My Connected Dots #1

“You can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something – your gut, destiny, life, karma, whatever.”

Mari mulai kisah ini dari sebuah quotes yang sudah lama aku pikirkan. Quote di atas. Aku pernah baca petuah bijak Steve Jobs tersebut di halaman awal skripsi senior. Dulu pas baca itu aku gak terlalu paham dan melupakannya begitu saja. Lalu, kali kedua ketemu quote ini adalah lewat tulisan seseorang di blog. Tulisan itu menjabarkan dengan jelas apa yang dimaksud Steve Jobs dalam quote itu.

Saat membaca penjelasannya aku kayak melihat kilas balik kehidupanku selama 2016 dan 2017. Serangkaian peristiwa tersebut rasanya sangat pas dibingkai dengan ucapan Steve Jobs. Bahwa apa yang aku alami selama 2016 sampai 2017 adalah titik-titik kecil. Titik-titik tersebut lalu terhubung atas bantuan tangan Tuhan dan takdir hidupku. Semuanya terasa pas. Apalagi jika ditengok ke belakang.

Titik-titik itulah yang hendak aku ceritakan. 

***

Ternyata kalau diperhatikan baik-baik setiap keputusan yang kita ambil mirip sebuah titik yang semakin lama dikumpulkan akan saling terhubung. Buatku sendiri itu bermula dari sidang usmas. Habis ikut lomba di Jogja sama Mumut, Cendi, Siti aku harus menghadapi momen skripsi. Apakah aku langsung bikin ide skripsi? Tentu saja tidak. Aku ingat pulang dari Jogja itu ada libur kuliah dan aku baru ngasih ide skripsi sebulan kemudian.

Sebenarnya, pada saat itu aku gak punya target buat lulus cepat. Aku emang harus skripsian ya karena emang gak ada kegiatan lain aja. Kewajibannya ya tinggal si skripsi ini jadi mau gak mau aku harus bergerak walaupun takut setengah mati. Kenapa? Karena Mumut dan Siti belum mulai skripsian sementara aku udah biasa apa-apa bareng mereka alias ritmenya tuh suka sama. Untung ada Cendi yang relatif barengan aku pas mulai ini.

Kedua, aku bingung mau bikin skripsi apa. Yang jelas aku gak mau bikin skripsi yang bakal nyusahin aku di masa depan dan kalau bisa gak membuatku harus ke Jakarta. Akhirnya, modal riset asal-asalan dalam beberapa hari aku punya ide skripsi yang tergolong skripsi basic di dunia jurnalistik. Analisis framing. Beritanya ngambil liputan khusus dari BBC Indonesia.

Singkat cerita, si ide skripsi lulus walaupun harus diubah arahnya. Aku tetap lega sih abis masih soal analisis framing juga. Easy peasy kalo istilah Cendi mah. Nah dari sini sebenarnya takdirku udah mulai kebentuk. Abis lulus sidang usmas aku gak langsung revisi si draft skripsi. Aku asyik pulang ke rumah dll dulu.

Beberapa minggu kemudian aku ngasih si revisi dan ngurus tetek-bengek nyari tau nama pembimbing dll. Dan… rupanya hasil nunda ngumpulin revisi itu mengantarkanku sama pembimbing yang super baik. Sementara teman aku yang usmas bareng aku dan ngumpulin revisi sehari sebelum aku dapet pembimbing yang rese.  Itu titik pertama yang aku pilih dan menentukan titik selanjutnya.

Proses skripsianku bisa dibilang tergolong lancar, alhamdulilah. Dosen pembimping dua-duanya kooperatif. Narsum juga baik parah. Paling momen yang nyusahin itu pas hampir setengah skripsiku salah padahal udah bab 4 dan pas dosen utama mau pindah ke Malaysia. Untung aja si skripsi yang udah terlanjur jadi itu bisa diselametin. Eh, momen dosen mau pindah itu juga menguntungkan sih soalnya hampir semua anak bimbingan dia dicepetin sidangnya.

Siapa sangka titik pertama itu juga membuatku jadi angkatan Jurnal pertama yang sidang skripsinya cuma sekali aja. Deg-degan? Yaiyalah yang tadinya skripsi dua kali jadi sekali doang. Udah gitu aku jadi orang pertama yang sidang. Tapi syukurnya sidang skripsiku berjalan super woles. Si dosen malah cerita ini itu. Alhamdulilah itu terlewati dengan baik dan diakhiri dengan perayaan kelulusan sidang yang so sweet dari KRAM.

Titik pertama beres, ayok lanjut ke titik kedua alias momen bingung abis lulus kuliah mau ngapain. Seperti kebanyakan orang diluar sana, aku juga bingung mau ngapain setelah lulus. Cari kerja? Gak mau cepet-cepet, karena masih mau menikmati waktu kosong, apalagi kosanku masih sisa 6 bulan. Saat itu yang aku pikirkan cuma masih pengen main sama temen-temen di Jatinangor.

Tapi lama-lama kerasa juga gak enak nganggur kelamaan. Akhirnya aku mulai nyari-nyari jawaban ‘Habis lulus mau kerja apa Fir?”. Nah, jawaban itu mulai aku rangkai dari bulan Februari. Ya, dari bulan itulah kehidupan baruku dimulai.  Continue reading..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s