To Love Unconditionally

Diantara orang-orang yang wujudnya berupa-rupa, sifatnya pasti beraneka ragam, dan punya tujuan yang berbeda-beda untuk naik Damri Leuwipanjang-Ledeng tadi pagi aku menyanyikan lagu “Putih” punya Efek Rumah Kaca, di dalam hati. Lirik-demi lirik aku cermati. Betapa sederhana sekaligus menakutkannya lagu ini karena bercerita mengenai kematian.

Lalu tiba-tiba aku teringat perkataan seorang pria yang aku kenal dengan baik. “Amit-amiiiit punya anak gay,” ujarnya sambil begidik. Aku diam. Aku tidak mengiyakan atau menolaknya. Aku diam karena aku takut akan banyak hal yang tidak pasti akan terjadi di masa mendatang. Aku tidak mau sembrono atau terburu-buru menyimpulkan apakah aku juga siap untuk bilang “amit-amit”? Atau segala bentuk perkataan ketakutan lainnya?

Aku belum siap untuk bilang begitu karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi kelak dan apakah aku siap menerima segalanya. Ya, aku mengulang-ulang perkataan itu di dalam hati. “Apakah kita siap untuk menerima anak kita, kelak, dengan segala kekurangannya?”. Apakah saat seseorang berkata “amit-amit punya anak yang begini atau begitu, ia sudah siap untuk menjadi orangtua yang menerima anaknya apa-adanya? Menerima anak yang tidak sesuai harapannya dan tetap mencintai sepenuh hati?

Karena ya ampun, coba cermati kata-kata “darah dagingmu”. Iya, anakmu kelak adalah darah dan dagingmu. Aku tercekat saat memikirkan ini. Apakah aku siap untuk menerima anak ku dengan segala kondisi dan kekurangannya kelak? Apakah kita siap?

Untuk mencintai anak kita kelak dengan tanpa batas.

Aku bertanya-tanya. Apakah hatiku sudah cukup luas untuk menerima sosok seseorang dengan segala kekurangannya. Menerima seseorang benar-benar secara apa-adanya. Sudah cukupkah? Aku rasa tidak. Tadi pagi aku melihat status seorang ustadzah yang pages FBnya aku like. Semata-mata karena aku butuh mendapat pencerahan dari sosok yang selalu mengedepankan nilai-nilai Islam. Karena aku gak mau menilai Islam sebelah mata seperti yang sebelumnya sering aku lakukan dan yang ada aku malah jadi tersesat.

Ustadzah tersebut membuat postingan panjang. Beberapa kalimatnya membuat aku termenung.

Peluk erat anak-anak kita.. Peluk erat dengan perhatian, cinta dan doa! Biarkan mereka tetap merasa jijik melihat pria berbaju wanita kalo perlu menjerit melihat pria gemulai melambai berlenggak lenggok dengan make up tebal.. Bukan malah terhibur dan tertawa terbahak-bahak biarkan mereka merasa.. Pilihan menjadi LGBT adalah pilihan aneh dan tak populer!

Ya Allah, aku rasa ujian terberat umat manusia itu adalah menerima dan mencintai sesamanya dengan segala kekurangan dan kesalahannya ya, karena sepertinya yang punya kuasa untuk menampung ketidaksempurnaan serta cela setiap manusia, tanpa batas atau luasan memang hanya engkau Tuhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s