Glory Box

Adulting #3

Setahun yang lalu, aku yakin seyakinnya kalau perasaan yang paling bikin sengsara adalah perasaan cemas dan overthinking saat harus berhadapan dengan seseorang, atau malu saat harus keluar kamar, atau bingung harus melakukan apa jika bertemu dengan orang-orang di bawah kosan, atau marah ke diri sendiri karena tidak bisa dan tidak mampu bersosialisai layaknya manusia normal.

Setahun yang lalu, perasaan-perasaan itu benar-benar menguasai diriku. Aku merasa sangat sengsara karena untuk keluar kamar saja aku harus menunggu keadaan luar benar-benar sepi, atau bahkan minta teman buat menyambangiku ke kosan biar pas buka pintu aku gak merasa canggung, biar aku ada temannya. Yang terparah, mungkin saat aku pura-pura menelfon seseorang karena bingung sendirian di tengah teman-teman kampus yang tidak begitu dekat denganku.

Punya perasaan seperti itu gak enak, bener-bener gak enak. Aku sampai memukul kepala berkali-kali karena bingung kenapa aku jadi lupa caranya berhubungan dengan orang itu seprti apa. Perasaan dan keadaan itu muncul sejak kuliah, dan aku tidak pernah akan lupa tahun 2015 adalah tahun terparahku karena setiap hari, setiap detik, setiap melakukan apapun aku selalu mengingat adegan-adegan dimana aku mengurung diri di kamar mandi saat magang di Jakarta karena aku tidak tahu caranya untuk ikut mengobrol dengan orang lain. Adegan itu terus berputar di kepalaku sampai-sampai rasanya aku ingin membakar tempat itu agar kecemasanku hilang.

Meski begitu, setiap perasaan sengsara yang aku alami di masa-masa itu sangat menginspirasiku untuk menulis. Aku ingat, pada masa-masa itu setiap mau memejamkan mata untuk tidur selalu ada saja sebaris kata yang terlintas, dan ingin aku tulis di blog atau notes ponsel. Masa-masa itu adalah masa dimana dalam sehari aku bisa membuat lima tulisan untuk blog. Tanpa rencana, tanpa konsep, alias benar-benar menguap dari kepala begitu saja.

Di masa-masa itu, aku seharian tiduran di kamar dan menonton puluhan episode serial televisi atau menonton film-film yang ku catat dalam sebuah daftar. Dengan tirai tertutup, aku menontonnya tanpa lelah dan bahkan kadang langsung menuliskannya menjadi serentetan kalimat yang kelak ku labeli “review” karena film yang ku tonton begitu mengubah cara pandangku.

Di masa-masa itu, aku tidak keberatan menghabiskan sebanyak mungkin waktu di kamar karena aku selalu mendapatkan inspirasi untuk menulis, menonton atau membuat sesuatu. Semua menjadi pelarian yang membantuku untuk mengobati rasa cemas.

Dan kini, aku sangat amat rindu untuk bisa terinpirasi seperti itu.

Aku kira perasaa terburuk di dunia adalah rasa cemas, khawatir atau kecewa. Tapi sejak kerja, aku tahu perasaan paling gak enak itu adalah kosong. 

Kamu tidak punya hasrat untuk melakukan apa-apa, tidak ada lagi sebaris kalimat random yang ingin kamu tuangkan ke blog atau notes di ponsel, tidak ada lagi cita-cita untuk mengumpulkan ratusan film yang rencananya akan kamu habiskan dalam waktu sebulan saja, tidak ada lagi hasrat untuk terinsprirasi tanpa kamu tahu apa sebabnya.

Dulu aku pikir aku kreatif, banyak akal, banyak ide untuk membuat sesuatu. Tapi sekarang aku sadar, aku tidak seperti itu. Sudah 11 bulan aku bekerja dan selama itulah aku mengalami perasaan kosong itu. Aku berubah. Aku tidak melakukan hal-hal yang aku senangi saat kuliah dulu lagi.

Kenapa kerja membuatku seperti ini?

adulting-problems-jaimebuckley-no2
It’s sad because it’s true.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s