Here’s  a 60 Years Old Me Contemplate

Here comes the old me. Firda yang dikit-dikit menumpahkan curhat recehnya di blog telah kembali huahaha.

Habis skripsi, wisuda and bla bla bla I tried really hard to get my writing mojo back. It feels hard. Bahkan setelah ganti nama blog dengan harapan lebih semangat nulis, faktanya awal tahun ini aku masih ogah-ogahan nulis.

Tapi aku rasa, sejak Maret kemarin my writing mojo is finally back so.. Here i am. Writing this so-called-contemplation.

Aku pernah dengar cerita seniorku yang kerja di stasiun televisi berita ternama di Indonesia. Dia bilang salah satu motivasinya buat jadi news anchor adalah bapaknya. 

Sang bapak yang pernah bercita-cita buat jadi news anchor tapi gak kesampaian itu akhirnya melabuhkan mimpi lamanya ke si anak. Demi menebus harapan masa lalu. Demi ambisi terdahulu. Bapaknya nitip ke si anak mesti kerjanya juga di TV berita, gak boleh yang ecek-ecek cuma jualan sinetron atau gosip.

Waktu dengar cerita itu jujur reaksi pertamaku adalah,

“Kenapa sih masih ada aja orang tua yang nyuruh anaknya lanjutin mimpi gak kesampaian dia? Gak bisa apa ya suka-suka anaknya ajalah mau jadi apaan?”

Menurutku -pada saat itu- orang tua kayak gitu aneh. Orang tua kayak gitu seakan-akan nganggep anaknya itu sosok mereka di masa lalu, anak-anaknya itu seolah jelmaan diri mereka yang baru.

Aku gak ngerti semuanya sampai barusan ngerasain perasaan orang tua yang kayak gitu.

Well, iya sih aku belom nikah apalagi punya anak, tapi gara-gara kejadian hari ini aku mulai paham soal semuanya.

Melihat ada orang-orang seumuran aku udah sangat sukses di bidangnya masing-masing membuatku mengevaluasi diri ini. 

Basically, apa aja yang udah aku lakukan dalam hidup dan melihat hasilnya sampai hari ini.

Dan setelah aku me-rewind hidupku sejak kuliah, jujur aku emang merasa ketinggalan jauh sama banyak orang. 

Not that active, pretty ordinary, playing safe and so on.

Eh, tapi bukan maksudnya aku gak melakukan apapun sama sekali. Bukan, aku bekerja keras tapi rasanya gak sekeras orang lain. Gitu. *sigh*

Tanpa aku sadari, rupanya aku jadi menelaah semua kekurangan dan ketertinggalan yang aku miliki ini. Lantas perlahan-lahan muncul rasa takut, muncul rasa was-was.

Jangan sampai anak aku ntar kayak gini. Gak boleh, dia harus sukses! Dia harus ikut pertukaran pelajar ke luar negeri pokoknya. Ikut konferensi antar anak muda global, ikut les piano atau les renang. Pokoknya dia gak boleh kayak aku!

 Boom.

Muncullah pemikiran itu. Dalam sekejap aku udah kayak seorang ibu yang mau menumpukkan semua kegagalan dia di masa lalu ke anaknya. Dalam sekejap aku berpikir anak aku kelak harus menebus semua kegagalan yang pernah aku perbuat.

Huft, berat ya? Hehe.

Well..

Semua rasa takut itu adalah perasaan jujur aku dalam memandang masa depan yaaaang.. Aku inget banget si Mumut pernah ngomong kalo ibunya bilang,

“Ngapain sih mikirin apa yang belom kejadian?”

Hehe *setuju sama Ibunya Mumut*

Tapi, aku memilih menuliskan semua ketakutan -macam di atas- ke sini. Aku harap tulisan ini bisa jadi pengingat. Yang mungkin kalau aku baca beberapa tahun lagi bikin aku ketawa bacanya. Aku gak mau memendam semua rasa takut ini sendirian. 

Today is me writing another endless fearful thought about future bla bla. But I’m okay cause by writing this so-called-contemplation or perhaps -a letter to my future self- I learn to recognized my fear and trying my best to cope this feeling.

But, at the end..

I don’t know what kind of parent I am in the future.

But I hope..

By writing down this thought, someday everything become much, much, much clear.

Cheers, F

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s