[Wawancara]: HMGNC

Untuk melihat versi published nya silakan klik disini.

Rabu (9/9) lalu, NuArt Sculpture Park Bandung ramai dipadati oleh para Savior, sebutan bagi penggemar grup elektronik asal Bandung bernama Homogenic yang belakangan ini mengalami perubahan gaya penulisan menjadi HMGNC. Usai vakum dua tahun lamanya, Amandia Syachridar (vokal), Dina Dellyana (synth dan programming), serta Grahadea Kusuf (synth dan programming) akhirnya kembali hadir dengan merilissinglebaru di setiap bulannya.

Mundur ke bulan April, “Today and Forever” menjadi single pertama dari album mini yang rencananya akan dirilis utuh pada akhir tahun. Belum lama ini, mereka juga melemparkan “Memories That Last a Dream” secara gratis melalui situs Rolling Stone Indonesia.

Setelah dua tahun “menghilang” lantaran kesibukan masing-masing personelnya, HMGNC kini hadir dengan warna musik yang baru dan mengubah format lama band set ke digital set.

Transisi tersebut dibarengi dengan dibuatnya album remix untuk setiap single tersebut. “Today and Forever” pun menjadi lagu pertama yang di-remix, melibatkan sembilan musisi elektronik lain yang masing-masing adalah Andezzz, Avonturir, Android18, DTX, Mardial, Muztang, Noel G (Amerika), OSGD, dan Random.

Penampilan HMGNC pada gelaran pesta rilis single kedua sendiri dimulai pukul delapan malam setelah sebelumnya para penonton disuguhi musik dari DJ-DJ yang tergabung dalam kolektif Papermoon dan grup musik elektronik Kota Kembang beridentitas Colorfast. Tampil di atas panggung sederhana dan berhasil menjalin suasana intim nan hangat bersama para penonton pada malam itu, HMGNC turut membawakan lagu-lagu dari album sebelumya seperti “Destiny” dan “Happy Without You”, serta tentunya single terbaru “Memories That Last a Dream”.

Sementara Amandia tengah sibuk dirias, Rolling Stone berbincang dengan Dina dan Grahadea beberapa saat sebelum mereka naik ke atas panggung.

Ada cerita di balik lagu “Memories That Last a Dream”?
Dina: Liriknya sebenarnya bercerita tentang soal sulitnya move on dari masa lalu. Jadi mungkin harusnya dibikin cerita, ini tuh lagu tentang apa sebenarnya? [tertawa]
Grahadea (Dea): Iya, ini sebenarnya lagu pertama yang kami bikin dan sudah jadi setelah lama banget nggak bikin lagu. Sedangkan yang kemarin, “Today and Forever”, malah yang digarap belakangan. Nah, kalau yang ini sudah beres dibikin setelah lama banget vakum.

Lalu kenapa merilis “Today and Forever” dulu dibanding lagu yang ini?
Dea: Menurut kami, ini lagu yang paling kontras dengan “Today and Forever”. Targetnya beda. Kami memang ingin ambil pendengar yang berbeda-beda untuk saat ini. Ada pertimbangan seperti itu juga. “Memories That Last a Dream” beda lagi pendengarnya. Jadi influence-nya beda lagi. Nah karena lagu ini kontras banget dengan yang kemarin, akhirnya kami memutuskan untuk rilis ini. Lagu yang ini tuh lebih galau karena bercerita tentang seseorang yang nggak bisa move on. Lagunya juga disiapkan buat musim hujan [tertawa]. Pas buat menemani masa hujan. Kebetulan lagu ini jadi lagu yang paling banyak melalui proses aransemen berulang-ulang kali.
Dina: Iya, “Memories That Last a Dream” jadi lagu yang palling susah diaransemen.

Kenapa sangat susah diaransemen?
Dea: Karena kami sudah lama [vakum] ya. Tahu sendirilah kalau band sudah lama nggak mengeluarkan album, pasti maunya banyak banget kan? Ingin kayak begini, begini, begini. Segala macam. Sampai akhirnya kami bikin sesuatu yang bisa buat kami merinding dan itu adalah hasil dari lagu ini.

Apa yang membuat kalian mantap dengan aransemen lagu “Memories That Last a Dream” yang sekarang?
Dina: Ini versi yang sukses bikin kami merinding, lalu kami juga minta respons dari teman-teman juga. Kami vakum lumayan lama, otak kreatif pun lumayan tumpul jadi kami semacam perlu pengakuan: lagu ini cocok nggak sih? Mungkin soal masalah percaya diri atau karena sudah lama nggak tampil juga ya, jadi kami butuh diyakinkan saja. Kami tanya teman-teman, terus mereka respons, “Sudah mantap nih.” Akhirnya kami pun yakin dengan pilihan yang ini.

Apakah single ini bakal di-remix oleh nama-nama yang sama saat membuat remix “Today and Forever”?
Dina: Sekarang sudah sebar-sebar lagi tapi banyak musisi yang baru juga. Biar nggak sama dan ada nuansa yang beda dengan remix lagu “Today and Forever” kemarin.
Apa saja pertimbangan yang digunakan agar lagu HMGNC bisa di-remix oleh musisi-musisi tersebut?
Dea : Dulu sebenernya waktu album ketiga kami juga pernah bikin proyek remix seperti ini. Jadi kebetulan semuanya tanpa sengaja. Sebenarnya orang-orang juga sudah, “Eh, gue remix dong.” Mereka menawarkan diri, terus kami juga tahu kalau tren musik elektronik memang begitu. Sudah lumrah banget saling me-remix lagu, subgenre-nya juga sebenarnya banyak banget. Jadi kami coba angkat buat pendengar yang lebih luas saja, supaya anak-anak dengan subgenre musik elektronik lain bisa masuk. Tapi kebanyakan sih teman-teman sendiri juga yang me-remix “Today and Forever” kemarin.

Apakah di luar itu siapa saja boleh terlibat untuk me-remix single terbaru HMGNC?
Dea: Boleh sih, cuma kami dengar dulu Soundcloud-nya. “Ini masuk nggak? Bisa dipakai nggak?” Kalau sesuai dengan yang kami mau, bisa-bisa saja kok. Jadi sebenernya kami subyektif banget sih.

Ada alasan selain kesibukan kalian masing-masing yang membuat HMGNC baru memutuskan comeback tahun ini?
Dina: Sebenarnya bikin empat album itu nggak tahu kenapa ya, bikin otak jadi mentok. Nggak tahu mau bikin apa lagi dan agak kesulitan juga memikirkan lagu yang cocok dengan pendengar kami sekarang. Cuma kami memang selalu menulis banyak lagu, walaupun kami nggak puas terus. Jadi akhirnya kami memutuskan untuk bikin single saja; karena kalau nggak puas-puas, kapan albumnya bisa jadi? Jadi sekarang ini kami lagi mencoba untuk ‘satu lagu dilempar dan lihat reaksi, satu lagu dilempar dan lihat relaksi.’

Ada perasaan beban karena sudah sukses merilis tiga album?
Dina: Ada. Cuma kalau diperhatikan, tiap album itu punya mood yang berbeda-beda juga. Pada akhirnya sih pasti akan sesuai dengan fase yang kami jalani saat itu juga. Semacam ada pendewasaan otomatis. Nggak bisa dipungkiri kalau ada orang-orang yang beranggapan bahwa lagu kami yang sekarang itu seharusnya lebih mature, dan berbagai ekspektasi lainnya. Bakal selalu ada perasaan beban dan tegang kayak begitu.

Apa yang membedakan album mini ini dengan ketiga album sebelumnya?
Dina: Jauh lebih dipikirkan lagunya seperti apa, orang suka lagunya apa nggak, flow lagunya seperti apa, sound-nya seperti apa. Lagu ketiga yang akan dirilis nanti juga sudah dipersiapkan. Kalau untuk lagu yang ketiga suasananya lebih R&B, mirip dengan lagu yang sekarang. Jadi kalau lagu yang ini sukses, mungkin lagu yang ketiga kurang lebih sama. Tapi seperti yang tadi sudah dibilang, beda banget dengan”Today and Forever”, jadi agak deg-degan sama reaksi orang-orang. Syukurnya, sejauh ini reaksinya oke karena yang “Today and Forever” mood-nya masih HMGNC banget. Semoga yang ini bisa lebih.

Apakah kondisi berkeluarga banyak mempengaruhi inspirasi dan pembuatan album mini ini?
Dina: Pengaruh banget, jadi lama kalau produksi lagu. Fokusnya terbagi dan dari segi mood liriknya lebih to the point, nggak muluk-muluk lagi. Dulu kan kami bikin lirik lagu yang gantung-gantung [tertawa]. Lagipula ini album mini, jadi hanya bakal ada empat sampai lima lagu. Kami bikin lagu dengan perasaan yang lagi menempel pada saat itu juga. Kayak, “Wah, ini gue banget nih.” Inspirasinya juga bisa dari sekeliling, seperti curhatan karena gagal move on yang akhirnya jadi lagu kedua ini.

Apakah ada cerita di balik diajaknya kembali Arya Harditya untuk menjadi produser album remix HMGNC?
Dea: Dia itu jagoannya. Dia juga sangat paham dengan teknis dan wawasannya lebih luas. Menurut kami, dia adalah orang yang tepat buat mewadahi karya-karya remix itu. Dia paling tahu apa yang harus dibetulin dan nggak. Kami butuh masukan teknis semacam itu karena kadang-kadang suka males kalau tiba-tiba harus merombak lagi. Kalau dia. bisa langsung kasih masukan yang benar-benar cocok untuk lagu itu.

Apakah “Memories That Last a Dream” sendiri sudah masuk tahap untuk di-remix?
Dea: Sudah, tapi belum ada satu pun yang fix karena kami ingin santai saja. Nggak mau buru-buru. Kalau kemarin kan kebanyakan tuh yang masuk [tertawa]. Padahal sudah banyak yang ditolak-tolak lho. Jadi untuk yang sekarang bakal lebih sedikit dan santai biar semuanya matang dan sesuai dengan yang kami harapkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s