Be Right Back to be Alright

Salah satu episode Black Mirror yang paling berkesan buatku adalah episode ‘Be, Right Back’ di season 2.

Bercerita tentang Martha dan Ash. Sepasang kekasih yang baru pindah ke sebuah cottage di tengah hutan.

Suatu hari Ash dikabarkan tewas dalam kecelakaan dan tentu saja Martha terpuruk saat mendengarnya.

Seorang teman lalu menyarankan Martha untuk mencoba sebuah teknologi baru. Teknologi yang memungkinkan Martha untuk berkomunikasi dengan sosok Ash.
Teknologi ini akan mengumpulkan semua data yang pernah diunggah Ash di media sosial dan menjadikannya ‘bahan’ untuk membuat Ash seolah-olah masih hidup.

Yup, dengan teknologi ini Martha bisa chatting bahkan menelfon Ash yang sudah tiada.

Awalnya Martha enggan. Ia merasa akan semakin terluka saat ingat kalau Ash sungguhan sudah tidak ada. Tapi semua berubah saat tahu dirinya hamil dan rasa rindu pada Ash semakin tak terbendung.

Martha lalu melihat layar laptopnya. Sebuah chat room muncul dan menampilkan avatar Ash.

Untuk beberapa saat Martha merasa ragu. Tapi keraguannya berubah menjadi mata sendu saat robot yang menjadi Ash berperan cukup baik.

Robot ini bisa membalas chat Martha dengan gaya khas Ash. Selama beberapa saat Martha tertawa tapi berubah menjadi murung saat tahu layar yang ia tatap hanyalah robot yang meniru Ash.

Tapi apa mau dikata. Trauma ditinggal mati mendadak membuat Martha menjadi rapuh. Ia merasa balasan kata-kata saja tidak cukup. Ia butuh mendengar suara Ash dan sang robot menyanggupi.

Akhirnya malam itu Martha menangis sejadi-jadinya saat mengobrol dengan Ash–saat memberitahu Ash dia akan menjadi ayah.

Untuk beberapa saat ilusi Ash yang masih hidup dan bisa berbincang-bincang dengannya membuat Martha agak baikan. 

Tapi rasa rindu Martha yang begitu mendalam membuat suara Ash pun jadi terasa kurang. Ia butuh melihat Ash, ia butuh menyentuh Ash.

Sang robot lalu menawarkan upgrade yang ia sebut ‘creepy’. Dengan cara ini Martha bisa bertemu lagi dengan Ash, seolah-olah kekasihnya itu masih sehat lahir dan batin.

Tak perlu berpikir lama, Martha menyanggupi ide itu. Dan beberapa hari kemudian sebuah paket datang. Paket itu tak lain dan tak bukan merupkan robot berwujud Ash.

Robot tersebut harus direndam dulu di bak mandi sambil ditaburi elektrolit dan bahan-bahan lain. Dengan telaten, Martha merendam robot itu. 

Beberapa saat kemudian, Ash versi robot berdiri di depan Martha. Sambil basah kuyup, Ash meminta Martha untuk membawakan handuk. 

Martha menatapnya dengan tatapan sedih. Senyata apapun sosok Ash yang berdiri di depannya, tetap saja sosok Ash yang asli sudah dikubur di liang lahat. Dan Martha tahu ia idak akan pernah bisa melenyapkan fakta itu.

***

Well, aku suka banget episode ini karena episode ini punya pesan yang kuat yaitu: 

Rasa kehilangan adalah hal yang paling susah disembuhkan.

Rasa kehilangan bisa bikin robot dari plastik yang hidup karena sokongan data media sosial jadi pilihan paling baik untuk membuat kita tetap waras.

Atau dengan kata lain, untuk melindungi perasaanya manusia lebih memilih kebohongan karena terasa lebih baik dan membuat nyaman. 

Hmm, sounds familiar? 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s