Glory Box

Soal Pulang

471564073

Kurang lebih delapan tahun yang lalu aku mengenal rute pulang pergi ke rumah yang baru. Jika biasanya untuk sampai ke rumah aku hanya perlu berjalan dalam lima menit, atau cukup naik angkot sekali saja, sejak delapan tahun yang lalu jarak yang aku tempuh untuk sampai ke rumah menjauh.

Aku tinggal di Ciwastra karena melanjutkan sekolah di daerah situ. Jadi tidak ada lagi pemandangan aku yang pulang sekolah dan ngambek-ngambekan sama ibu kayak pas SMP, karena pas SMA aku hanya ketemu ibu bapakku setiap akhir pekan atau saat ada hari libur.

Setelah lulus SMA, jarak yang ku tempuh untuk pulang ke rumah semakin menjauh. Aku kuliah di Jatinangor yang notabene sudah bukan wilayah Bandung lagi. Meskipun jauh, aku selalu mengusahkan untuk pulang di akhir pekan atau saat hari libur.

Jika masa-masa SMA adalah masa yang paling aku tunggu karena akhirnya bisa jauh dari orangtua, lain halnya dengan masa kuliah. Banyak masa-masa dimana aku merasa agak lebih tenang, tidak begitu murung atau memikirkan banyak hal jika pulang ke rumah -meski tetap diwarnai pertengkaran dengan ibu atau bapak.

Kini aku bekerja. Jarak yang ku tempuh untuk pulang ke rumah sebenarnya tidak sejauh saat masa SMA atau kuliah. Tapi hal itu tidak membuatku pulang secara rutin. Saat akhir pekan aku lebih memilih diam di kosan atau mengerjakan tugas kantor yang belum selsesai, atau ingin aku cicil.

Aku berdalih, aku akan terlalu lelah jika harus pulang ke rumah di hari Sabtu dan kembali lagi ke Bandung pada hari Minggu. Selama 11 bulan lamanya aku berpikir seperti itu, membuat kunjungan pulangku ke rumah bisa dihitung dengan jari.

Sampai suatu hari aku bertemu dengan teman semasa SMP yang kini bekerja di Jakarta. Saat ku tanya apakah dia punya waktu untuk pulang ke rumah, jawabannya cukup mengejutkan. Ia bilang, ia selalu mengusahakan untuk pulang setiap dua minggu sekali, meskipun hampir 10 jam dalam dua hari ia habiskan di perjalanan Bandung-Jakarta.

Saat ku tanya alasannya apa, ia bilang ia butuh pulang karena dengan pulang ia bisa sejenak melupakan urusan kerja atau peliknya hidup di Jakarta.

Sambil tertawa kecil, aku bilang yang sejujurnya; Aku hanya pulang kalau aku mau dan merasa tidak capek.

Namun, tepat hari ini aku menyadari sesuatu. Aku sadar ternyata selama ini aku terintimidasi oleh kecemasan dan rasa takutku sendiri. Selama ini aku terlalu menanamkan pemikiran “kamu terlalu capek untuk pulang” pada diri sendiri meskipun kenyataannya tidak terlalu.

Buktinya, perjalanan empat jam pulang pergi dari kosan ke rumah yang aku tempuh hari ini terasa seperti kedipan mata. Aku tidak merasa kepayahan, aku merasa sanggup untuk melakoni rutinitas ini, aku merasa selama ini hanya terlalu banyak berpikir dan meremehkan diri sendiri.

Aku sadar memang seharusnya tidak boleh seperti itu. Aku seharusnya pulang selagi mampu, selagi bisa, selagi ada. Akan ku coba dan ku usahakan. Mulai dari sekarang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s