La La Land Tell Me to Dream

*tulisan ini mengandung spoiler!*

Aku menyesal sekaligus bahagia nonton La La Land di bioskop.

27COVERJP1-master675

Bahagia karena menonton film ini di bioskop menjadi salah satu pengalaman menonton di bioskop yang memuaskan dan menyenangkan hati, menyesal karena aku gak bisa nangis dengan lepas! Haha. Oh iya, aku gak akan mengulas film ini, aku cuma mau ceritain hal-hal yang aku suka dari film ini.

Habis bingung mau mengulas kayak gimana, karena seperti yang sudah-sudah kalau filmnya meninggalkan kesan mendalam buatku, aku jadi suka kehabisan kata-kata untuk menggambarkan perasaan saat menonton film tersebut.

Oh iya lagi, btw, sebenernya aku lagi ngerjain revisi skrpisi sehabis sidang, tapi lagu Goodluck punyanya Sondre Lerche, yang pas bagian biola di akhirnya bikin aku inget sama pengalaman nonton La La Land kemarin dan aku jadi mau menulis ini.

Well, selain dapet ulasan bagus dari banyak media dan kritikus plus menyabet banyak penghargaan alasan aku ingin menonton film ini karena aku suka film musikal. Aku jatuh cinta setengah mati sama Memories of Matsuko dan menasbihkannya sebagai film favorit selama ini.

Aku seneng banget liat pertunjukan teater sejak SMA. Aku seneng nonton film seperti Hairspray atau Les Miserables atau Sounds of Music walaupun banyak yang bilang film seperti ini bikin ngantuk.

Tapi karena demen, aku udah yakin banget menonton La La Land di bioskop ini akan menjadi pengalaman yang menyenangkan karena aku pasti bakal senang liat koreografi atau musikalisasinya. Apalagi didukung dengan sound system bioskop pasti lagu-lagu di film ini bakal lebih ciamik buat dinikmati, begitu pikirku.

***

Dan hatiku sudah berdegup kencang sejak film ini dimulai. Aku langsung jatuh cinta sama koreografi para aktor dan aktris saat lagu Another Day of Sun menggelegar, memecah diam para penonton. Aku suka adegan saat tarian enerjik dengan tempo cepat itu ditutup dengan sangat rapi dan natural saat mereka semua kembali masuk ke dalam mobil dan menikmati kemacetan.

Dan untuk selanjutnya dan selanjutnya aku suka semua adegan-adegan di film ini yang disajikan dengan visual yang menawan. Belum lagi paras cantik Emma Stone yang memukau sangat enak dipandang banget ya ternyata kalo diliat di layar lebar seperti itu? Haha dulu aku liat dia biasa aja tapi kok di La La Land cantik parah ya.

Pokoknya selama nonton ini hatiku bergumam “Aaaaak beautiful pictures everywhere!”. Hehe aku memang gampang jatuh hati sama film yang memanjakan mata alias visualisasinya itu cantik dan surreal. Makin jatuh cinta lagi kalau filmnya menawarkan plot cerita sederhana tapi bermakna seperti La La Land.

Hmm, contoh film lain dengan premis sederhana tapi sukses membuatku baper dan gak henti-hentinya memikirkan film (plus visualisasinya cantik nan bermakna) itu adalah Forrest Gump, Liberal Arts, Big Fish, Seeking a Friend in The End of The World, Grandma, Grand Budapest Hotel, Roald Dahl’s Esio Trot dan masih banyak film lainnya.

Tapi contoh paling gampang sih ya Memories of Matsuko. Duh, maaf pokoknya aku gak akan bosan menyebut Memories of Matsuko sebagai jelmaan film favoritku berkat visualisasi adegan-adegan filmnya yang breathaking dan ceritanya yang sangat bermakna.

Nah, ceritanya La La Land sendiri itu sederhana banget. Malah kayaknya kalau dibikinin uraian main storynya di storyboard aku jamin bakal pendek banget. Tapi entah kenapa cerita sederhana yang sebenernya bukan formula baru di dunia perfilman dan cenderung klise parah ini ngena banget.

Aku baca review di Rolling Stone soal film ini dan setuju sama pernyataan “Saat kesuksesan lebih manis daripada cinta”. Huhu bener banget! Siapa kira kisah cinta Mia dan Sebastian mesti berakhir pahit dan getir?

Tapi meskipun demikian, aku mau menghaturkan pujian buat Chazelle sang sutradara karena sudah membuat penutup film ini indah seindah-indahnya kisah cinta manusia paling bittersweet di muka bumi.

Asal Mas Chazelle tau, air mataku langsung tumpah saat Mia membayangkan adegan awal bertemu dengan Sebastian. Saat Sebastian mengulang adegan pertemuan itu dengan cara yang berbeda. Saat seluruh orang di bar bernyanyi. Saat imajinasi Mia menyeruak ke seluruh penjuru ruangan bar. Saat Sebastian mengakhiri “Mia and Sebastian Theme” dengan amat pelan.

Ya, Chazelle, teteh-teteh di belakangku bahkan nangis sesenggukan. Bapak-bapak di sebelah pacarku malah menyapu air mata di pipinya. Semua orang sedih melihat akhir cerita Mia dan Sebastian. Formula kisah cinta yang sebenernya gak baru-baru amat dan malah karena yang meranin Sebastian adalah Ryan Gosling jujur aku malah jadi inget pas doi pisah sama Rachel McAdams di The Notebook.

Tapi entah mengapa film ini dapet banyak penghargaan, mungkin selain aspek musikalisasi dan visualisasinya yang bagus, film ini memikat karena premis sederhananya yang bicara soal mimpi (walaupun klise) relevan sama kondisi banyak orang saat ini juga kali ya?

Maksudku, persoalan tentang wujud-mewujudkan mimpi sebagai ide cerita film itu bukan hal baru sama sekali. Tapi kenapa La La Land yang bicara soal mimpi ini bisa memikat banyak hati orang? Kalau buatku pribadi sih, perjuangan Mia sama Sebastian buat mewujudkan mimpinya semacam jadi reminder buat diri sendiri

Apalagi aku menonton ini bersamaan dengan momen buat menentukan jalan hidup setelah lulus. Walaupun ini terdengar sangat klise, jujur dari hatiku yang terdalam cerita Mia yang ingin menjadi aktris dan Sebastian yang mau punya bar jazz ini membuatku mengevaluasi lagi soal mimpi-mimpi yang aku punya.

Menonton film ini membantuku buat mengingat kembali mimpi-mimpi yang pengen aku capai, semacam jadi reminder untuk jangan takut mencoba mewujudkan dulu itu semua. Even the world could swallow and spit you.

Harga untuk mewujudkan sebuah mimpi terletak pada keberanian orang-orang yang masih punya tekad  buat mewujudkannya. Begitu kira-kira pesan dari La La Land yang jadi reminder buatku. Aku memikirkan hal itu setelah keluar dari teater dan di perjalanan pulang. Dan aku senang aku jadi ingat kembali tujuan-tujuan hidup berkat menonton film ini, sungguh.

flat,550x550,075,f.u1

13/1/17

Advertisements

Quickie Review #2: Film yang Ditonton April (Part 2)

Too Lazy To Write So..

Apa daya, niat mau nyicil beberapa tulisan freelance aku malah pengen nulis ini. Selain karena nggak fokus (sejujurnya udah seminggu ini nggak fokus nulis freelance) aku nggak sengaja nemu draft tulisan ini barusan. Baru inget kalau aku pernah bikin tulisan ini! Daripada ngegantung dan karena lagi bosen nulis freelance juga akhirnya aku memutuskan buat menulis melanjutkan ini.

April yang gak begitu ‘menyenangkan’ ini nyatanya masih bisa aku lewati dengan menonton beberapa film. Beberapa aku dapat dari KingKong (tempat copy film bajakan nomor wahid di Jatinangor) plus dari temen dan dari rumah. Aku gak nyadar kalau sampai minggu ketiga April aja aku udah menonton 12 film. Cukup banyak kan? Jadi rasanya aku mau mereview masing-masing filmnya secara singkat dan lugas aja.

1. Arrival

via cgmagazine

Pertama kali tau film ini saat baca status Facebook Pak Affan, narasumber aku pas wawancara skripsi. Beliau intinya bilang film itu bagus banget dan sukses bikin dia speechless. Oke, karena setelah nyari di internet film ini gak diputer di Cinema 21 di Bandung (dan gak kepikiran nyari tahu di CGV) akhirnya aku beli aja di KingKong. Film ini pun sengaja gak langsung aku tonton pas udah dibeli karena aku punya feeling filmnya bagus dan gak mau cepet-cepet ditonton gitu. Akhirnya aku pun nonton ini pas pulang ke rumah.

Dan, kata hatiku berkata benar.

Simpulan setelah nonton film ini?

BAGUS BANGET, BANGET, BANGET. Pokoknya menurutku film ini layak masuk film terbaik di 2016 lalu.

Jauh dari bayangan aku sebelumnya, film ini ternyata bukan film soal konflik alien dan manusia pada umumnya. Hilang sudah semua bayangan aku soal perang menegangkan antara alien dan manusia yang pake banyak senjata, pesawat luar angkasa dll. Film ini gak bercerita soal konflik kayak gitu tapi lebih kepada sesuatu yang lebih nyata dan masuk akal. Menurutku hubungan antara alien sama manusia yang diperlihatkan di film ini somehow make senses dan membuka pikiran kita soal mungkinnya kita buat berhubungan baik sama alien di masa depan.

via gizmodo

Kisahnya sendiri dimulai saat masyarakat digemparkan dengan mendaratnya 12 pesawat luar angkasa yang tersebar di berbagai negara. Louise Banks (Amy Adams) seorang ahli bahasa diminta buat berkomunikasi sama salah satu alien yang ada di pesawat itu buat mencari tahu apa sebenarnya tujuan kedatangan mereka.  Sempet baca blog orang dan bilang film ini berat banget, hmm iya sih filosofis tapi sama sekali gak berat buat ditonton kok, serius. Pada akhirnya, kita bakal ngerti sendiri apa yang bikin alien itu dateng ke bumi dan kenapa si Amy jadi sosok yang ‘terpilih’.

2. We Need to Talk About Kevin

via southernnews

Depressing in so, so many level. Depresi membawa kemuraman, depresi membawa kesedihan dan depresi membawa kemarahan. Aku langsung menebak film ini bikin depresi dari awal film ini dimulai. Minimal dialogue, minimal sounds. Well, aku akhirnya tetep lanjutin nonton walaupun sempet bosen. Film ini bercerita soal kehidupan muram Tilda yang tinggal seorang diri. Kita bisa langsung tau kalau dia pernah ‘melakukan kesalahan fatal’ dalam hidupnya di masa lampau saat rumah dan mobilnya disiram sama cat atau pas dia lagi jalan kaki dan tiba-tiba ditampar sama seorang ibu-ibu dan disumpahin buat masuk neraka.

via theredlist

Lantas, apa sebenernya kesalahan yang pernah dilakuin Tilda? Agak ketebak sih sebenernya, maksudku kita bisa ngelihat ‘semuanya’ itu dari gerak-gerik sang anak Kevin. Tapi meski begitu, film ini punya pesan yang mendalam banget. Pesan soal gimana rasa depresi, rasa kehilangan mimpi yang dimiliki si ibu bisa tercermin saat sang anak lahir.

3. The Secret Life of Pets

via googleplay

Salah satu hal terbaik dari film-film kayak gini adalah… kamu nggak perlu mikir. Kamu cuma tinggal duduk dan menikmati filmnya. Mau segaring, sebiasa apapun nikmati aja pokoknya karena film-film kayak gini cocok banget mengisi waktu luang. Setidaknya buatku sih hehe. Walopun banyak situs yang bilang film ini garing aku tetep beli karena tahu aku selalu membutuhkan film semacam ini haha.

via hangoutindo

Ceritanya sendiri simpel banget, seekor anjing bernama Max harus rela menerima kenyataan kalau pemiliknya, Katie mengadopsi anjing lain dan mulai nggak memerhatikan dia. Apalagi si anjing baru, Duke nyebelin banget. Tapi, walaupun awalnya nggak akur akhirnya Max dan Duke malah bekerja sama buat saling menyelamatkan diri dari kejaran ‘The Flushed Pets’-sekelompok hewan buangan yang benci sama manusia karena udah ditelantarkan-.

4. Yes Man

theoddysseyonline
via theodysseyonline

Garing.

Wkwk maaf aku nggak bisa menjelaskan banyak hal soal film ini karena nggak berkesan buatku. Atau aku jadi memberikan cap garing ke film ini karena telalu mematok ekspektasi yang tinggi? Entahlah, tapi buatku film ini biasa aja. Sama halnya dengan akting Jim Carrey atau Zooey Deschanel.

via theguardian

5. Nerve

via playnerve

Alasan nonton film ini sama persis kayak alasan nonton’The Secret Life of Pets’. Aku selalu senang nonton film-film yang dibilang orang garing atau jelek karena mengisi waktu luang aku dengan baik plus tanpa mikir banyak haha. Apalagi cerita film ini remaja abis, pas banget buat kamu yang mau nonton karena bingung mau ngapain lagi. Eh, tapi walaupun gitu jujur aku menikmati film ini banget kok. Soalnya konsep si  Nervenya itu menarik banget.

fandango
via fandango

Bayangin aja gimana jadinya kalau ada aplikasi sosmed kayak truth or dare yang ngasih hadiah uang secara real time? Apalagi tantangan yang dikasih pun bahaya banget. Ya, walopun inti ceritanya klasik bangeeeet (ehm, seorang cewek cupu yang ingin membuktikan kalo dia adalah cewek gaul yang berani mengambil tantangan, tapi  Emma Robert cupu dari mananya coba?) secara keseluruhan aku suka film ini kok. Tapi khusus buat aktingnya Dave Franco….biasa banget layaknya akting dia di Now You See Me kalau menurutku!


Akhirnya tulisan ini beres juga, walaupun telat empat bulan lamanya. Meski di satu sisi aku senang akhirnya tulisan ini rampung, di satu sisi lain aku jadi ingat ada puluhan film lain yang udah aku tonton sampai Agustus ini. Mau nulis reviewnya kok… tapi ngumpulin niatnya dulu deh.

giphy
via giphy

 

Quickie Review #2: Film yang Ditonton April 2017 (Part 1)

BEAUTYTALKS (2)

Percayalah, tangan ini udah gatel banget pengen nulis beberapa ulasan film yang aku tonton sejak April. Tapi, kebiasaan aku yang gak bisa nahan banget ‘nyicil’ nonton film akhirnya membuat ‘hutang’ ku semakin banyak, banyak dan banyak *ceilah*. Tapi, mumpung hari ini baru merampungkan beberapa pekerjaan yang membuat mood agak berselera buat nulis review film, ya sudah jangan ditunda-tunda! Takut keburu males lagi, berikut adalah sebagian film yang aku tonton April lalu!

Annie Hall

Cendi bilang beli film ini gara-gara si Ted di HIMYM sering banget ngomongin Annie Hall, so she’s simply curious and so do I. Dirilis tahun 1977 film ini bercerita soal kisah cinta antara Alvy Singer (Woody Allen) seorang stand-up comedian dan Annie Hall (Diane Keaton) yang pasang surut. Kadang on, kadang off lengkap sama semua lika-likunya. Walaupun terdengar sederhana dan seperti kisah cinta pada umumnya film ini punya dialog lucu dan fresh yang menyenangkan untuk disimak. Dan rasanya masih relatable sama persoalan cinta banyak orang zaman sekarang juga deh?

Annie Hall (1977) Blu-ray Screenshot

via jumpscareuk.co

What I Love: Setiap karakternya ngomong langsung ke kamera. It’s funny and smart. Aku juga suka pas udah putus Annie dan Alvy saling nyari satu sama lain lagi. Not to mention, pemandangan New York tahun 70an dan baju-baju Annie yang keren pada saat itu.

What I Hate: Alvy yang parnoan.

Fav Scene: Adegan jalan di dermaga abis romantis hehe.

Dallas Buyers Club

Based on true story alert! Film ini bercerita soal seorang cowboy asal Texas, Ron Woodroof (Matthew McConaughey) yang terkena AIDS dan umurnya diprediksi tinggal sebulan lagi. Tapi dasar keras kepala, Ron gak lantas menelan mentah-mentah omongan si dokter dan berusaha mencari cara untuk sembuh sendiri. Well, siapa sangka sifatnya yang keras kepala itulah yang bikin Ron menemukan alternatif obat AIDS yang lebih efektif. Gilanya, dia sampai buka ‘klinik’ sendiri dan bikin paket pengobatan buat para penderita AIDS sebagai bisnis.

screenrantdotcom

via screenrant.com

What I Love: Cerita yang menampilkan sosok bad guy yang berubah menjadi pahlawan entah kenapa selalu bikin  kepercayaanku akan hal-hal baik di dunia meningkat. Yup, this movie has restored my faith in humanity. Apalagi karena based on true story.

What I Hate: Ini murni selera pribadi sih, tapi aku linu liat Matthew McConaughey kurus kerempeng begitu haha. But it doesn’t mean I hate his totality as Ron Woodroof. Of course there is no doubt that he’s really nailed the character.

Fav Scene: Waktu Ron belanja di supermarket dia ngebuang-buangin semua makanan olahan dan ngomelin Rayon (Jared Leto) pas ngambil makanan-makanan gak sehat itu. Sweet!

Kimi No Na Wa

Oke, aku disuruh nonton film yang super booming ini sama adek aku. Kebetulan pula Cendi punya langsung deh aku tonton. Film yang disutradari Makoto Shinkai ini bercerita seputar kehidupan gadis bernama Mitsuha yang tinggal di desa dan Taki yang tinggal di tengah kota Tokyo. Keduanya kadang bermimpi bertukar jiwa padahal tanpa mereka sadari mereka emang tukeran jiwa beneran. Awalnya sih mereka mulai terbiasa dan saling membantu dirinya masing-masing waktu bertukar jiwa sampai suatu hari fenomena pertukaran ini berhenti. Gara-gara semuanya berhenti mereka pun inisiatif buat saling mencari. Taki ke desa tempat tinggal Mitsuha dan begitupun sebaliknya. Sayangnya, pencarian itu gak berjalan dengan mulus karena banyak misteri yang bikin mereka hampir ditakdirkan buat gak akan pernah bisa ketemu secara langsung.

idigitaltimesdotcom

via idigitaltimes.com

What I Love: The subtle message about finding love in life in this movie. Sebut aku terlalu lebay dalam menganalisis tapi aku rasa film ini menyampaikan pesan tersembunyi soal takdir kita bertemu pasangan hidup dengan sangat halus. Dan aku suka banget sama cara penyampainnya! Terus, aku juga suka dengan gambar-gambar yang ada di film ini.

What I Hate: Waktu Mitsuha lupa nama Taki dan sebaliknya *padahal itu esensi filmnya* haha maafkan aku yang gak sabaran.

Fav Scene: Endingnya! Kayak udah gak ketemu puluhan tahun gitu :””’

Pengalaman Terbaik Nonton Film di Bioskop [Part 1]

#1

Ini bukan soal urusan film atau teaternya yang bagus. Lebih dari itu, ada banyak hal lain yang membuat pengalaman menonton di bioskop bisa begitu menyenangkan untuk diingat kembali. Kalau diingat satu persatu sih, kebanyakan alasan yang membuat deretan pengalaman menonton film-film di bawah ini menjadi menarik malah bukan soal film-filmnya!

World War Z

brockingmoviesdotcom

via brockeringmovie.com

Menonton aksi zombie paling gila di layar lebar bersama Riki menjadi salah satu pengalaman yang paling aku ingat. Satu teater dibuat takut, menjerit bahkan bertepuk tangan saat Brad Pitt menjatuhkan kaleng soda dan dengan cool nya berjalan melawan arus zombie-zombie haus otak itu. Selain memang filmnya sangat tepat disaksikan di ruangan teater dengan soundsystem mumpuni, aku paling senang mengingat suasana menontonnya. Semua orang saling was-was, bahkan ada anak kecil nyeletuk “Pak, itu teu ku nanaon tetehna?” saat kaki Segen (Daniella Kertesz) si tentara tangguh digigit zombie.

The Guardian of Galaxy

marcianosmxdotcom

via marcianosmx.com

Groot memang lucu dan menggemaskan. Chris Patt memang tampil menawan. Tapi yang menyenangkan dari pengalaman menonton film ini di bioskop adalah saat telinga dimanjakan dengan soundtrack ­film yang sangat enak untuk dinikmati mulai dari dentuman ‘Pina Colada’ nya Rupert Holmes hingga ‘Fooled Around and Fell in Love’ nya Elvin Bishop yang mendayu-dayu . Semuanya sangat menyenangkan untuk dinikmati di bioskop!

Gravity

btchflcksdotcom

via btchstfk.com

Menyaksikan George Clooney dan Sandra Bullock mengapung-apung di luar angkasa dengan menggunakan kacamata 3D adalah pengalaman menonton terbaik di bioskop yang tidak dapat dibantah. Selain mata dimanjakan dengan efek visual yang gila, belum pernah rasanya menonton film “sehening” Gravity di bioskop, dimana para penonton juga terhanyut dengan keheningan yang disuguhkan film ini. A real nice solitude moment.

Interstellar

nolanfansdotcom

via nolanfans.com

Dua film bertema luar angkasa berturut-turut karena memang film-film semacam ini terlalu sayang untuk disaksikan lewat layar komputer. Ada beberapa hal yang membuat pengalaman menonton film ini menjadi pengalaman menonton film di bioskop yang berkesan. Pertama, Interstellar membuat imajinasiku akan wujud-wujud planet selain bumi menjadi nyata (bayangkan ada planet yang isinya cuma tsunami setiap menit?). Kedua, orang-orang di dalam teater sibuk berdiskusi. Semua orang dibuat tidak percaya, takjub dan penasaran dengan teori cryosleep-system yang bikin Matthew McCoughney tidak menua barang sedikitpun sementara anaknya yang ia tinggal di bumi sudah berubah jadi nenek-nenek reot. Diskusi bahkan masih terdengar saat orang-orang berjalan keluar dari teater.

I’ll write another review later!

Don’t Be Afraid to Fall in Love Like Dodge and Penny

Waktu menonton film  “Seeking a Friend For The End of The World” ada satu pertanyaan mengganggu yang muncul di pikiranku:

Gimana kalau aku baru bener-bener ketemu jodohku pas baru mau kiamat? Gimana kalau kalian baru ketemu soulmate kalian pas kiamat tinggal 10 hari lagi? Apa yang bakal kalian lakukan?

giantfreakinrobot
via giantfreakinrobot.com

Saat seluruh manusia yang hidup di bumi tahu kiamat hanya tinggal hitungan hari lagi dan stasiun TV, koran, radio secara konsisten mengumumkan hitung mundur menuju kiamat orang-orang punya reaksi yang berbeda dalam mengahadapi kiamat ini. Ada yang memutuskan buat memanfaatkan sisa-sisa hidupnya untuk melakukan berbagai hal yang selama ini gak pernah mereka lakukan. Ada yang pesta terus-menerus. Ada yang memilih buat nyewa pembunuh bayaran aja biar meninggalnya gak begitu menyakitkan dan ada yang kabur dari suaminya buat mengejar cinta lamanya.

Yang terakhir, sayangnya dialami sama Dodge (Steve Carell), isterinya tiba-tiba hilang tapi akhirnya ketahuan kabur sama bekas pacarnya. Ngerasa karena bentar lagi juga mau kiamat, Dodge gak berupaya begitu keras buat menjalani sisa-sisa hidupnya. Tapi di hari-hari akhir menjelang kiamat rupanya Dodge dipertemukan dengan Penny (Kiera Knightley) seorang gadis yang selama ini tinggal di bawah lantai apartemen Dodge. Mereka berdua gak menyangka saat kiamat benar-benar tinggal hitungan hari lagi, mereka kembali diberikan kesempatan untuk jatuh cinta untuk terakhir kalinya setelah sebelumnya menghabiskan bertahun-tahun lamanya dengan orang lain. Rupanya mereka baru menemukan satu sama lain pas dunia tengah didekati komet mematikan yang menandai berakhirnya dunia untuk selamanya.

Walaupun pada akhirnya pertanyaan penuh penyesalan kayak “Why we just met now?” menghampiri benak Dodge dan Penny mereka tetap merasa bersyukur udah saling dipertemukan.Mereka tahu walaupun akhir dari dunia udah semakin dekat, waktu mereka buat barengan gak lama lagi, mereka gak bisa menyia-nyiakan kesempatan untuk jatuh cinta lagi cuma karena ngerasa percuma lantaran harapan hidup juga udah mau ilang. They use those little time to fall in love for the last time ever :’’’’

Pada akhirnya kita memang gak pernah tahu ya siapa yang akhirnya bakal mendampingi kita sampai mati kelak. Kita gak pernah tahu apakah orang yang sudah menemani kita bertahun-tahun adalah ‘yang terakhir’? Atau bisa saja cinta itu datang terlambat seperti yang dialami oleh Dodge dan Penny. But well, no matter how bad it is kesempatan yang masih diberikan untuk bisa mencoba dan mengalami perasaan jatuh cinta itu mesti disyukuri cause like Dodge said:

vlcsnap-2016-12-01-21h07m58s685

vlcsnap-2016-12-01-21h08m07s890

vlcsnap-2016-12-01-21h08m16s715

Aaaaak, one of my favorite movie pokoknya! Btw soundtrack film juga ini enak parah. Termasuk  soundtrack film terenak yang pernah aku dengar juga pokoknya.Worth to listen and definitely worth to watch!

I Hate Today Cause..

I watched this incredible movie and I cant stop crying.

I cried so hard, god damn it aaaaak this movie is so touching in so, so many ways! Asli. Padahal filmnya minim dialog banget, tapi akting semua pemerannya kena banget, banget, banget. 

Duh, mungkin karena pada dasarnya aku juga anak yang lebay dalam menghayati film jadi terbawa suasana banget ya?

Tapi.. Asli.. Film ini bagus. Gak bisa dijelaskan gitu. Dibilang ceritanya mengharukan juga nggak. Dibilang dramatis banget juga nggak. Aslinya film ini datar-datar aja. Ekspresi pemeran utamanya kosong.

Tapi, tapi..

Ceritanya benar-benar kena gitu di hati aku. Semuanya. Dari awal sampai akhir bikin aku terhanyut. Bikin aku entah kenapa bisa terlarut sama rasa depresinya Lee, kasih sayang orang-orang di sekitar Patrick. Entah kenapa aku bisa rasain kegetiran semua kisah hidup karakter-karakter di film ini.

ASLI INI BAGUS BANGEEET!

*speechless*

Rasanya semua pemeran di film ini mulai dari Casey Affleck, Lucas Hedges, Kyle Chandler dan Michelle Williams bukan kaya lagi akting. Mereka seakan-akan emang karakter-karakter asli di film ini yang kebetulan kisah hidupnya ditayangin dan semua orang bisa nonton gitu.

Mungkin terdengar lebay tapi.. Asli ini bagus banget.

*gak tau lagi mesti mendeskrepsikannya dengan kata-kata apa*

Salah satu film slice of life terbaik yang aku pernah tonton pokoknya.