2 Hari Sebelum 22

Alhamdulillah saat menulis ini aku baru menyelesaikan telaah teks penelitian skripsi yang molor lima hari karena terlena buat nonton The Lobster, L.A Confidential, Detective Conan; The Darkest Nightmare sama pulang ke Ciwidey tiga hari. Mengamini kata-kata seorang artis (lupa nama siapanya) yang dipost oleh salah satu akun Instagram favoritku @_nitch: “Do something, even the small thing” aku pun jadi gak begitu pemalas dibanding bulan September lalu. Sedikit semi sedikit ku kerjakan skripsi yang masih berbentuk mentah, berantakan dan masih harus melalui rangkaian revisi itu, meskipun sempat “bolos” beberapa hari, khilaf keasyikan nonton tiga film yang kusebutkan di atas dalam satu hari. Ku merenung “pokoknya sekecil apapun itu, lebih baik mengerjakan daripada tidak sama sekali!” Yeay, terimakasih pria yang quotenya dikutip @_nitch itu!

Oktober dibuka dengan Riki yang ribut sekali bicara soal temannya yang lagi berusaha balikan sama mantannya. Hampir setiap hari yang dia omongin itu mulu. Aku menyimak namun seringnya lost di tengah perbincangan karena memikirkan hal lain. Selain itu Riki juga mulai nanya pertanyaan yang selalu dia lontarkan di bulan Oktober; “Mau hadiah apa?”

Oh iya, sudah Oktober! Bulan kelahiranku! Bentar lagi ulang tahun! Bentar lagu 22 Tahun!

Perbincangan soal perayaan ulangtahunku pun bergulir. Aku senang karena Riki seolah-oleh menjelma jadi Santa Claus kalau hari ulangtahunku tiba. Dia mengiyakan semua yang aku mau, entah itu hadiah, mau ketemu dimana, mau makan apa, mau dijemput dimana. Semuanya diamini. Tak jarang dia menerorku dengan pernyataan “Mau apa? Harus ada pokoknya! Harus ada!”

Kalo Riki adalah Furukawa Yuki aku sudah pasti curiga dia mendadak baik karena selingkuh haha. Tapi karena Riki yang ku kenal tidak memiliki ketampanan maha agung seperti Furukawa Yuki aku tidak memikirkan yang aneh-aneh soal tingkahnya yang jadi amat baik. Bukan karena dia tidak tampan, lha orang sehari-harinya emang baik seperti itu? Jadi tidak ada bedanya sih, Hmm, mungkin bisa dibilang kebaikannya meningkat 10 % persen saja dibanding hari-hari biasa kalau aku mau ulang tahun.

 

furukawa-yuki-1987-12-18-2587_27107_large
Mas Furukawa, tolong gantengnya dikontrol dikit ya!

 

Aku yang sebenernya ingin memanfaatkan “kesempatan” ini untuk meminta barang-barang yang aku mau entah kenapa jadi suka bingung sendiri sampai gak bisa jawab mau apaan. Apa karena ada banyak hal yang aku mau jadi aku gak mau rugi ya? MUAHAHA. Si Riki yang kayaknya tahu problematika aku ini mendadak jadi seperti seorang bapak yang bilang ke anaknya buat bebas mau masuk IPA atau IPS.

“Pokoknya apapun boleh, bilang aja. Kemaren bukannya mau masker itu?”

“Nggak deh Ki, sayang itu mahal di ongkir Koreanya kalo beli masker. Hmm.. ini aja deh aku mau Bioderma”

“Beli dimana tuh?”

“Tokopedia Ki, pake akun aku aja ntar”

“Itu masker? Boleh ntar kasih tau yang mana ya”

“Kayak pencuci muka gitu Ki, iya udah aku masukin wishlist sih di Tokopedianya haha”

“Haha iyaaaaaa”

“Tapi yang 100 ml aja ki biar murah”

“Yang gede emang berapaan?”

“300 ribu gausah takut ga kepake juga kalo yang 100 ml cuma 100 ribuan”

“Oke Beeeeeeem”

Tapi seperti tipikal Firda yang bisa berubah pikiran dalam hitungan detik. Aku pun gak jadi minta itu karena takut gak cocok sama kulit aku apalagi lagi jerawatan gini, hasrat untuk mencoba produk baru sepertinya harus ditahan dulu *walaupun otak udah mikir mau nyoba ini itu*. Aku mengutarakan sebuah ide pas banget Riki baru bilang dia mau ngegym sambil beliin si Bioderma itu

“Ki gak jadi deh Biodermanya kayak gak penting”

“Beneran? Ini aku udah mau keluar lho”

“Kayak biasa aja yuk, beli hadiahnya bareng aja pas ketemu”

“Boleh, boleh! Gitu aja yuk”

“Yuk ke Ciwalk aja deh ke Guardiannya atau ke Watson” *tetep maunya liat-liat skincare*

“Ayoooook”

“Tempat makannya terserah aku yaaaaaa muahaha”

“Iyaaaaa”

“Mau fotobox juga”

“Iyaaaa”

“Mau mahkota sama balon”

“Dih apaan wkwkwk”

Si Riki tau aja bagian yang bohongannya.

“Ke Togamas Supratman dulu yaa”

“Ngapain?”

“Nyari Gogirl baru di Nangor gak adaaa”

“Okeee. Kalo ke BEC dulu mau gak benerun HP aku?”

“Gak mau”

“Akakakakak gak mau diganggu banget ulangtahunnya”

“Gak mau hahahaha lagian nyadar gak sih setiap aku ulang tahun kita ke ada bagian ke BEC nya mulu KI males ah”

“Oh iya ya wkwkwk”

Urusan soal beli membeli hadiah pun beres. Akhirnya, seperti 3 tahun sebelumnya kami memutuskan untuk membeli hadiah ulangtahunnya barengan aja. Dua tahun awal jadian, aku ama Riki masih saling suka kasih kejutan gitu tapi makin sini makin gak punya ide dan merasa lebih praktis beli bareng aja wkwkwk sedih. Tapi secara gak sengaja itu jadi kayak kebiasaan sih dan aku senang kayak gini walaupun gak menolak kalau tahun-tahun selanjutnya hadiahnya bersifat rahasia *kode*.

Beberapa hari kemudian Riki tiba-tiba membuka percakapan di telefon dengan mengutarakan sebuah ide.

“Beli kue yuk”

“Hah kamu aja aku beliin kue gak mau”

“Wkwkwk, iya sih. Tapi sekali-kali aja ke Cizz yuk”

“Hmm yakin?”

“Iya sekali-kali ini”

“Gila kita terakhir ke Cizz pas SMA dan pas sekali itu doang”

“Oh iya, yang bawahnya kue Mari itu” *Riki merujuk ke cheesecake yang lapisan bawahnya terbuat dari adonan bubuk kue Mari crunchy enak ala Cizz.

“Hooh itu enak Ki. Eh kemaren kan kakak aku bawain itu lupa. Enak Ki ada ukuran yang lebih gede dari satu slice sih tapi kayaknya sayang deh orang pas kita beli cheesecake Breadtalk juga gak abis giung”

“Iya juga sih, tapi kalo mau kue bilang ya. Terus kalo kita ke Cizz mesti nyoba yang baru!”

“Aku malah mau molen Ki”

“Wih iya, Kartika Sari?”

“Hooh, yang ada keju sebatangnya di tengah”

“Iya, iya itu enak!”

“Itu andalan keluarga aku Ki kalo ke Kartika Sari pasti beli itu doang gak pernah beli yang laen”

“Iya sama, tapi kalo ayah aku biasanya beli yang roti panjang gitu apa ya namanya”

“Cheese Stick?”

“Bukan, apa ya pokoknya itu juga enak”

“Gatau ah. Eh inget gak pas SMA kita beli macaroon kesitu? Akakak dipikir-pikir gaul banget ya jajan macaroon”

“Oh iya terus mahal gitu satunya, 5000 apa ya?”

“Iya makanya beli dua doang terus rasanya biasa aja ternyata”

“Molen aja yuk”

“Ayuk kalo ternyata sekotak murah bagi dua aja yuk”

“Ayuk, ayuk!”

“Kamu ngomong gitu karena sekarang lagi lapar ya?”

“Iya wkwkwkwk belom makan siang”

Note: Makasih Ki telah membuatku merasa jadi Incesss Syahrini setiap Oktober datang. Ditunggu hadiah-hadiah selanjutnya. Dan semoga kamu mampu mengakomodir keinginanku untuk perawatan kulit yang super mahal atau paket trip ke Islandia suatu hari nanti. *evil laugh*

Selain perbincangan sama Riki, aku gak punya pikiran-pikiran lain soal ulangtahun ini atau soal perpindahan usia dari 21 ke 22 ini. Rasanya biasa aja. Beda sama ulangtahun ke-20 dimana aku membuat tulisan yang sangat bitter dan agak depresi di tengah malam dan menangis gak jelas atau usia 21 yang aku tulis panjang lebar dengan cerita ini dan itunya, aku gak punya banyak hal yang pengen aku ungkapkan menjelang pergantian usia ke-22 tahun ini.

Aku malah agak sedih harus berpindah dari usia 21. Aku suka sekali angkanya dan aku suka sekali memikirkan usia 21 kapanpun, dimanapun. Maksudnya, usia 21 tahun terasa spesial karena sedikit-sedikit kalau aku baru mengalami satu hal aku suka bergumam “Ah, twenty one.. Gini amat..”. Sering sekali kata-kata itu keluar dari mulutku. Aku yakin 100% kalau usia 21 tahun adalah umur yang sangat spesial dan berkesan buatku dan rasanya sangat berpengaruh juga which mean sejak Oktober 2015 sampai Oktober tahun ini, ya? Pokoknya kalo udah tua ditanya usia berapa aja yang menjadi masa-masa paling berkesan dan membentuk diri Anda sekarang aku pasti bakal menjawab usia 21 tahun. Tapi setiap mau menuliskan perasaan itu aku suka kehabisan kata-kata dan lebih memilih menyimpan spesialnya usia 21 di pikiran saja.  Susah ya rupanya menuliskan perasaan itu, unexplained pokoknya mah.

Pokoknya di usia 21 juga dua doa aku terkabul. Satu masih harus melalui proses panjang tapi sudah mulai terjadi dan satu lagi mulai terwujud secara pelan-pelan. Alhamdulillah, duh spesial bangetlah usia 21 tahun tuh macam martabak telor San Fransisco pake 5 telor bebek yang harganya selangit!

Nah tapi ya, untuk membuka usia 22 tahun ini aku gak punya banyak unek-unek, gak punya banyak prolog, gak ngerasain apa-apa juga selain seneng karena tahun ini masih dikelilingi orang terdekat, masih bisa nonton banyak film, masih bisa dengerin banyak lagu baru, masih bisa makan makanan yang aku suka, masih bisa bepergian, masih bisa tidur-tiduran doang di kamar seharian selama satu minggu straight, masih bisa naik Damri dan berjuta-juta hal lainnya yang dengan baiknya Allah berikan ke aku dan terkadang aku suka gak bersyukur akan itu. Ya, gak tau tapi kalau soal jerawat. Aku masih mencari sisi positif dari kemunculan jerawat akhir-akhir ini. Semoga aja ketemu siapa tau emang ada faedahnya, amin (?)

Terus, terus apa ya.

Duh aku gak tau. Mungkin keseruan, pahit, manis, asin, asemnya 22 tahun baru bakal terasa di dua, tiga atau sepuluh bulan ke depan ya? Untuk sekarang, tepatnya dua hari menjelang hari pergantian itu aku merasa biasa saja. Lebih tepatnya merasa kosong, hampa, tenang dan berdarah-darah karena sedang haid.

Jatinangor,

18 Oktober 2016

8: 52

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s