. Simpulannya, lagi-lagi temanku ini dimaklumi.

Buatku sendiri? Masa bodo, aku juga udah kenyang maklum.

Memang tulisan ini udah terlampau gak relevam sama kejadian menghilangnya dia kemarin yang masih hangat-hangatnya dibicarakan.

Aku terusik menulis ini saat temanku bertemu dengan si teman yang gemar menghilang ini. Karena lagi buru-buru, jangankan untuk menagih pertanggungjawaban dari hilangnya dia pas liburan kemarin, temanku mungkin gak sempat menanyakan kabarnya.

Itulah hal yang aku sesali. Kami belum wisudaan, eh, magang pun bahkan belum kelar kok rasanya pertemanan aku sama si teman yang satu ini kayak udah ada di fase “sudah lama tidak bertegur sapa karena sudah lulus dan punya kehidupan masing-masing”. Dan karena dia baru melakukan sebuah kesalahan, pertemuan dengan dia pun jadi terasa gak sama lagi aja. Tapi tentu kalau dia minta maaf baik-baik, atau tanpa banyak basa-basi langsung bersikap biasa saja saat bertemu aku atau temanku seolah-olah gak kejadian apa-apa pun, aku bakal biasa aja sih. Ya gimana dong? Memaklumi dia tuh udah seperti menabur royco di setiap makanan yang aku makan. Memaklumi dia tuh udah seperti rutinitas bilang “Gak akan makan gorengan!” tapi besoknya makan bala-bala, gehu dan goreng pisang. Selalu setiap saat, diulang-ulang dan rasanya lama-lama bikin kebal. Sayang kan, kalau semuanya jadi berakhir gak baik-baik padahal ini tahun terakhir? Aku maklum seperti yang sudah-sudah kok, m-a-k-l-u-m, serius! 🙂

-ditulis kemarin-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s