A Rare Feeling I’d Like to Keep

Berawal dari ceritaku tentang seorang teman -gak teman banget sih- ya sebutlah kolega yang aku kenal gara-gara sebuah lomba, obrolan berat soal pilihan hidup pun mengalir dari mulutku dan Riki, hampir satu jam lamanya.

Si teman ini memenangkan lomba yang aku ikuti bersama 18 peserta lainnya pada 2015 lalu. Gak tanggung-tanggung, hadiahnya ke London seminggu dibayarin. Dia berhasil memenangkannya, sementara aku udah cukup puas kalau hasil iseng-iseng itu meloloskanku menjadi finalis.

Aku gak pernah berani bermimpi sebesar itu buat ke London. Aku takut berharap. Aku merasa gak mampu. Aku merasa takut gak bisa ngapa-ngapain.

Jadi rasanya aku sangat maklum kalau juri memilih temanku ini sebagai pemenang karena dia punya kualitas yang gak main-main.

Sebagai seseorang yang hanya memerhatikan dari luar, aku bisa tahu temanku ini memang punya passion yang amat tinggi dengan dunia jurnalistik atau dunia tulis-menulis. Ini bukan kali pertama dia ke luar negeri sebagai delegasi. Di usianya yang baru menginjak 22 di tahun ini dia sudah pergi ke lebih tiga negara dan rutin menulis untuk media asing. Aku bisa tahu kalau orang ini sungguh-sungguh dengan apa yang dia kerjakan. Dia mencintai jurnalistik, tidak sepertiku yang masih bertanya-tanya kenapa bisa ‘terlantar’ di sini.

Hampir setiap hari, temanku ini membagikan info soal pertukaran pelajar, konferensi pemuda dunia dan hal-hal berbau ‘belajar ke luar negeri’ nya. Hebatnya, baru-baru ini dia bercerita kalau dari sekian lamaran yang ia kirim akhirnya ada satu yang menerimanya untuk mengikuti konferensi di Kamboja.

Aku kagum sekali dengan semangat orang ini. Betapa gigih dan percaya dirinya untuk meraih semua mimpi itu. Aku baca di blognya sih, dia cerita kalau setiap negara yang ia datangi semakin bikin dia mikir kalo gak ada yang gak mungkin di dunia ini.

Lantas aku mikir:

Apa karena selama ini aku seperti katak dalam tempurung maka aku selalu ketakutan untuk mencoba bermimpi? Meraih yang di luar sana? Punya ambisi? Punya rencana? Punya goals? Apa semua ketakutan ini karena aku belum pernah menguji limitku sejauh mana? Selalu bermain aman?

boredpanda.com

Kenapa aku tumbuh jadi anak yang gak ambisius? Anak yang sangat berhati-hati dalam berharap karena takut perasaannya tersakiti? Anak yang gak punya rencana hidup atau bahkan gak berani buat menulis target hidupnya?

Kenapa aku gak bisa kayak seorang teman yang sejak duduk di bangku SMA udah bisa mikir kayak:

“Gue mau kuliah perminyakan di ITB atau ambil statistika biar gue bisa kerja di Chevron ntar”

Atau

“Gue mau ikut pertukaran pelajar dari semester satu biar nanti bisa keterima Unilever pas udah lulus”

Kenapa mimpi aku teramat sederhana ya?

Aku gak pernah berangan-angan sejauh itu. Aku bahkan gak berani membayangkan menikah dengan Riki karena aku tahu aku.bisa berakhir dengan siapa aja, Riki dengan siapa aja, atau apapun itu yang gak menghendaki kami. Aku gak pernah berani berharap kejauhan.

Aku selalu diam di pinggir pantai dan langsung lari saat ombak yang datang bahkan hanya menyapu mata kakiku.

Aku selalu takut bermimpi terlalu tinggi. Mungkin karena aku ingin melindungi perasaanku lebih dari apapun?

*sigh*

Saat beberapa teman menceritakan rencana hidupnya yang matang dan penuh perhitungan aku merasa gak punya ambisi menggebu-gebu seperti itu karena merasa aneh. Kadang-kadang ada pertanyaan yang menyelusup ke benak,

“Haruskah secemas itu dengan masa depan sampai memikirkannya jauh-jauh hari.. Dari 10 tahun sebelumnya, misalkan?

Pffffft, ofcourse you stupid girl, you need to plan everything so you’ll have a stable life in the future?!

*mungkin itu jawaban yang harusnya dikatakan alam sadarku*

Aku merenung. Eh, kebetulannya lagi jariku melipir ke salah satu blog orang yang aku kenal. Tulisannya membuatku sadar kembali.

Sebentar lagi ulang tahun yang ke-30. Terus gimana bayangan usia 30nya? Benar-benar sesuai dengan yang diharapkan? Dulu aku mikir, di usia 30 itu semuanya udah stabil, aku cuma perlu nikmatin semua hasil kerja di usia 20an. Everything is on their place. But guess what? Dalam hitungan hari aku akan berusia 30 tahun and everything it’s not stable. Gak ada yang stabil. Terlalu naif buat berpikir di usia 30an hidup pun akan berjalan sesuai dengan rencana. Gak ada patokan usia untuk menentukan definisi ‘stabil’ itu pada akhirnya.

Nothing is guarantee, but everybody -again it sounds cliché- has their own path. Aku yang pecundang dan gak punya rencana pasti untuk masa depan ini pasti punya ‘jalan keluar’, mungkin bukan memulainya dengan jadi anak yang gigih buat ke luar negeri. Mungkin gak dengan cara-cara yang ditempuh beberapa temanku, tapi pasti aku menemukan jalan keluar.

Life is a about forever finding who we are. 

It such an endless journey even when we’re still a little kids. We always wondering about who we are, what we need to about the life we’re living. It feels like I’m just a tiny broken wood, floating on the sea, drifting here and there, finding an answer about how could a wood ended up in sea.

And here comes the circle. Repeat. Again. Repeat. Again. Repeat. Till’ finally it’s officialy finish. The journey of finding who we are in life it’s come to an end.

To think about all that stuff. To think about how different life to every human. To think about how unpredictible the way human found their path of life.

I just want to thank God of how lucky I am to experienced this beuaty things called life.

The struggle, the hard work, the happiness, the sadness.

For every second of it

It is really a wonderful thing to be felt.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s