Two Impulsive Days Before September 2016 End

Belakangan aku jadi orang yang sangat impulsif soal makanan. Tanpa ragu aku membeli semua makanan yang aku mau. Bener-bener mengikuti kata hati tanpa mikir sana-sini. Dua minggu yang lalu kalo gak salah, aku menghabiskan 50 ribu untuk membeli segala snack yang pas pertama aku liat di rak-rak langsung membuatku kepengen.

Ah September..

Rasanya ada banyak hal yang membuatku takut dan tenang bersamaan di bulan ini. Contohnya,aku takut aku akan menghabiskan semua snack itu dalam sehari tapi aku juga tenang memikirkan semua snack itu memang buat dimakan juga. Weird.

Di minggu ketiga September keimpulsifan ku terhadap makanan semakin menjadi dan aneh. Suatu malam aku ingin martabak keju. Martabak berasa manis yang tidak pernah aku beli untuk seorang diri sebelumnya. Karena aku kurang suka makanan manis, paling banyak aku hanya bisa menghabiskan 2 martabak berasa manis. Tapi hari itu tanpa pikir panjang aku langsung keluar. Namun sial, martabak di depan kosan Mumut gak buka. Aku yang udah terlanjur ke luar akhirnya memutuskan buat terus berjalan lurus menuju tukang martabak di depan Indomaret dan membeli sekotak martabak keju yang ujung-ujungnya aku buang di hari ketiga *dengan sisa 4 martabak* karena rasanya sudah tidak enak.

Uniknya, hasrat impulsifku terhadap makanan yang ujug-ujug tinggi dibarengi juga dengan kebetulan yang agak lucu. 

Setiap aku menginginkan makanan tertentu dari pedagang tertentu, entah mengapa mereka lagi gak buka.

Contohnya, cerita martabak manis di atas. Pas aku mau martabak keju depan Kosan Mumut, mang penjualnya lagi gak buka.

Tadi pagi, aku yang rutiiiin banget makan bubur ayam depan Kosan Mumut ujug-ujug pengen lontong karinya bukan si bubur. But guess what?

Diantara 28 hari yang ada di bulan September aku tanpa sengaja memilih hari dimana tukang bubur sekaligus lontong kari itu gak jualan. Jadilah aku nyebrang dan beli lontong kari dari penjual yang sekalinya pernah aku samperin pas mau beli kupat tahu buat teman yang menginap setahun yang lalu.

Dan lagi, barusan, aku yang juga jaraaaaang banget mau makan sate ayam depan Kosan Mumut *ya hampir semua makanan yang aku suka ada di depan Kosan Mumut* tiba-tiba pengen sate ayamnya. Tanpa tendeng aling-aling aku pun keluar untuk membeli tapi tebak? Tukang satenya gak jualan.

(Lagi-lagi) terlanjur keluar aku pun tiba-tiba memutar badan di depan Jatos untuk beli martabak telor di depan Kosan Mumut saja, yang untungnya buka. Pas balik badan aku hampir bertubrukan dengan seorang cewek yang mukanya gak asing tapi entahlah siapa.

Sesampainya di tukang martabak aku langsung pesan dan duduk di kursi paling pojok, dekat tempat bikin martabak manis. Di sebelahku duduk seorang bapak-bapak setengah botak dengan jaket kulit hitamnya. 

Aku bersandar ke tembok biru yang sebenernya merupakan bagian dari bangunan pemilik kosan Mumut. Aku memerhatikan si bapak penjual yang sedang menunggu martabak manis pesanan si bapak setengah botak sambil membolak-balikkan martabak telor. Aku melihat lurus ke arah kaca gerobak martabak yang dhias banyak tulisan. Aku liat ke atas, langit Jatinangor gelap sekali tanpa barang satu atau dua pun bintang yang menampakkan diri. Aku liat si cewek yang tadi hampir bertubrukan denganku sedang berjalan ke arah Batu Api lalu balik arah kembali jalan menuju Jatos.

Ah benar dia temanku! Teman yang ujug-ujug minta aku buat berangkat ke kantor magang dengan mobilnya tapi selepas itu she even hardly say hello to me at the campus.

Aku melihat satu, dua, tiga sampai sepuluh orang berjalan melewati gerobak martabak ini. Aku melihat Aa’ ayam di sebelah kanan sedang menggoreng beberapa sate usus dan kol. Lantas aku melihat ke bawah.

Enak sekali duduk di kursi ini, bersandar dan melihat semua orang lalu-lalang tanpa mereka sadari ada seseorang yang memerhatikannya.

Aku suka tempat duduk ini. Aku senang bersandar ke tembok ruko milik ibu kosan Mumut. Aku tidak pernah tahu tempat duduk di tukang martabak yang terletak di pojokan ini begitu nyaman. Nyaman bukan main sampai-sampai membuatku menarik nafas dalam-dalam dan tenang seketika. Dan aku suka perasaan semacam itu. Pasti si bapak penjual martabak juga senang kalo menunggu pelanggan sambil duduk di kursi ini.

Entah aku yang nyender ke tembok sambil menggoyang-goyangkan kaki *padahal itu kebiasaan* atau memang si bapak penjual sudah merencanakannya, martabak telor pesananku dikasih duluan, bukannya ke si bapak setengah botak.

Duh padahal aku gak maksud ngeburu-buru si bapak.

Sehabis bayar aku jalan ke arah kosan yang jaraknya kurang dari 50 meter. Perpus masih dipenuhi beberapa orang. Ruang tengah lagi kosong dan kamarku penampakannya sama seperti hari-hari sebelumnya.

And suddenly some random thought popped out from my head.

Whoa, some things always change and some things it’s still “on their place” when the day is always changing. Something missing and something appear everyday as we continue our life. We’re moving.

Aku sadar akan hal itu, tapi aku baru bener-bener “ngeh” akan hal itu saat sampai di kamar barusan. Saat ingat:

Bulan lalu aku bahkan gak pernah terpikir untuk makan makanan manis but suddenly sebulan kemudian aku membeli sekotak martabak keju super manis dari penjual martabak yang jarang aku “jamah”.

Biasanya dari Senin-Minggu bapak penjual bubur selalu buka ternyata hari Rabu ini dia memutuskan buat gak buka, sama halnya dengan si tukang sate.

Si teman yang beberapa bulan lalu mengajakku buat berangkat ke kantor dengan mobilnya, beberapa bulan kemudian saat ketemu di kampus bahkan hampir tidak pernah menyapaku duluan.

And this is September. What do you think will happen on October, November, December and so on? What will stay and disappear in the next one or two or five months?

Hmm, beberapa teman SMA ku akan wisuda? Beberapa temanku yang sudah lulus mungkin mulai pindah ke Jakarta. Mungkin ibu kosku bakal mengadakan acara nonton bareng film-film buatan Stanley Kubrick. Mungkin Riki akan berhenti ngegym. Mungkin warung sate padang yang bari buka di sebelah kosanku tutup. Entahlah?

But isnt it the changing of life that will always surprises us? It’s hurt and sad and scary yes, sometime, to know that you’re not the same person as yesterday or even your favourite fried chicken seller has changing their special sauce. Or basically to know that nothing is everlasting and you are the part of the changing.

But it’s the law of life. We’re human just a tiny part of the whole scenario life has made.

Aku gak tau kalo pengalaman duduk di kursi tukang martabak tadi bisa membuatku berpikir sejauh ini but yeah pada dasarnya aku emang suka over analyzing akan banyak hal sih hehe. But I won’t lie that the little contemplation I did makes me smile and thinking:

I better enjoy everything while it last.

Impulsive!

🙂

Ditulis 28 September 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s