Semangat Baja GoGoJiLL

Sebuah kompetisi menjadi kejutan menyenangkan dan celah untuk tampil di industri musik.

Oleh Firda Fauziyyah

aa
Foto: Risma

Keinginan bermain musik yang menggebu-gebu dan angan untuk dikenal banyak orang pernah mengantarkan vokalis Bimbi Sukma Dewi, penggebuk drum Weny Puspita Yanti, pemain bas Ayis Maresya Ramadhan, dan gitaris Yunita Purnamasari kepada kerasnya Jakarta. Tawaran untuk tampil di Jakarta malah membuat mereka mendarat di sebuah kamar sewa berukuran kecil, terluntang-lantung dengan uang pas-pasan beserta segala hal yang telah mereka persiapkan dengan baik. Mereka memutuskan untuk kembali ke Surabaya dan tidak lagi membuat cita-cita yang muluk bagi karier bermusik mereka.

Setelah kejadian tersebut, mereka menjadikan musik bukan sebagai pekerjaan. “Dulu ambisi kami besar sekali, berpikirnya masih polos. “Ah, kita nanti kalau sudah di Jakarta akan begini begini.” Saat gagal, akhirnya kami memutuskan untuk di Surabaya saja. Bikin lagu yang kami ingin, tidak usah banyak tujuan lagi seperti dulu. Kami kehilangan tujuan dan tidak seambisius dulu,” ujar Weny atau lebih akrab disapa We saat berkunjung ke kantor Rolling Stone pada Agustus lalu.

Bimbi dan Ayis tampil dengan potongan rambut pendek berwarna-warni, sementara rambut panjang Yunita dan We diberi sentuhan warna ungu dan coklat. “Ini nggak jauh berbeda dengan penampilan sebelumnya sebenarnya, hanya sekarang ada stylist khusus yang mengarahkan gaya kami semua,” ujar Bimbi.

Jauh sebelum bergabung di GoGoJiLL, Bimbi, We, Ayis, dan Yunita sudah punya grup musik masing-masing. Namun pertemanan yang telah terjalin di antara mereka sendiri sudah berlangsung enam tahun. “Kami ini sekampus beda jurusan. Bimbi dan aku kuliah manajemen, Ayis di akuntansi, dan Yunita kuliah kedokteran,” ujar We yang kerap meramaikan perbincangan hari itu.

 

Mengusung misi pembawa semangat bagi kaum perempuan, nama GoGoJiLL dipilih sebagai ungkapan untuk menyerukan rasa semangat itu. “Jill” dipilih karena memiliki arti “anak perempuan” dalam bahasa Latin. Mereka kemudian memulai perjalanan bermusik di Surabaya secara mandiri, mulai dari rekaman, produksi lagu, hingga perilisan album.

Menurut keempatnya, pada saat itu hal terpenting yang perlu ditekankan adalah penyebaran musik GoGoJiLL meski tidak tahu langkah apa yang diambil agar musik mereka banyak didengar orang.

“Dulu kami mengurus semuanya sendiri. Rekaman pakai uang sendiri, jadi produser lagu sendiri, apa-apa ya sendiri,” ujar Bimbi. “Semaunya kami, bikin musik yang menurut kami enak. Namanya juga masih belum banyak mengerti,” tambah Ayis.

Semangat untuk bermusik itu belum surut sekalipun mereka pernah mengalami penipuan. Di sela-sela kesibukannya kuliah kedokteran, Yunita masih meluangkan waktu untuk berlatih. Ayis dan We juga masih menyempatkan untuk rutin berlatih dengan kondisi harus bekerja kantoran pada malam harinya.

Mereka mulai belajar bahwa tak bisa senaif itu untuk meraih karier cemerlang di industri musik. Maka saat mereka telah mantap menjadikan musik sebagai kesenangan tanpa tujuan, ada rasa lega di benak keempatnya karena tidak perlu mengejar ambisi-ambisi seperti dulu. Sekaligus timbul rasa penasaran: Akankah karier bermusik mereka hanya bergerak sampai di situ?

Rasa itu akhirnya terjawab saat mereka menghadiri sebuah acara promosi merek kopi di Surabaya. Karena pembuat acara itu adalah teman dekat mereka, mereka ditawari untuk tampil. “Kami kaget waktu itu tiba-tiba disuruh tampil padahal kami tidak bawa alat-alat. Akhirnya mengambil alat musik di rumah Yunita. Kami tampil setelah pengisi acara resminya selesai, dan syukurnya orang-orang belum pergi. Setelah itu ada beberapa orang yang menawarkan diri untuk menjadi manajer. Mungkin ada empat orang yang hari itu menghampiri kami,” ujar We.

Salah satu di antara mereka adalah Widiasmoro. Widi menawari GoGoJiLL untuk mengikuti kompetisi. “Kita ambil tawarannya karena dia juga nggak minta imbalan apa-apa,” imbuh We. Tak disangka, pertemuan dengan Widi malah mengantarkan mereka lolos di dua kompetisi sekaligus; salah satunya adalah Guinness Amplify Talent Development 2014. Sampai saat ini mereka belum kembali bertemu dengan sosok yang telah mendaftarkan mereka ke kompetisi tersebut.

“Padahal kami nggak pernah terpikir untuk ikut lomba,” kenang Ayis. Widi mengirimkan single dari album mini GoGoJiLL, Biarkan. Awalnya mereka harus bersaing dengan 200 peserta, setelah itu disaring menjadi 30 besar. GoGoJiLL lolos ke tahap empat besar dan keluar sebagai pemenang kompetisi tersebut.

Mereka pergi ke Jakarta selama satu minggu untuk mendapatkan bimbingan dari para mentor, yaitu antara lain Adib Hidayat dari Rolling Stone Indonesia, Indrawati Widjaja dari Musica”s Studio, dan produser peraih lima Grammy Awards sekaligus produser U2 dan The Killers, Steve Lillywhite.

“Bukan kami yang “menyuguhkan diri”. Kami berangkat ke Jakarta mengikuti sesi mentoring bersama dewan juri di Jakarta,” ujar Bimbi. Mereka memulai semua dari awal, namun kali ini dengan bekal yang pasti karena mereka ditangani oleh orang-orang berpengalaman. Lagu “Percuma Mikirin Kamu” menjadi single perdana mereka di bawah Musica”s Studio bersama produser Lillywhite.

 

“Steve meminta kami untuk mempertahankan musik rock, jangan ikut terbawa-bawa lagu galau. Kami harus kuat. Dia termasuk orang yang sangat menerima ide. Bukan karena dia terkenal dan besar di dunia musik lantas dia senang mematikan ide. Dia sangat welcome dan tidak menutup kreativitas kami,” ujar Bimbi.

Tak berapa lama kemudian GoGoJiLL merilis lagu “Jangan Main-Main di Belakangku” dan “Takkan Mampu”, yang disambung dengan masa promosi. Pada akhirnya mereka mengakui ambisi untuk bermusik itu telah muncul lagi. “Banyak hal yang dulu kami tidak pernah tahu sekarang jadi tahu karena mentoring. Sekarang juga networking jadi ke mana-mana. Banyak keuntungannya,” ujar Yunita.

Mereka sempat terdiam saat mengisahkan perjalanan mengikuti kompetisi tahun lalu itu. Yunita angkat bicara, “Ada kejadian seru sebelum kami pergi mentoring ke Jakarta.” We dan Ayis tertunduk menahan senyum. “We dan Ayis hampir tidak mau berangkat, karena trauma sempat ditipu dulu. Dalam hati takut ternyata tidak akan jadi apa-apa begitu balik ke Surabaya dan kehilangan pekerjaan,” ujar Yunita.

“Kami sempat saling diam satu hari untuk nggak berangkat. Tapi pada akhirnya semua itu memang layak untuk dicoba dulu,” lanjut Yunita. GoGoJiLL mengaku percaya diri dengan karier mereka di musik Indonesia. “Intinya adalah kami harus terus berkarya dan tidak terputus-putus supaya aktif dan produktif, menjaga eksistensi. Kita masuk label bukan karena kemauan mereka, ini karena keinginan kami sendiri. Ini yang membuat kami sekarang lebih optimistis untuk diterima di musik Indonesia,” tutup Bimbi.

Tulisan ini juga dimuat di Majalah Rolling Stone Indonesia edisi September 2015.

Untitled

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s