Things I Learned About Cooking But I Always Ignored It

Punya kamar mungil entah kenapa membuat aku juga senang menganggapnya sebagai rumah-rumahan dimana aku adalah si empunya rumah lengkap dengan perabotan-perabotannya, dengan segala imajinasi jadi ibu-ibunya termasuk jadi punya kesenangan buat memasak. Waktu kuliah semester awal aku membeli kompor listrik ukuran mungil lengkap dengan pancinya. Praktis banget karena bisa dipake masak mie, telor ampe ayam pun bisa kalo niat nungguinnya, because it’s an electric stove so it won’t be as fast as the normal stove. Imajinasi punya dapur itu semakin aku lengkapi dengan membeli rak empat kotak yang rencananya mau aku jadikan tempat menaruh bahan-bahan makanan seperti telor, cornet, minyak, kecap, saus dan makanan-makanan instan lainnya. Makanya, tempat yang sangat senang aku kunjungi itu bukan mall, bioskop atau gallery pameran, nope! My most favorite places in the world is groceries haha. Entah kenapa aku memiliki kesenangan tersendiri kalo belanja ke supermarket apalagi kalo masuk ke section daging, sayur dan buah. Bawaanya seneeeeeng banget. Makin seneng kalo grocriesnya menyediakan bahan-bahan dari luar negeri yang jarang aku lihat. Aku senang memperhatikannya satu-satu, kayak waktu ke Hero yang di TSM, betapa senangnya aku pas liat deretan bumbu-bumbu yang selama ini cuma aku liat di TV atau aku baca di internet. See? Cita-cita aku tuh simpel dan gak pernah berubah dulu. My dream is I hope I can buy all those vegetables, meat and fruit in that store without hesitates or thinking too much haha.
Tapi dari pengalaman aku sejauh ini, semua makanan yang aku masak hanya berakhir jadi sampah. Pertama karena aku hanya excited membeli bahan-bahannya saja. Kedua karena aku suka masak kebanyakan. Ketiga aku gak punya konsistensi buat rutin memasak so all those ingredients I bought ended up wasted.
Beli sarden ukuran sedeng, karena ga punya alat buat ngebukanya *baru nyadar pas udah di kosan* akhirnya ditusuk-tusuk pake gunting dan jadinya menghasilkan lubang kecil so si sarden pun udah ancur gak berbentuk dan pas dimasak rasanya jadi menjijikan. Akhirnya aku pun membuangnya~
Beli semua bahan nasi liwet lengkap dengan kentang-kentangnya, sereh, salam dan untung gak jadi beli teri karena aku hanya sanggup memasaknya di hari pertama. Sisanya? Aku bawa semua bahan mentah itu ke rumah.
Beli bumbu praktis nasi goreng empat biji karena tergiur dengan rasanya dan berasumsi bahwa semuanya akan lancar-lancar aja pas di masak di magicom. Hasilnya? Nasinya kelembekan dan jadilah nasi goreng gak jelas yang akhirnya dibuang lagi~
Dan barusaaaan, beli sepaket kecil bahan sop-sopan di Superindo dengan asumsi gampang bikinnya dan pasti abis. Tapi ternyataaaaa, benar kata Cendi sepaket sop yang dari penampilannya kayak bisa langsung dimakan ini banyaaaaaaak banget bisa buat empat orang.

image

Huft dan aku udah gak nafsu makan buat memakannya ntar sore atau malem dan.. ya.. sepertinya aku akan membuang 11.000 yang sebenernya bisa aku beliin sop ayam Klaten lengkap pake ayam dan nasi itu. Huft, ya.. perhitunganku soal masak-memasak memang selalu salah. Tapi.. ya.. Aku senang belanjanya sih.. Jadi.. Ya..

*disclaimer
Si sop akhirnya abis karena aku menambahkan kerupuk, jadi yaaa gak buang-buang bangetlah ya..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s