La La Land Tell Me to Dream

*tulisan ini mengandung spoiler!*

Aku menyesal sekaligus bahagia nonton La La Land di bioskop.

27COVERJP1-master675

Bahagia karena menonton film ini di bioskop menjadi salah satu pengalaman menonton di bioskop yang memuaskan dan menyenangkan hati, menyesal karena aku gak bisa nangis dengan lepas! Haha. Oh iya, aku gak akan mengulas film ini, aku cuma mau ceritain hal-hal yang aku suka dari film ini.

Habis bingung mau mengulas kayak gimana, karena seperti yang sudah-sudah kalau filmnya meninggalkan kesan mendalam buatku, aku jadi suka kehabisan kata-kata untuk menggambarkan perasaan saat menonton film tersebut.

Oh iya lagi, btw, sebenernya aku lagi ngerjain revisi skrpisi sehabis sidang, tapi lagu Goodluck punyanya Sondre Lerche, yang pas bagian biola di akhirnya bikin aku inget sama pengalaman nonton La La Land kemarin dan aku jadi mau menulis ini.

Well, selain dapet ulasan bagus dari banyak media dan kritikus plus menyabet banyak penghargaan alasan aku ingin menonton film ini karena aku suka film musikal. Aku jatuh cinta setengah mati sama Memories of Matsuko dan menasbihkannya sebagai film favorit selama ini.

Aku seneng banget liat pertunjukan teater sejak SMA. Aku seneng nonton film seperti Hairspray atau Les Miserables atau Sounds of Music walaupun banyak yang bilang film seperti ini bikin ngantuk.

Tapi karena demen, aku udah yakin banget menonton La La Land di bioskop ini akan menjadi pengalaman yang menyenangkan karena aku pasti bakal senang liat koreografi atau musikalisasinya. Apalagi didukung dengan sound system bioskop pasti lagu-lagu di film ini bakal lebih ciamik buat dinikmati, begitu pikirku.

***

Dan hatiku sudah berdegup kencang sejak film ini dimulai. Aku langsung jatuh cinta sama koreografi para aktor dan aktris saat lagu Another Day of Sun menggelegar, memecah diam para penonton. Aku suka adegan saat tarian enerjik dengan tempo cepat itu ditutup dengan sangat rapi dan natural saat mereka semua kembali masuk ke dalam mobil dan menikmati kemacetan.

Dan untuk selanjutnya dan selanjutnya aku suka semua adegan-adegan di film ini yang disajikan dengan visual yang menawan. Belum lagi paras cantik Emma Stone yang memukau sangat enak dipandang banget ya ternyata kalo diliat di layar lebar seperti itu? Haha dulu aku liat dia biasa aja tapi kok di La La Land cantik parah ya.

Pokoknya selama nonton ini hatiku bergumam “Aaaaak beautiful pictures everywhere!”. Hehe aku memang gampang jatuh hati sama film yang memanjakan mata alias visualisasinya itu cantik dan surreal. Makin jatuh cinta lagi kalau filmnya menawarkan plot cerita sederhana tapi bermakna seperti La La Land.

Hmm, contoh film lain dengan premis sederhana tapi sukses membuatku baper dan gak henti-hentinya memikirkan film (plus visualisasinya cantik nan bermakna) itu adalah Forrest Gump, Liberal Arts, Big Fish, Seeking a Friend in The End of The World, Grandma, Grand Budapest Hotel, Roald Dahl’s Esio Trot dan masih banyak film lainnya.

Tapi contoh paling gampang sih ya Memories of Matsuko. Duh, maaf pokoknya aku gak akan bosan menyebut Memories of Matsuko sebagai jelmaan film favoritku berkat visualisasi adegan-adegan filmnya yang breathaking dan ceritanya yang sangat bermakna.

Nah, ceritanya La La Land sendiri itu sederhana banget. Malah kayaknya kalau dibikinin uraian main storynya di storyboard aku jamin bakal pendek banget. Tapi entah kenapa cerita sederhana yang sebenernya bukan formula baru di dunia perfilman dan cenderung klise parah ini ngena banget.

Aku baca review di Rolling Stone soal film ini dan setuju sama pernyataan “Saat kesuksesan lebih manis daripada cinta”. Huhu bener banget! Siapa kira kisah cinta Mia dan Sebastian mesti berakhir pahit dan getir?

Tapi meskipun demikian, aku mau menghaturkan pujian buat Chazelle sang sutradara karena sudah membuat penutup film ini indah seindah-indahnya kisah cinta manusia paling bittersweet di muka bumi.

Asal Mas Chazelle tau, air mataku langsung tumpah saat Mia membayangkan adegan awal bertemu dengan Sebastian. Saat Sebastian mengulang adegan pertemuan itu dengan cara yang berbeda. Saat seluruh orang di bar bernyanyi. Saat imajinasi Mia menyeruak ke seluruh penjuru ruangan bar. Saat Sebastian mengakhiri “Mia and Sebastian Theme” dengan amat pelan.

Ya, Chazelle, teteh-teteh di belakangku bahkan nangis sesenggukan. Bapak-bapak di sebelah pacarku malah menyapu air mata di pipinya. Semua orang sedih melihat akhir cerita Mia dan Sebastian. Formula kisah cinta yang sebenernya gak baru-baru amat dan malah karena yang meranin Sebastian adalah Ryan Gosling jujur aku malah jadi inget pas doi pisah sama Rachel McAdams di The Notebook.

Tapi entah mengapa film ini dapet banyak penghargaan, mungkin selain aspek musikalisasi dan visualisasinya yang bagus, film ini memikat karena premis sederhananya yang bicara soal mimpi (walaupun klise) relevan sama kondisi banyak orang saat ini juga kali ya?

Maksudku, persoalan tentang wujud-mewujudkan mimpi sebagai ide cerita film itu bukan hal baru sama sekali. Tapi kenapa La La Land yang bicara soal mimpi ini bisa memikat banyak hati orang? Kalau buatku pribadi sih, perjuangan Mia sama Sebastian buat mewujudkan mimpinya semacam jadi reminder buat diri sendiri

Apalagi aku menonton ini bersamaan dengan momen buat menentukan jalan hidup setelah lulus. Walaupun ini terdengar sangat klise, jujur dari hatiku yang terdalam cerita Mia yang ingin menjadi aktris dan Sebastian yang mau punya bar jazz ini membuatku mengevaluasi lagi soal mimpi-mimpi yang aku punya.

Menonton film ini membantuku buat mengingat kembali mimpi-mimpi yang pengen aku capai, semacam jadi reminder untuk jangan takut mencoba mewujudkan dulu itu semua. Even the world could swallow and spit you.

Harga untuk mewujudkan sebuah mimpi terletak pada keberanian orang-orang yang masih punya tekad  buat mewujudkannya. Begitu kira-kira pesan dari La La Land yang jadi reminder buatku. Aku memikirkan hal itu setelah keluar dari teater dan di perjalanan pulang. Dan aku senang aku jadi ingat kembali tujuan-tujuan hidup berkat menonton film ini, sungguh.

flat,550x550,075,f.u1

13/1/17

Don’t Be Afraid to Fall in Love Like Dodge and Penny

Waktu menonton film  “Seeking a Friend For The End of The World” ada satu pertanyaan mengganggu yang muncul di pikiranku:

Gimana kalau aku baru bener-bener ketemu jodohku pas baru mau kiamat? Gimana kalau kalian baru ketemu soulmate kalian pas kiamat tinggal 10 hari lagi? Apa yang bakal kalian lakukan?

giantfreakinrobot
via giantfreakinrobot.com

Saat seluruh manusia yang hidup di bumi tahu kiamat hanya tinggal hitungan hari lagi dan stasiun TV, koran, radio secara konsisten mengumumkan hitung mundur menuju kiamat orang-orang punya reaksi yang berbeda dalam mengahadapi kiamat ini. Ada yang memutuskan buat memanfaatkan sisa-sisa hidupnya untuk melakukan berbagai hal yang selama ini gak pernah mereka lakukan. Ada yang pesta terus-menerus. Ada yang memilih buat nyewa pembunuh bayaran aja biar meninggalnya gak begitu menyakitkan dan ada yang kabur dari suaminya buat mengejar cinta lamanya.

Yang terakhir, sayangnya dialami sama Dodge (Steve Carell), isterinya tiba-tiba hilang tapi akhirnya ketahuan kabur sama bekas pacarnya. Ngerasa karena bentar lagi juga mau kiamat, Dodge gak berupaya begitu keras buat menjalani sisa-sisa hidupnya. Tapi di hari-hari akhir menjelang kiamat rupanya Dodge dipertemukan dengan Penny (Kiera Knightley) seorang gadis yang selama ini tinggal di bawah lantai apartemen Dodge. Mereka berdua gak menyangka saat kiamat benar-benar tinggal hitungan hari lagi, mereka kembali diberikan kesempatan untuk jatuh cinta untuk terakhir kalinya setelah sebelumnya menghabiskan bertahun-tahun lamanya dengan orang lain. Rupanya mereka baru menemukan satu sama lain pas dunia tengah didekati komet mematikan yang menandai berakhirnya dunia untuk selamanya.

Walaupun pada akhirnya pertanyaan penuh penyesalan kayak “Why we just met now?” menghampiri benak Dodge dan Penny mereka tetap merasa bersyukur udah saling dipertemukan.Mereka tahu walaupun akhir dari dunia udah semakin dekat, waktu mereka buat barengan gak lama lagi, mereka gak bisa menyia-nyiakan kesempatan untuk jatuh cinta lagi cuma karena ngerasa percuma lantaran harapan hidup juga udah mau ilang. They use those little time to fall in love for the last time ever :’’’’

Pada akhirnya kita memang gak pernah tahu ya siapa yang akhirnya bakal mendampingi kita sampai mati kelak. Kita gak pernah tahu apakah orang yang sudah menemani kita bertahun-tahun adalah ‘yang terakhir’? Atau bisa saja cinta itu datang terlambat seperti yang dialami oleh Dodge dan Penny. But well, no matter how bad it is kesempatan yang masih diberikan untuk bisa mencoba dan mengalami perasaan jatuh cinta itu mesti disyukuri cause like Dodge said:

vlcsnap-2016-12-01-21h07m58s685

vlcsnap-2016-12-01-21h08m07s890

vlcsnap-2016-12-01-21h08m16s715

Aaaaak, one of my favorite movie pokoknya! Btw soundtrack film juga ini enak parah. Termasuk  soundtrack film terenak yang pernah aku dengar juga pokoknya.Worth to listen and definitely worth to watch!