Cukup Sih

Tinggal di sebuah kosan yang merangkap perpustakaan berisi ribuan buku, film, dan musik asik serta punya ibu dan bapak kos yang artsy dan humanis abis gak membuat aku jadi sering menghabiskan waktu di perpus tersebut. Aku yang, apalah, pemalu dan suka kikuk ini sebenernya biasa-biasa aja sih kalo masuk kesitu, atau ngobrol ama si empunya perpus. Tapi ya begitulah, sejak terjangkit sindrom susah bersosialisasi yang menimpa ku pas kuliah aku gak punya daya untuk “bercampur”. Kenapa bisa begitu ya?

***
Tadi bapak dan ibu kosanku yang super asik dan cool itu menyapaku, mereka lagi diskusi bareng beberapa seniorku di kampus. Iya, perpus ini emang tongkrongan anak beberapa fakultas gitu. Si ibu kosan bilang lupa nyalain lampu ruangan atas yang berarti aku harus, lagi-lagi, berjalan menebus kegelapan buat sampai di kamar. Tapi selama ada mereka berdua, bapak dan ibu kosanku yang maha cakep ini, tidur di lantai dua, aku merasa tenang dan aman sih. Tanpa perlu bercakap-cakap setiap hari dengan mereka aku sudah merasa cukup sih. Tanpa harus berkunjung ke perpus mereka setiap hari aku juga sudah merasa cukup sih.

Karena ya aku udah dua tahun tinggal satu atap dengan mereka berdua. Jadi ya, cukup-cukup aja sih.

-ditulis malam kemarin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s