Satu, dua Penasaran

Kemarin dapur rumah dipenuhi berbagai macam makanan mulai dari ketan goreng, pisang rebus, aneka kerupuk hingga semur jengkol. Kemarin memang ada acara, lebih tepatnya di vila dekat kebun bapak aku di Cibeubeur. Bapakku baru saja menyelenggarakan acara reuni dengan teman-temab fakultas hukum angkatan 79nya. Sebenernya teman-temannya itu yang memaksa untuk disiapkan acara reuni di Ciwidey. Bapak bahkan diundang ke grup WA teman-teman kuliahnya itu. Namun, lantaran banyak urusan, baru kemarin niatan itu terlaksana. Sesampainya di rumah aku melihat kiriman-kiriman foto acara reuni di grup WA tersebut. Rata-rata sudah bermuka tua seperti bapakku namun gayanya amat kekotaan, ya tipikal ibu dan bapak kantoran. Ibu bilang hampir semua teman bapak yang datang memegang jabatan tinggi. Diantara mereka bahkan ada yang mengendarai Alphard, ibu bercerita dengan nada masam lantaran saat acara reuni itu berlangsung mobil sedan bapakku mogok lagi. 

Mungkin bapak sempat malu atau kepikiran dengan peristiwa mogok itu atau bisa saja masa bodo. Aku tidak tahu, tapi aku menerka-nerka di malam hari sehabis acara reuni pasti bapak memikirkan banyak hal di tempat tidur. Pasti pikirannya mengingat-ingat masa kuliah dan lucunya takdir miliknya sekarang.

Bapak yang pas SMA dan kuliahnya terkenal kaya, paling terdepan soal koleksi motor, dikenal senang menraktir teman-temannya dan dikenal playboy sekarang menjadi pria paruh baya yang setiap subuh ke sawah, memakai kaos dan kolor belel, kulitnya terbakar dan banyak menghabiskan waktunya di rumah. Aku juga tidak tahu kenapa bisa seperti itu.

Dari yang ku dengar, bapak memang tidak ada niatan  kuliah hukum. Kakek ku yang juragan sawah dan tanah di Ciwidey memang sempat menyekolahkan beberapa anak tertuanya ke Bandung. Bahkan salah satu pamanku yang sekarang seorang petani adalah alumni SMA 3. Entah benar atau tidak, kuliah yang bapakku jajal konon hanya formalitas saja untuk mendapatkan gelar karena ia dan pamanku itu malah pulang ke Ciwidey untuk membantu menggarap sawah kakekku.

Jadi bapakku bukan pengacara apalagi hakim. Dia petani yang punya buku super tebal berisi nama-nama jenis sayuran. Dia petani yang pernah menanam kol, bawang, tomat, kentang, wortel, stroberi dan sayuran lainnya.

Kadang aku penasaran dengan apa yang bapak rasakan dan bapak pikirkan dengan pilihannya atau takdirnya  di masa tua ini. Apakah bapak merasa sedih dibanding teman-temannya yang sukses? Apakah bapak pernah merasa minder? Apakah bapak pernah menyesal? 

Aku tidak tahu. Tapi yang aku tahu bapakku itu beruntung sekali sebenarnya. Ia punya pekerjaan yang tidak pernah membatasi gerak-geriknya. Ia punya banyak waktu luang untuk menonton TV atau liburan kalau mau. Ia tidak pernah dipusingkan dengan berbagai berkas atau orang-orang yang menjengkelkan dan ia punya pekerjaan yang tak kalah hebat dan penting dalam memberikan manfaatnya bagi orang sekitar.

*sudah ditulis lama

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s