How We Broken Inside

Terlepas dari fakta jika tanggal-tanggal segini tuh tanggal aku rawan menstruasi, aku memang mau mengakui jika momen nangis di Go-jek dan nangis saat jalan kaki ke kosan adalah bukti kalau.. Aku sedih dan aku perlu melepaskannya.

.

.

Bingung harus menjelaskan darimana perasaan ini. Gak tau karena trauma masa kecil atau apa, aku gak ngerti kenapa aku jadi anak yang khawatir berlebihan.

Ada banyak kekhawatiran yang aku pikirin belakangan ini..tapi gak aku ceritain ke orang terdekat karena aku takut mereka gak akan ngerti, atau cuma nganggep perasaan ini gak penting.

Contoh hal yang aku khawatirkan adalah soal menikah. Aku takut menikah akan merusak apa yang aku punya. Gimana kalau aku udah pacaran bertahun-tahun tapi semua itu hancur pas aku nikah dan misal aku gak punya anak? Aku cerai, aku terluka, semua gara-gara nikah, padahal dulu pacaran bertahun-tahun aku baik-baik aja.

Mungkin terdengar konyol, tapi pikiran itu terus-terusan mengangguku belakangan ini.

Terus, aku mikir kalau pacar aku mati kayaknya aku gak akan bisa menjalin hubungan lagi sama orang lain. Karena aku takut gak ada orang yang bisa nerima aku apa adanya. Aku akan terus sendirian.

Pikiran itu sukses membuatku menangis diam-diam di Go-jek.

Semua semakin membuatku merana saat bapak Go-ngasih info lowongan kerja dari penumpang sebelum aku. Dia bilang kasian sama aku yang rumahnya jauh, dia bilang penumpang sebelumnya juga kerja di dunia media, tapi dia nyuruh aku buat kerja setahun dulu di tempat ini biar dapet pengalaman.

Pas si bapak ngomong, gak kerasa air mataku ngalir. Aku bingung sedih kenapa, apakah sedih karena tiba-tiba kepikiran ketakutan-ketakutan yang aku sebutin di atas? Atau karena aku bertanya-tanya sama diri sendiri “Apakah pas aku lahir ibu bapak ngebayangin anaknya jadi karyawan biasa kayak gini? Mereka kecewa gak? Kecewa liat aku ujung-ujungnya gini?

Nyampe pintu kosan, tangisanku pecah memikirkan itu semua sendirian. Sendirian karena merasa gak akan ada yang paham sama yang aku rasain ini.

Advertisements

2 thoughts on “How We Broken Inside

  1. “Apakah pas aku lahir ibu bapak ngebayangin anaknya jadi karyawan biasa kayak gini? Mereka kecewa gak? Kecewa liat aku ujung-ujungnya gini?” fiiiirrr 😭😭😭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s