Bobby

Waktu SD, potongan rambut andalanku adalah bob. Gak pernah berubah sampai lulus dan semua temanku memanggil Dora. SMP aku masih rutin memotong rambutku pendek dan paling dilayer aja. FYI (haha), waktu SMP itu pernah aku turun angkot dan anak SD di deket rumah aku nyamperin dengan malu-malu. Mereka bertanya, “Teh, wios naros? Rambutna gaya naon?” atau “Teh boleh nanya, rambutnya gaya apa?”. Aku yang bingung tiba-tiba ditanya spontan bilang “Lazer” padahal maksudnya “Layer”, mereka pun menangguk-anggukan kepala sambil bilang makasih. Kalo inget itu bangga deh bisa jadi trendsetter buat orang lain (pret). Nah pas SMA lah baru aku memanjangkan rambut, yang panjaaaaang banget, lepek lurus, rontok dan bercabang. Sesekali aku memotongnya pendek lalu membiarkannya panjang lagi. Tapi lupa pas kuliah semester berapa ya aku mulai rutin memotong pendek rambutku, rasanya nagih gitu dan ga suka melihatnya panjang dikit. Jadi, tebak, rupanya aku balik lagi ke potongan andalan waktu SD yaitu bob. Kemarin aku minta ibuku buat memotong poniku. Awalnya ibu gak mau karena katanya mau jadi apa pendek banget. “Rambut aku cepet panjangnya,” ujarku sama Ibu. Akhirnya ibu aku mau meotongnya, saat aku minta buat lebih pendek ibuku langsung menggelengkan kepala, sambil ngeleos dan memintaku untuk memungut sisa-sisa potongan rambut.

12552494_927702887326744_984272284_n
Taken by Cendi’s sparkling camera
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s