Things I Learned From Acne #1

22
Bikin di canva.com

Akui deh, pas kulit kita bermasalah seperti jerawatan pasti jari kita langsung mengetik kata-kata semacam “cara menghilangkan jerawat” atau “pengalaman menghilangkan jerawat” di ponsel kita kan? Nah, dari sekian banyak informasi dari artikel-artikel yang ada di internet itu ada berapa banyak sih tips-tips yang langsung kita ingat-ingat dan kita praktikan?

Jujur, saat mukaku diterjang pasukan jerawat Juli 2016 lalu aku lebih sering baca info-info soal jerawat yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Informasi seperti pentingnya exfoliating, penggunaan pelembab, penggunaan sunscreen, hal-hal yang sifatnya technical dan berhubungan sama skincare routinity banget. Sementara, info-info yang terdengar klise seperti “minum air putih yang banyak” atau “kurangi makan gorengan” cuma aku baca sekilas dan aku abaikan begitu saja.

Sampaaai suatu hari, aku mengalami sendiri akibat dari mengabaikan informasi atau tips-tips untuk menghindari jerawat yang terdengar sepele seperti itu. Jadi sebenernya apa aja sih informasi soal jerawat yang sering kita pandang sebelah mata tapi ternyata penting banget buat disimak baik-baik?

  1. No Dirty Hands, Please!
teendotcom
teen.com

Saat kondisi kulitku udah membaik which mean jerawat-jerawat kecil udah pada “meredup” dan kulit tidak terlalu kering lagi, secara tanpa sadar tanganku suka bandel megang-megang muka. Daaan percaya gak percaya, beberapa menit setelah aku pegang-pegang, ada satu jerawat langsung muncul! Reaksinya itu cepat banget! Lihat video ini  buat tahu kenapa emang kita gak boleh sering-sering megang muka, apalagi kalau tangannya lagi kotor. The lessons is jangan langsung terbuai saat kondisi kulit udah membaik dengan memegangnya pakai bare hands ya kalau gak mau si jerawat balik lagi dan lagi.

  1. Watch What You Eat
giphy
giphy.com

Aku pernah ada di masa-masa bingung banget karena si jerawat ini produktif banget munculnya. Seakan-akan tiap malem semua jerawat ini bangkit dari permukaan kulit aku. Nah setelah diperhatikan, aku merasa jerawatku suka semakin banyak kalau aku habis makan makanan super berminyak seperti sate jeroan, kol goreng dan gorengan. Kerasa aja besoknya langsung ada jerawat gitu. Hal yang sama juga terjadi setelah aku minum minuman bersoda, biskuit dan es krim. Nah aku pun mulai ngurangin makanan-makanan itu selama dua mingguan dan ngaruh lho! Beneran, mukaku jadi agak kalem dan jerawatan gak muncul terlalu sering. Jerawat sendiri kan didorong oleh produksi minyak berlebih ya, jadi memang sudah sepantasnya kita menjaga pola makan dengan menghindari dulu junk food atau processing food. Aku juga merasa jadi gampang jerawatan semenjak jarang makan sayur dan berhenti minum air lemon+madu lagi. Well, ubuh emang gak pernah boong lho, saat kita memberikan hal-hal buruk ke tubuh ya hasilnya adalah penyakit seperti jerawat. Btw, pipiku mulai dihinggapi lagi jerawat kecil-kecil pas aku mulai makan mie instan dan berbagai jajanan gak sehat lain kayak seblak huhu. Percayalah, apa yang kita makan dan minum berpengaruh banget.

  1. Water Never Lie
tumblr
tumblr.com

Ibaratnya penjernih, air putih itu alat buat detoks tubuh yang paling murah dan mudah dicari sebenarnya. Air putih itu berfungsi sebagai pembuang racun di tubuh jadi memang bukan lagi disarankan untuk diminum tapi udah wajib hukumnya buat rutin diasup ke dalam tubuh. Sebenarnya gak ada pakem pasti soal berapa kali sebaiknya kita minum dalam sehari sih. Tapi kita dianjurkan untuk selalu minum setiap kita merasa haus saja. Nah, pas aku stop makan makanan manis, pedas dan gorengan dulu itu aku juga melengkapinya dengan banyak-banyak minum air putih and it really works. Banyak minum air putih saat jerawatan juga bikin kulit kita gak dehidrasi lagi which mean melembabkan kulit tanpa membuatnya jadi berminyak. Mending stop dulu mengkonsumsi semua minuman manisnya ya?

  1. Change Your Bed Sheet or Basically Clean Your Bedroom
seventeen
seventeen.com

Ini nih, tips yang paling sering aku abaikan karena emang pada dasarnya malas hehe. Jadi selama bulan Desember 2016 itu kondisi kulitku udah membaik banget. Jerawat kecil-kecil udah gak ada, kulit udah gak kering, sekilas aku menganggap kondisi kulitku udah normal lagi. Nah, classic me habis merasa semuanya udah normal lagi aku pun kembali melakukan kesalahan. Setiap tidur aku menempelkan bantal ke muka karena gak mau denger suara-suara berisik di luar. Beberapa hari kemudian, tepatnya awal Januari 2017 bermunculanlah dua jerawat besar yang merah banget di pipi. Nice surprise banget ya 🙂 Duh, rasanya kesal dan nyesel kemaren-kemaren malah tidur kayak gitu. Lalu jadi berpikir juga, mungkin emang selama ini sprei, kasur dan selimutku kotor dan perlu diganti. Jadi mungkin banget kalau selama ini jerawat di muka bandel dan gak hilang-hilang karena tempat tidur kita berdebu.

  1. Clean Your Fan/AC Too!
giphy1
giphy.com

Hal yang sama juga berlaku buat kipas angin atau AC. Kalian yang di kamar tidurnya pakai AC atau kipas angin perlu rutin membersihkan dalemnya karena kedua alat ini berfungsi juga dalam mengatur sirkulasi udara yang menerpa kulit kita. Intinya, balik lagi ke persoalan debu dan kotoran. Kan sama aja kalau kita udah ganti sprei dan selimut tapi tanpa sadar AC atau kipas angin kita yang sudah sangat berdebu masih digunakan. Nempel lagi, nempel lagi!

  1. Change The Towel Too
onediodotcom
onedio.com

Handuk pun menjadi salah satu hal yang mesti kamu perhatiin. Handuk yang gak diganti-ganti atau gak dicuci berbulan-bulan lamanya mungkin banget jadi sarang debu dan bakteri. Dan bayangkan kalau setiap hari kamu menepuk-nepuk muka sama handuk yang kotor? Bisa jadi semua proses pembersihan muka yang udah kita lakukan menjadi percuma karena debu yang menempel di handuk kembali menutupi pori-pori kulit. Benar-benar hal kecil yang sering kita lupakan banget!

  1. Stress is Real, Dear People!
tumb;r dot com
tumblr.com

Sengaja aku taruh paling terakhir karena stres adalah musuh yang paling jago sembunyinya, dia gak selalu menampakan diri tapi diam-diam paling berpengaruh dalam memunculkan jerawat! Saat mengerjakan skripsi, jujur, aku mengakui kalau aku stres. Tapi ya gak lebay-lebay banget sih aku masih suka main, ya bersenang-senang intinya. Tapi sepertinya tanpa aku sadari, tekanan di dalam diri aku ini jauh lebih besar dari yang aku bayangkan. Saat aku merasa udah jaga makan, olahraga, pakai produk yang so far cocok-cocok aja tapi si jerawat ini suka gila-gilaan munculnya aku yakin ini urusannya udah sama hormon dan stres. Jadi dengarkanlah tubuh kita baik-baik. Jerawat mungkin jadi salah satu alarm kalau pikiran kita terlalu stres lho. Coba tenangkan hati dan pikiran barang lima atau sepuluh menit aja dengan meditasi. Aku download app namanya Stop, Think & Breath dan lumayan bikin hati gak dag-dig-dug melulu memikirkan masalah. It really help me to pause the stress even for five or ten minutes.

Beberapa hal di atas adalah info-info buat menghilangkan jerawat yang sering aku anggap remeh but it turns out memang perlu banget dipraktekin. Serius, aku udah mengalaminya sendiri! Hehe. Oh iya, tulisan ini juga menjadi pembuka cerita mukaku yang berjerawat di blog ini. Rencananya aku masih akan banyak cerita soal pengalaman kulitku yang diserang jerawat semenjak mengerjakan skripsi ini huhu. Semoga bermanfaat!

Cheers, F

 

 

Semangat Baja GoGoJiLL

Sebuah kompetisi menjadi kejutan menyenangkan dan celah untuk tampil di industri musik.

Oleh Firda Fauziyyah

aa
Foto: Risma

Keinginan bermain musik yang menggebu-gebu dan angan untuk dikenal banyak orang pernah mengantarkan vokalis Bimbi Sukma Dewi, penggebuk drum Weny Puspita Yanti, pemain bas Ayis Maresya Ramadhan, dan gitaris Yunita Purnamasari kepada kerasnya Jakarta. Tawaran untuk tampil di Jakarta malah membuat mereka mendarat di sebuah kamar sewa berukuran kecil, terluntang-lantung dengan uang pas-pasan beserta segala hal yang telah mereka persiapkan dengan baik. Mereka memutuskan untuk kembali ke Surabaya dan tidak lagi membuat cita-cita yang muluk bagi karier bermusik mereka.

Setelah kejadian tersebut, mereka menjadikan musik bukan sebagai pekerjaan. “Dulu ambisi kami besar sekali, berpikirnya masih polos. “Ah, kita nanti kalau sudah di Jakarta akan begini begini.” Saat gagal, akhirnya kami memutuskan untuk di Surabaya saja. Bikin lagu yang kami ingin, tidak usah banyak tujuan lagi seperti dulu. Kami kehilangan tujuan dan tidak seambisius dulu,” ujar Weny atau lebih akrab disapa We saat berkunjung ke kantor Rolling Stone pada Agustus lalu.

Bimbi dan Ayis tampil dengan potongan rambut pendek berwarna-warni, sementara rambut panjang Yunita dan We diberi sentuhan warna ungu dan coklat. “Ini nggak jauh berbeda dengan penampilan sebelumnya sebenarnya, hanya sekarang ada stylist khusus yang mengarahkan gaya kami semua,” ujar Bimbi.

Jauh sebelum bergabung di GoGoJiLL, Bimbi, We, Ayis, dan Yunita sudah punya grup musik masing-masing. Namun pertemanan yang telah terjalin di antara mereka sendiri sudah berlangsung enam tahun. “Kami ini sekampus beda jurusan. Bimbi dan aku kuliah manajemen, Ayis di akuntansi, dan Yunita kuliah kedokteran,” ujar We yang kerap meramaikan perbincangan hari itu.

 

Mengusung misi pembawa semangat bagi kaum perempuan, nama GoGoJiLL dipilih sebagai ungkapan untuk menyerukan rasa semangat itu. “Jill” dipilih karena memiliki arti “anak perempuan” dalam bahasa Latin. Mereka kemudian memulai perjalanan bermusik di Surabaya secara mandiri, mulai dari rekaman, produksi lagu, hingga perilisan album.

Menurut keempatnya, pada saat itu hal terpenting yang perlu ditekankan adalah penyebaran musik GoGoJiLL meski tidak tahu langkah apa yang diambil agar musik mereka banyak didengar orang.

“Dulu kami mengurus semuanya sendiri. Rekaman pakai uang sendiri, jadi produser lagu sendiri, apa-apa ya sendiri,” ujar Bimbi. “Semaunya kami, bikin musik yang menurut kami enak. Namanya juga masih belum banyak mengerti,” tambah Ayis.

Semangat untuk bermusik itu belum surut sekalipun mereka pernah mengalami penipuan. Di sela-sela kesibukannya kuliah kedokteran, Yunita masih meluangkan waktu untuk berlatih. Ayis dan We juga masih menyempatkan untuk rutin berlatih dengan kondisi harus bekerja kantoran pada malam harinya.

Mereka mulai belajar bahwa tak bisa senaif itu untuk meraih karier cemerlang di industri musik. Maka saat mereka telah mantap menjadikan musik sebagai kesenangan tanpa tujuan, ada rasa lega di benak keempatnya karena tidak perlu mengejar ambisi-ambisi seperti dulu. Sekaligus timbul rasa penasaran: Akankah karier bermusik mereka hanya bergerak sampai di situ?

Rasa itu akhirnya terjawab saat mereka menghadiri sebuah acara promosi merek kopi di Surabaya. Karena pembuat acara itu adalah teman dekat mereka, mereka ditawari untuk tampil. “Kami kaget waktu itu tiba-tiba disuruh tampil padahal kami tidak bawa alat-alat. Akhirnya mengambil alat musik di rumah Yunita. Kami tampil setelah pengisi acara resminya selesai, dan syukurnya orang-orang belum pergi. Setelah itu ada beberapa orang yang menawarkan diri untuk menjadi manajer. Mungkin ada empat orang yang hari itu menghampiri kami,” ujar We.

Salah satu di antara mereka adalah Widiasmoro. Widi menawari GoGoJiLL untuk mengikuti kompetisi. “Kita ambil tawarannya karena dia juga nggak minta imbalan apa-apa,” imbuh We. Tak disangka, pertemuan dengan Widi malah mengantarkan mereka lolos di dua kompetisi sekaligus; salah satunya adalah Guinness Amplify Talent Development 2014. Sampai saat ini mereka belum kembali bertemu dengan sosok yang telah mendaftarkan mereka ke kompetisi tersebut.

“Padahal kami nggak pernah terpikir untuk ikut lomba,” kenang Ayis. Widi mengirimkan single dari album mini GoGoJiLL, Biarkan. Awalnya mereka harus bersaing dengan 200 peserta, setelah itu disaring menjadi 30 besar. GoGoJiLL lolos ke tahap empat besar dan keluar sebagai pemenang kompetisi tersebut.

Mereka pergi ke Jakarta selama satu minggu untuk mendapatkan bimbingan dari para mentor, yaitu antara lain Adib Hidayat dari Rolling Stone Indonesia, Indrawati Widjaja dari Musica”s Studio, dan produser peraih lima Grammy Awards sekaligus produser U2 dan The Killers, Steve Lillywhite.

“Bukan kami yang “menyuguhkan diri”. Kami berangkat ke Jakarta mengikuti sesi mentoring bersama dewan juri di Jakarta,” ujar Bimbi. Mereka memulai semua dari awal, namun kali ini dengan bekal yang pasti karena mereka ditangani oleh orang-orang berpengalaman. Lagu “Percuma Mikirin Kamu” menjadi single perdana mereka di bawah Musica”s Studio bersama produser Lillywhite.

 

“Steve meminta kami untuk mempertahankan musik rock, jangan ikut terbawa-bawa lagu galau. Kami harus kuat. Dia termasuk orang yang sangat menerima ide. Bukan karena dia terkenal dan besar di dunia musik lantas dia senang mematikan ide. Dia sangat welcome dan tidak menutup kreativitas kami,” ujar Bimbi.

Tak berapa lama kemudian GoGoJiLL merilis lagu “Jangan Main-Main di Belakangku” dan “Takkan Mampu”, yang disambung dengan masa promosi. Pada akhirnya mereka mengakui ambisi untuk bermusik itu telah muncul lagi. “Banyak hal yang dulu kami tidak pernah tahu sekarang jadi tahu karena mentoring. Sekarang juga networking jadi ke mana-mana. Banyak keuntungannya,” ujar Yunita.

Mereka sempat terdiam saat mengisahkan perjalanan mengikuti kompetisi tahun lalu itu. Yunita angkat bicara, “Ada kejadian seru sebelum kami pergi mentoring ke Jakarta.” We dan Ayis tertunduk menahan senyum. “We dan Ayis hampir tidak mau berangkat, karena trauma sempat ditipu dulu. Dalam hati takut ternyata tidak akan jadi apa-apa begitu balik ke Surabaya dan kehilangan pekerjaan,” ujar Yunita.

“Kami sempat saling diam satu hari untuk nggak berangkat. Tapi pada akhirnya semua itu memang layak untuk dicoba dulu,” lanjut Yunita. GoGoJiLL mengaku percaya diri dengan karier mereka di musik Indonesia. “Intinya adalah kami harus terus berkarya dan tidak terputus-putus supaya aktif dan produktif, menjaga eksistensi. Kita masuk label bukan karena kemauan mereka, ini karena keinginan kami sendiri. Ini yang membuat kami sekarang lebih optimistis untuk diterima di musik Indonesia,” tutup Bimbi.

Tulisan ini juga dimuat di Majalah Rolling Stone Indonesia edisi September 2015.

Untitled

Curahan Hati Lewat Diskusi dan Fotografi di Bandung Photo Showcase 2015

Untuk versi publishednya dapat dilihat disini.

IMG_8512
Foto: Firda Fauziyyah

Sekelompok orang dengan latar pekerjaan dan umur yang berbeda berkumpul bersama dan saling menceritakan kisah hidupnya di dalam sebuah kelas. Di bawah arahan Arum Tresnaningtyas (Arum), orang-orang itu saling berdiskusi dan belajar untuk bercerita lewat medium fotografi. Ada yang bercerita soal ketakutannya pada kecoak, ada yang bercerita tentang kehidupannya jauh di pulau seberang hingga berkisah tentang penglihatan sang nenek yang mulai memburuk karena katarak. Semua cerita itu terangkum di dalam sebuah pameran fotografi bertajuk “Kami Punya Cerita” yang diselenggarakn di IFI Bandung, Jl. Purnawarman No.32.

Mereka yang terlibat di pameran ini adalah “murid-murid” yang berasal dari sepuluh angkatan kelas Kami Punya Cerita. Masing-masing dari mereka wajib membuat proyek sebuah foto cerita setelah melalui 8x pertemuan sharing di kelas. “Tugasku lebih ke membimbing dan mengatur diskusi agar semuanya bercerita, saling melengkapi. Aku membebaskan temanya, tapi walaupun cerita yang ada di foto ini beda-beda benang merahnya adalah kami semua berbagi cerita melalui fotografi,” ujar Arum. Memang tampak sekali karya-karya yang ditampilkan disini tak memiliki ketentuan khusus, entah itu dari tema, teknik fotografi atau kamera yang digunakan. Namun, cerita yang disampaikan lewat foto-foto ini, terasa amat jujur dan personal.

Kita dapat memasuki dunia baru setiap  melihat satu-persatu foto. Bahkan, seakan-akan diajak berkenalan langsung dengan kehidupan pribadi sang pemotret. “Ada yang bingung mau ambil tema apa. Setelah diskusi, akhirnya kepikiran kayak foto aktivitas anaknya, meja kerjanya, kucing, rumahnya. Disitulah ketemu ceritanya,” ujar Arum.  Apa yang ditampilkan lewat foto-foto disini menggambarkan cerita masing-masing orang yang terlibat dalam pameran ini. Tak hanya apa yang mereka alami sendiri tapi juga apa yang mereka amati sehari-hari. Entah itu saat berkunjung ke taman bermain, saat naik angkot, jatuh cinta di kedai kopi, hingga masuk ke ruang bedah rumah sakit.

“Ada foto yang secara teknik udah bagus banget tapi ya udah sekedar itu aja, tapi banyak foto yang biasa-biasa aja secara tekniknya punya cerita yang kuat banget, kayak ini..,” Arum menunjuk rangkaian foto yang memperlihatkan ruang bedah. Tampak potret seorang dokter yang tengah becermin, dan suasana saat sang dokter tengah melakukan operasi mata. Rupanya sang pemotret dari foto tersebut ingin bercerita bahwa potret ayahnya tersebut adalah dirinya di masa depan. Selain itu masih banyak foto yang memiliki cerita yang menarik. Cerita-cerita yang melatarbelakangi foto-foto ini juga terangkum di dalam buku Kami Punya Cerita yang baru di launching pada Rabu (11/5) lalu.

Pameran foto ini merupakan bagian dari rangkaian Bandung Photo Showcase 2015, acara gagasan Bungkus! Bandung Photography Now, KOMVNI Photo Collective serta Institut Français Indonesia. Masih banyak pameran dan diskusi yang akan memenuhi rangkaian acara Bandung Photo Showcase hingga nanti 17 Maret 2015. “Kami Punya Cerita” Photo Exhibition sendiri masih akan berlangsung sampai 17 Maret 2015 dan bagi yang ingin mendengarkan cerita-cerita dibalik foto yang ditampilkan di pameran ini bisa langsung mendengarkannya dari si empunya cerita, Senin 16 Maret 2015 pukul 15.00 WIB bertempat di IFI Bandung. (FF)

Melihat Keindahan Dari Perspektif WHOP dan Margaret Yap

Untuk versi published nya dapat dilihat disini.

17
Foto: Firda Fauziyyah

Berbicara soal keindahan, tentu masing-masing orang punya parameter tersendiri dalam menentukan apa yang layak disebut dengan “indah”. Mungkin bagimu keindahan itu adalah sesuatu yang memiliki nilai estetika tinggi tetapi bagi sebagian orang lain keindahan tak ditentukan oleh nilai-nilai seperti itu. Mungkin juga bagimu keindahan itu selalu berwarna-warni tetapi bisa jadi keindahan itu  hanya memiliki satu warna yang solid. Perdebatan macam itu tak akan pernah usai karena nyatanya keindahan memang bersifat subyektif.

Addy Debil a.k.a WHOP dan Margaret Yap memiliki cara yang berbeda dalam memahami keindahan tersebut.  Sepasang kekasih ini menceritakan perspektif mereka soal keindahan di Beautiful Matters Art Exhibition yang diselenggarakan di Institut Francais Indonesia (IFI) Jl. Purnawarman No.32, Bandung. Dibuka pukul 19.30 WIB oleh Addy Debil dan Mufti Priyanka (Amenk) selaku kurator, para pengunjung dipersilakan untuk memulai tur mereka. WHOP menampilkan karakter doodle  yang selama ini menjadi ciri khas karya-karyanya, sedangkan Margaret menyuguhkan sesuatu yang lebih kompleks. Kedua perbedaan dalam karya yang mereka tampilkan berhasil mewakili definisi keindahan bagi Addy Debil dan Margaret.

Selain dimeriahkan oleh Funktura dan Gesresk , ada juga art bazaar untuk kalian yang ingin membeli merchandise dari pameran ini. Beautiful Matters Art Exhibition sendiri akan berlangsung hingga 23 April 2015. Mengingat tagline pameran ini adalah “Beauty is the eye of the beholder”, maka tak ada salahnya untuk kalian datang dan menerjemahkan keindahan itu sendiri sebebas yang kalian mau.

[Wawancara]Arkarna: “Indonesia Memilih Kami”

Beberapa portfolio tulisan berupa artikel, ulasan dan wawancara. Untuk melihat lebih banyak contoh karya tulisan silakan hubungi blogdearthy@gmail.com

Untuk wawancara versi published nya silakan dilihat disini.

Obrolan tentang karier gemilang yang sempat memudar, rasa bangga tampil di depan seorang presiden dan tanggapan atas sindiran seringnya mereka kembali ke Indonesia.

Siang itu Ollie Jacobs dan Matt Hart datang satu jam lebih awal dari waktu bertemu yang telah ditentukan. Pihak label yang menemani mereka beralasan ngeri terjebak macet dan terlambat lantaran demo buruh. Alhasil mereka menunggu satu jam lamanya sembari menyantap kudapan.

Tak berapa lama kemudian, waktu untuk berbincang-bincang pun tiba. Ollie tampil mengenakan kaos merah bertuliskan “Indonesia” sementara Matt mengenakan kaos berlambang lidah ciri khas logo band legendaris The Rolling Stones. Keduanya dengan santai dan antusias memasuki kantor Rolling Stone Indonesia.

“Wow, it”s good,” ujar Ollie membuka percakapan hari itu sesaat setelah meminum jus jeruk yang disediakan. Ia tampak mengamati sekeliling. “Saya belum pernah melihat yang seperti ini,” lanjut Ollie saat mengambil alat perekam yang digunakan untuk merekam wawancara ini. “Telepon genggam ini cukup unik.” Kemudian ia menaruh kembali telepon genggam tersebut. Matt lebih banyak diam sampai akhirnya percakapan dimulai dan keduanya mulai mengisahkan perjalanan karier mereka di bawah naungan Arkarna.

Grup musik rock-elektronik asal Inggris yang sudah menelurkan dua album studio diantaranya Fresh Meat (1997) dan The Family Album (2001) serta sebuah album mini berjudul Music is My Therapy (2011). Single “House on Fire” yang menjadi penanda debut karier mereka berhasil meraup kesuksesan yang besar dan melambungkan nama Arkarna pada saat itu.
1998 menjadi kali pertama kedatangan Arkarna ke Indonesia.

Semenjak kedatangan pertama tersebut Arkarna mengaku Indonesia telah menempati ruang tersendiri di hati mereka. Membuat mereka tak pernah bosan untuk kembali ke Indonesia, entah itu saat melangsungkan konser di Bali dan Jakarta pada 2013 silam atau mengikuti inagurasi untuk merayakan kemenangan Jokowi sebagai presiden pada 2014 lalu. Seperti yang telah mereka katakan, Arkarna dan Indonesia telah menjalin ikatan yang sangat kuat.

Maka saat mereka kambali ke Indonesia pada tahun ini dan dengan kesadaran penuh menyanyikan ulang lagu legendaris milik Gombloh, “Kebyar-Kebyar”, sebagian orang menilai apa yang mereka lakukan adalah sebuah penghargaan terhadap Indonesia. Tetapi tak sedikit pula yang beranggapan mereka hanya sekadar mencari ketenaran semata di sini. Lagi-lagi pertanyaan mengapa mereka getol sekali menyambangi Indonesia terlontar. Namun berbeda dengan jawaban sebelumnya, kali ini bukan hanya sekadar ikatan khusus yang membuat mereka kembali. Lebih dari itu, Ollie dan Matt beranggapan bahwa Indonesialah yang telah memilih mereka.

Tolong ceritakan kampanye narkotika serta perilisan ulang lagu “Kebyar-Kebyar” yang kalian lakukan pada beberapa waktu lalu.
Matt:
Semua berjalan dengan sangat baik! Tanggapannya sangat hebat, meskipun kami tidak pernah melakukan kampanye semacam ini selama bertahun-tahun. Butuh waktu yang lama untuk merencanakan apa yang akan kami kerjakan sehingga kami sangat bangga dengan apa yang kami lakukan saat ini. Sebelumnya kami tidak tahu bagaimana reaksi masyarakat terhadap kampanye yang akan kami lakukan. Hal yang kami inginkan hanyalah memastikan semua yang kami lakukan bermanfaat.

Tanggung jawab yang kami pikul membawa pesan-pesan yang positif, orang-orang berkata ini [lagu “Kebyar-Kebyar”] membuat mereka menangis, mereka berkata apa yang kami lakukan adalah sesuatu yang indah dan kami ingin berterimakasih kepada semuanya telah menyukai kami. Pun dengan dukungan dari BNN dan masyarakat Indonesia. Mereka sangat ramah.

Kami juga berterimakasih karena telah diberi kesempatan untuk melakukan sesuatu yang kami cintai. Anda tahu? Ini semacam proses yang ingin membangkitkan kesadaran hingga ke hati banyak orang karena lagunya sendiri adalah lagu yang sangat kuat. Dan lagu tersebut benar-benar mendorong kami untuk melakukan sesuatu yang kami pedulikan selama ini.

Jadi semua berjalan dengan baik?
Matt: Ya, semua berjalan dengan baik. Kami berhasil mendapatkan empat juta hit dalam empat hari. Rasanya semua berjalan lancar.

Apakah kini Arkarna benar-benar hanya terdiri dari kalian berdua saja?
Olie: Ya, ini semacam proses transisi. Tapi di dalam “Kebyar-Kebyar” kami berkolaborasi dengan beberapa musisi Indonesia seperti pemain gamelan. Rasanya luar biasa dapat melibatkan musisi Indonesia tapi terkadang kami juga membawa rekan kami dari Inggris. Ya, kami masih melibatkan beberapa orang lain tapi tak menutup kemungkinan untuk bekerjasama dengan musisi Indonesia lagi di masa depan, semoga.

Anda telah menyanyikan lagu “Kebyar-Kebyar” berulang-ulang kali. Apakah rasanya semakin mudah?
Ollie: Sangat. Ini semakin mudah meskipun awalnya sangat sulit melafalkan kata-katanya. Namun kini semua terasa lebih mengalir apa-adanya dan itu adalah hal yang bagus.

Apa rasanya menyenangkan melihat antusiasme para penggemar di Indonesia?
Matt: Tentu saja, merupakan sebuah hal yang menakjubkan untuk mendapatkan respons semacam ini. Rasanya tak pernah melelahkan. Setiap saat kami kembali, kami selalu disambut dengan tangan terbuka dan itu merupakan suatu hal yang tidak dengan mudahnya bisa didapatkan di tempat lain. Kami rasa para penggemar di Indonesia mendukung kami dengan berbagai cara. Mereka selalu menyambut kami kembali. Saya rasa itu sangat menakjubkan. Ya, Anda tahu, memiliki sebuah kesempatan untuk tinggal di sini adalah hal yang hebat. Kami telah diberikan begitu banyak hal selama tinggal di sini.

Bagaimana tanggapan kalian terhadap kritik dari masyarakat Indonesia saat kalian membawakan lagu “Kebyar-Kebyar”? Tentu tidak hanya ada tanggapan positif yang kalian terima bukan?
Ollie: Saya rasa saya belum pernah benar-benar mendengarkan kritik kecuali dari seorang pria yang hadir di konferensi pers peluncuran single ini. Ia sepertinya menjadi satu-satunya pria yang melontarkan kritik dan tampak tidak menyukai kami. Karena hampir semua orang tampak sangat baik dalam menanggapi apa yang kami lakukan. Pertanyaan yang pria itu ajukan seperti “Mengapa kalian tinggal di Indonesia?”, “Mengapa kalian datang ke Indonesia?”. Rasanya, “Ya Tuhan, dia sangat mengerikan”.

Tapi untuk menanggapi hal tersebut kami selalu menegaskan, di dalam perjalanan karir kami, Indonesia selalu menjadi tempat yang ajaib bagi Arkarna. Saya rasa Indonesia benar-benar memilih Arkarna. Ini tidak seperti “Mari kita datang ke negara ini atau itu”. Tidak. Indonesia memilih kami. Dan bagi kami hal tersebut adalah anugerah dari dunia ini.

Sangat menakjubkan dan sebuah kehormatan bagi kami untuk menerima anugerah semacam itu karena tentu hal seperti itu tidak datang di setiap saat. Bukankah jika Anda menerima suatu hal yang menakjubkan di dalam hidup Anda harus menerimanya? Kami tidak bisa melawan seperti “Oh, saya tidak akan pergi ke sana dan membuat rekaman lain lalu membuat apapun yang kami inginkan”. Anda mengerti apa yang saya maksud bukan? Ini merupakan sebuah anugerah yang menakjubkan dan kami menerimanya dengan segala kerendahan hati.

Matt: Maksudnya adalah ketika Anda melakukan sesuatu dan menampilkannya kepada banyak orang, akan ada semacam tingkatan penerimaan. Anda tidak akan pernah memuaskan semua orang, tidak akan, dan tidak akan pernah. Akan selalu ada kebencian dan cara untuk menghadapi kritik semacam itu adalah dengan mencoba untuk menjadi orang yang positif. Kami tidak berpikir, “Mari kita biarkan mereka memengaruhi kreativitas yang kita miliki”. Faktanya, terkadang ada orang-orang yang membutuhkan perhatian atau iri dan berharap untuk memiliki pengakuan yang sama. Anda tidak bisa melawan hal negatif dengan sesuatu yang sama negatifnya.

Tapi yang pasti kami sangat mengahargai opini yang diberikan orang lain. Kami fokus dan bangga dengan apa yang telah kami lakukan dan kebanyakan orang mengatakan hal yang bagus. Anda tidak bisa mengharapkan 100% tanggapan yang positif. Jujur saja saya banyak meluangkan waktu untuk membaca dan membalas komentar-komentar masyarakat melalui media sosial. Ada satu komentar negatif yang saya baca, saya rasa dia hanya iri. Karena jika sisanya mengatakan dan menulis hal serupa maka kami tidak akan memiliki banyak pilihan seperti saat ini.

Apakah kalian beranggapan kesuksesan besar yang kalian raih pada 1997 merupakan “momen keemasan” Arkarna?
Ollie: Saya rasa, ya untuk beberapa hal, ya. Rasanya agak sedikit berat dan menyedihkan untuk berpikir seperti itu tapi mungkin banyak orang yang menyukai “Kebyar-Kebyar” dan lagu tersebut menjadi lagu pertama dari Arkarna yang mereka dengarkan.

Matt: Momen keemasan, rasanya tidak.

Ollie: Mungkin ini semua berkaitan dengan cara Anda memandang suatu hal. Mungkin beberapa kali saya berpikiran seperti itu. Saat pertama kali datang ke Indonesia semuanya terasa sangat intens. The fame thing was really hard. Dan bagi saya terkadang itu agak berlebihan. Terutama saat kembali ke masa dulu saat kami masih muda, saat kami masih dalam tahap berkembang, lalu mencoba untuk mengembangkan sebuah studio rekaman. Pada saat itu saya tidak terlalu mampu untuk menghadapinya. Tapi kini setelah mengalami itu semua saya belajar dari pengalaman dan menikmati momen-momen dimana orang berdatangan dan meminta foto atau lainnnya. Saya semakin membumi dan jauh bisa menikmatinya. Sejak merilis “Kebyar-Kebyar” kami tampil di berbagai acara televisi, ada lebih banyak orang yang menyukai kami, dimana-mana ya.. [terdiam] mengapa Anda menanyakan pertanyaan ini?

Saya hanya mengira-ngira apa yang ada di benak kalian saat memandang kesuksesan di tahun 1997 silam.
Matt: Mari katakanlah akan tercipta lagi momen keemasan lainnya. We can make another golden moment. “Kebyar-Kebyar” adalah salah satu momen emas kami begitu pun dengan inagurasi, saat kami tampil di depan Jokowi. Maksudnya, beberapa tahun belakangan ini sungguh gila. Seperti saat tampil di depan seorang presiden. Bagi kami itu merupakan sebuah kehormatan yang besar, apalagi inagurasi pada saat itu berlangsung di salah satu tempat bersejarah di negara ini.

Rasanya sungguh-sungguh gila. Jika kami terus menengok ke belakang dan membandingkannya dengan apa yang saat ini kami kerjakan, jika Anda terlalu sering melakukan hal semcam itu, langkah Anda akan terhenti dan Anda mulai mempertanyakan diri Anda sendiri. Dan mungkin apa yang kami kerjakan sebaiknya tetap tinggal di masa kini. Kami tidak pernah benar-benar duduk dan merencanakan akan membuat kampanye ini dan itu atau membicarakan konsepnya akan seperti apa.

Semua berjalan dengan alami. Rasanya sungguh ajaib saat satu persatu hal seperti yang saat ini kami lakukan tiba-tiba berdatangan. Saat Ollie berkata mengenai anugerah dari dunia, ya memang begitulah yang kami rasakan. Semua terjadi seperti telah ditakdirkan.

Sama halnya dengan album pertama yang kami buat, apa yang terjadi pada saat itu adalah apa yang kami rasakan pada saat itu juga dan secara tanpa sadar menjadi luapan yang meledak-ledak. Pada saat itu kami masih muda dengan pandangan hidup yang sama-sama masih muda dan percaya diri.

Ollie: [Terdiam] Ya, ya.. segala hal pada saat itu hanya terasa lebih intens saja. Seperti saat di depan pintu hotel dan dimana pun ada banyak pihak keamanan. Kami menghabiskan waktu sembari menontonnya dan tidak tahu apa yang terjadi. Saya jauh lebih menyukainya sekarang, seperti saat harus tergesa-gesa untuk bersiap-siap tampil hanya dalam 20 menit dan kami baru saja tiba dari Inggris namun pada akhirnya kami bisa menampilkan pertunjukan yang baik. It just chaotic.

Matt: Kami harus sadar bahwa industri musik telah berubah sangat drastis semenjak debut Arkarna. Kita berbicara soal beberapa kaset yang mungkin kebanyakan anak muda saat ini tidak akan tahu itu benda macam apa. Namun jika kembali pada masa dulu, setiap hari rasanya sungguh boros. Tidak ada kemudahan seperti saat ini. Dulu tidak ada media sosial. Jadi jika Anda ingin bertemu seseorang dengan lebih dekat Anda harus mendatanginya.

Tidak ada kemudahan akses seperti saat kini, Anda harus beradaptasi. Itulah alasannya mengapa masa-masa pada waktu itu sungguh gilau dan kacau. Saya rasa kita harus melihat pada masa-masa itu jika berbicara soal momen keemasan. Tapi pada akhirnya kami harus sadar bahwa industri musik terus berubah. Contohnya kampanye yang kami lakukan. Sebelumnya tentu musik tidak digunakan sebagai alat untuk berkampanye.

Jadi kalian benar-benar yakin bahwa industri musik telah jauh berubah?
Ollie: Oh my god yes! Industri musik telah berubah dimana-mana, internet telah memengaruhi banyak hal, katakanlah majalah. Cara orang-orang membaca majalah sudah tidak sama seperti dulu lagi mereka menggunakan internet, iPad. Sama halnya dengan majalah, musik pun demikian. Kini semua orang dapat membelinya di Spotify, atau streaming. Pembajakan juga tentu terjadi di Indonesia bahkan dengan penyebaran kaset yang berbentuk fisik. Saya ingat dulu pernah melihat ratusan kaset palsu Arkarna. Rasanya seperti “Yang benar saja!”. Apa yang bisa kami lakukan? Tentunya beradaptasi dan berubah. Pekerjaan setiap manusia adalah beradaptasi dan berubah. Bayangkan saat dulu orang-orang menulis kitab —tentu sebelum muncul printer—. Lalu datang printer dan orang-orang yang menulis secara manual kehilangan pekerjaannya. Anda harus berkembang dan berubah agar dapat bertahan.

Matt: Semakin berkembangnya teknologi dan ide-ide baru yang bermunculan membuat Anda harus mencari cara untuk tetap bertahan atau Anda akan kalah di dalam pertarungan. Kembali pada saat kami masih muda, masa-masa saat Arkarna terpukau oleh industri musik, namun pada saat yang bersamaan industri musik di Inggris berubah saat krisis ekonomi melanda. Hal itu telah mengubah semua hal. Setiap bisnis di Inggris mengalami pemotongan biaya secara besar-besaran. Semua hal tertumpu pada keputusan finansial, rasanya semua tertuju pada sisi eknomi bahkan musik sekalipun.
Pada masa-masa sulit seperti itu kami bisa melihatnya dari sudut pandang kreatif artis. Tapi seperti Anda tahu, hal-hal semacam krisis tetap saja menjadi hal yang tak bisa dihindari. Sehingga cara untuk mengatasinya adalah dengan cukup kreatif dalam mengikuti perubahan. Menerobos batasan-batasan yang ada.

Mengapa membutuhkan waktu yang sangat lama untuk merilis album mini Music is My Therapy pada 2011 sejak merilis album The Family Album pada tahun 1999?
Ollie: Saya membuat banyak proyek, saat formasi Arkarna terpecah saya mulai menulis dan memproduksi lagu tanpa orang lain. Hal tersebut berlangsung cukup lama sampai akhirnya saya membuat satu proyek dimana saya membutuhkan seorang pemain gitar dan saat itulah saya bertemu dengan Matt. Kami berdua pun mengerjakan proyek tersebut, hubungan yang terjalin diantara kami berdua semakin erat dan kami banyak membicarakan apa yang selanjutnya akan kami kerjakan. Beberapa di antaranya telah selesai dikerjakan. Kami mulai menata semuanya dari awal, membuat materi-materi baru dan pertunjukan pedana kami pada saat itu adalah Java Rockinland 2010.

Matt: Ada banyak hal yang berubah di dalam jeda panjang tersebut sehingga membutuhkan beberapa waktu untuk siap kembali bertemu dengan orang-orang serta menyiapkan semuanya dengan baik. Saat Anda melakukan sesuatu dengan baik, sangat penting rasanya untuk mengembangkan diri Anda sebagai seorang musisi. I think everything happens for a reason.

Ollie: Tepat sekali.

Arkarna. (Syaura Qotrunadha)

Apakah kalian masih memiliki semangat yang sama untuk membuat musik bagi Arkarna?
Ollie: Kami memiliki banyak ide baru yang ingin digarap dan saya rasa sejauh ini kami melakukannya dengan benar. Mungkin kami hanya belum benar-benar siap, tetapi secara teori. Ya! Tentu kami masih bersemangat.

Matt: Ya, sangat penting untuk menyeimbangkan segala hal. Selalu ada bagian di dalam pikiran Anda yang harus berurusan dengan kreativitas tapi Anda tidak akan pernah tahu ide-ide itu dapat berkembang menjadi sesuatu yang lain. Tapi satu hal yang pasti adalah kami selalu ingin membuat musik. Namun mengingat semua hal bisa datang dengan tidak terduga seperti inagurasi Jokowi tahun lalu, kami ingin membiarkan semuanya untuk menjadi kejutan.

Apakah kalian mengikuti berita-berita terkini mengenai pemerintahan Jokowi?
Ollie: Untuk beberapa hal kami harus sadar bahwa kami adalah musisi. Politik adalah permainan berbahaya bagi seorang musisi terutama musisi internasional. Kami mendukung dirinya pada saat inagurasi dan kini adalah waktu bagi dirinya untuk memberikan sesuatu kepada masyarakat Indonesia. Kami hanya mengharapkan yang terbaik untuk dirinya dan semua berjalan dengan lancar. Kami memang terlibat di dalam sebuah kampanye anti narkoba tapi sejujurnya lebih dari itu kami tidak ingin terlibat dalam permainan politik.

Matt: Kami tidak pernah bisa memprediksi apa yang akan terjadi dan perlu diketahui media sosial itu memiliki cara kerja yang sangat gila. Anda tidak akan tahu apa yang Anda tulis dapat memengaruhi berbagai hal. Itu sebabnya kami harus membatasi diri kami terhadap hal-hal politik semacam ini. Namun diundang oleh seorang presiden, bukan hanya Indonesia saja, adalah sesuatu yang tidak dapat kami tolak. Itu merupakan kehormatan yang luar biasa. Hal yang sangat menjebak tapi tidak membuat kami berminat untuk terjun ke dalam bidang politik. Hanya satu hal yang jelas adalah kami peduli dengan Indonesia.

Bagaimana kalian melihat industri musik Indonesia?
Ollie:
Sangat menyenangkan. Saya menyadari suatu hal bahwa orang Indonesia bisa sangat mengalir. Tidak terlalu terpaku dengan jadwal yang benar-benar ketat, kami selalu mengadakan rapat di Warner Music [label musik Arkarna di Indonesia] namun tidak terlalu mencemaskan banyak hal. Sedikit berbeda dengan yang kami lakukan di Inggris.

Matt: Saya menemui banyak musisi dengan talenta luar biasa selama tinggal di sini. Seperti banyak talenta tersembunyi yang hanya tinggal menunggu waktu yang tepat saja untuk ditemukan. [Matt memperlihatkan playlist di telepon genggamnya] saat ini saya mendengarkan GAC tapi favorit saya adalah Noah, “Seperti Kemarin”. Saya mendengarkannya sepanjang hari. Mereka adalah talenta yang sangat menakjubkan. Pada dasarnya musik adalah bahasa, jadi bukan sebuah masalah jika Anda tidak mengerti bahasa ibu dari penyanyi yang Anda dengarkan, Anda tetap dapat terhubung dengan lagu itu secara dekat.

Apakah sejauh ini ada rencana untuk berkolaborasi dengan musisi Indonesia?
Ollie: Kami telah melakukan kolaborasi dengan pemain gamelan dan pemain suling di “Kebyar-Kebyar”. Tapi, mungkin kami akan tertarik untuk berkolaborasi dengan musisi lainnya, meskipun hingga saat ini belum ada rencana seperti itu.

Matt: Kolaborasi bukanlah hal yang sederhana. Itu adalah proses yang alami. Kami tidak ingin melakukan sesuatu dengan terpaksa atau terburu-buru. Jika ada kolaborasi, itu harus dilakukan bersama musisi yang cocok dan memiliki visi misi bermusik yang sama dengan kami, dibanding hanya membuat sesuatu yang sudah pasti akan disukai banyak orang.

Bagaimana kalian melihat perjalanan Arkarna hingga saat ini?
Ollie: Ini adalah perjalanan yang sangat panjang, katakanlah semua telah dimulai sejak tahun “90-an. Tentu tidak mudah, ada fase naik dan turun tapi saya harus mengatakan, diri saya saat ini benar-benar sangat positif serta sangat bersemangat. Saya merasa ini adalah kesempatan yang bagus, saya bangga menyanyikan lagu Indonesia, itu seperti sebuah pencapaian. Saya rasa, [terdiam] ini seperti menaiki sebuah rollercoaster Arkarna dan ini semakin menyenangkan dan selalu bertambah menyenangkan.

Matt: Ya, bukankah semua hal yang kita kerjakan harus bermula dari apa yang kita cintai? Saya rasa kami selalu melakukan sesuatu dari hati dan jujur. Hasilnya apa yang kami kerjakan pasti akan selalu baik dan positif. Hingga saat ini.

[Wawancara]: HMGNC

Untuk melihat versi published nya silakan klik disini.

Rabu (9/9) lalu, NuArt Sculpture Park Bandung ramai dipadati oleh para Savior, sebutan bagi penggemar grup elektronik asal Bandung bernama Homogenic yang belakangan ini mengalami perubahan gaya penulisan menjadi HMGNC. Usai vakum dua tahun lamanya, Amandia Syachridar (vokal), Dina Dellyana (synth dan programming), serta Grahadea Kusuf (synth dan programming) akhirnya kembali hadir dengan merilissinglebaru di setiap bulannya.

Mundur ke bulan April, “Today and Forever” menjadi single pertama dari album mini yang rencananya akan dirilis utuh pada akhir tahun. Belum lama ini, mereka juga melemparkan “Memories That Last a Dream” secara gratis melalui situs Rolling Stone Indonesia.

Setelah dua tahun “menghilang” lantaran kesibukan masing-masing personelnya, HMGNC kini hadir dengan warna musik yang baru dan mengubah format lama band set ke digital set.

Transisi tersebut dibarengi dengan dibuatnya album remix untuk setiap single tersebut. “Today and Forever” pun menjadi lagu pertama yang di-remix, melibatkan sembilan musisi elektronik lain yang masing-masing adalah Andezzz, Avonturir, Android18, DTX, Mardial, Muztang, Noel G (Amerika), OSGD, dan Random.

Penampilan HMGNC pada gelaran pesta rilis single kedua sendiri dimulai pukul delapan malam setelah sebelumnya para penonton disuguhi musik dari DJ-DJ yang tergabung dalam kolektif Papermoon dan grup musik elektronik Kota Kembang beridentitas Colorfast. Tampil di atas panggung sederhana dan berhasil menjalin suasana intim nan hangat bersama para penonton pada malam itu, HMGNC turut membawakan lagu-lagu dari album sebelumya seperti “Destiny” dan “Happy Without You”, serta tentunya single terbaru “Memories That Last a Dream”.

Sementara Amandia tengah sibuk dirias, Rolling Stone berbincang dengan Dina dan Grahadea beberapa saat sebelum mereka naik ke atas panggung.

Ada cerita di balik lagu “Memories That Last a Dream”?
Dina: Liriknya sebenarnya bercerita tentang soal sulitnya move on dari masa lalu. Jadi mungkin harusnya dibikin cerita, ini tuh lagu tentang apa sebenarnya? [tertawa]
Grahadea (Dea): Iya, ini sebenarnya lagu pertama yang kami bikin dan sudah jadi setelah lama banget nggak bikin lagu. Sedangkan yang kemarin, “Today and Forever”, malah yang digarap belakangan. Nah, kalau yang ini sudah beres dibikin setelah lama banget vakum.

Lalu kenapa merilis “Today and Forever” dulu dibanding lagu yang ini?
Dea: Menurut kami, ini lagu yang paling kontras dengan “Today and Forever”. Targetnya beda. Kami memang ingin ambil pendengar yang berbeda-beda untuk saat ini. Ada pertimbangan seperti itu juga. “Memories That Last a Dream” beda lagi pendengarnya. Jadi influence-nya beda lagi. Nah karena lagu ini kontras banget dengan yang kemarin, akhirnya kami memutuskan untuk rilis ini. Lagu yang ini tuh lebih galau karena bercerita tentang seseorang yang nggak bisa move on. Lagunya juga disiapkan buat musim hujan [tertawa]. Pas buat menemani masa hujan. Kebetulan lagu ini jadi lagu yang paling banyak melalui proses aransemen berulang-ulang kali.
Dina: Iya, “Memories That Last a Dream” jadi lagu yang palling susah diaransemen.

Kenapa sangat susah diaransemen?
Dea: Karena kami sudah lama [vakum] ya. Tahu sendirilah kalau band sudah lama nggak mengeluarkan album, pasti maunya banyak banget kan? Ingin kayak begini, begini, begini. Segala macam. Sampai akhirnya kami bikin sesuatu yang bisa buat kami merinding dan itu adalah hasil dari lagu ini.

Apa yang membuat kalian mantap dengan aransemen lagu “Memories That Last a Dream” yang sekarang?
Dina: Ini versi yang sukses bikin kami merinding, lalu kami juga minta respons dari teman-teman juga. Kami vakum lumayan lama, otak kreatif pun lumayan tumpul jadi kami semacam perlu pengakuan: lagu ini cocok nggak sih? Mungkin soal masalah percaya diri atau karena sudah lama nggak tampil juga ya, jadi kami butuh diyakinkan saja. Kami tanya teman-teman, terus mereka respons, “Sudah mantap nih.” Akhirnya kami pun yakin dengan pilihan yang ini.

Apakah single ini bakal di-remix oleh nama-nama yang sama saat membuat remix “Today and Forever”?
Dina: Sekarang sudah sebar-sebar lagi tapi banyak musisi yang baru juga. Biar nggak sama dan ada nuansa yang beda dengan remix lagu “Today and Forever” kemarin.
Apa saja pertimbangan yang digunakan agar lagu HMGNC bisa di-remix oleh musisi-musisi tersebut?
Dea : Dulu sebenernya waktu album ketiga kami juga pernah bikin proyek remix seperti ini. Jadi kebetulan semuanya tanpa sengaja. Sebenarnya orang-orang juga sudah, “Eh, gue remix dong.” Mereka menawarkan diri, terus kami juga tahu kalau tren musik elektronik memang begitu. Sudah lumrah banget saling me-remix lagu, subgenre-nya juga sebenarnya banyak banget. Jadi kami coba angkat buat pendengar yang lebih luas saja, supaya anak-anak dengan subgenre musik elektronik lain bisa masuk. Tapi kebanyakan sih teman-teman sendiri juga yang me-remix “Today and Forever” kemarin.

Apakah di luar itu siapa saja boleh terlibat untuk me-remix single terbaru HMGNC?
Dea: Boleh sih, cuma kami dengar dulu Soundcloud-nya. “Ini masuk nggak? Bisa dipakai nggak?” Kalau sesuai dengan yang kami mau, bisa-bisa saja kok. Jadi sebenernya kami subyektif banget sih.

Ada alasan selain kesibukan kalian masing-masing yang membuat HMGNC baru memutuskan comeback tahun ini?
Dina: Sebenarnya bikin empat album itu nggak tahu kenapa ya, bikin otak jadi mentok. Nggak tahu mau bikin apa lagi dan agak kesulitan juga memikirkan lagu yang cocok dengan pendengar kami sekarang. Cuma kami memang selalu menulis banyak lagu, walaupun kami nggak puas terus. Jadi akhirnya kami memutuskan untuk bikin single saja; karena kalau nggak puas-puas, kapan albumnya bisa jadi? Jadi sekarang ini kami lagi mencoba untuk ‘satu lagu dilempar dan lihat reaksi, satu lagu dilempar dan lihat relaksi.’

Ada perasaan beban karena sudah sukses merilis tiga album?
Dina: Ada. Cuma kalau diperhatikan, tiap album itu punya mood yang berbeda-beda juga. Pada akhirnya sih pasti akan sesuai dengan fase yang kami jalani saat itu juga. Semacam ada pendewasaan otomatis. Nggak bisa dipungkiri kalau ada orang-orang yang beranggapan bahwa lagu kami yang sekarang itu seharusnya lebih mature, dan berbagai ekspektasi lainnya. Bakal selalu ada perasaan beban dan tegang kayak begitu.

Apa yang membedakan album mini ini dengan ketiga album sebelumnya?
Dina: Jauh lebih dipikirkan lagunya seperti apa, orang suka lagunya apa nggak, flow lagunya seperti apa, sound-nya seperti apa. Lagu ketiga yang akan dirilis nanti juga sudah dipersiapkan. Kalau untuk lagu yang ketiga suasananya lebih R&B, mirip dengan lagu yang sekarang. Jadi kalau lagu yang ini sukses, mungkin lagu yang ketiga kurang lebih sama. Tapi seperti yang tadi sudah dibilang, beda banget dengan”Today and Forever”, jadi agak deg-degan sama reaksi orang-orang. Syukurnya, sejauh ini reaksinya oke karena yang “Today and Forever” mood-nya masih HMGNC banget. Semoga yang ini bisa lebih.

Apakah kondisi berkeluarga banyak mempengaruhi inspirasi dan pembuatan album mini ini?
Dina: Pengaruh banget, jadi lama kalau produksi lagu. Fokusnya terbagi dan dari segi mood liriknya lebih to the point, nggak muluk-muluk lagi. Dulu kan kami bikin lirik lagu yang gantung-gantung [tertawa]. Lagipula ini album mini, jadi hanya bakal ada empat sampai lima lagu. Kami bikin lagu dengan perasaan yang lagi menempel pada saat itu juga. Kayak, “Wah, ini gue banget nih.” Inspirasinya juga bisa dari sekeliling, seperti curhatan karena gagal move on yang akhirnya jadi lagu kedua ini.

Apakah ada cerita di balik diajaknya kembali Arya Harditya untuk menjadi produser album remix HMGNC?
Dea: Dia itu jagoannya. Dia juga sangat paham dengan teknis dan wawasannya lebih luas. Menurut kami, dia adalah orang yang tepat buat mewadahi karya-karya remix itu. Dia paling tahu apa yang harus dibetulin dan nggak. Kami butuh masukan teknis semacam itu karena kadang-kadang suka males kalau tiba-tiba harus merombak lagi. Kalau dia. bisa langsung kasih masukan yang benar-benar cocok untuk lagu itu.

Apakah “Memories That Last a Dream” sendiri sudah masuk tahap untuk di-remix?
Dea: Sudah, tapi belum ada satu pun yang fix karena kami ingin santai saja. Nggak mau buru-buru. Kalau kemarin kan kebanyakan tuh yang masuk [tertawa]. Padahal sudah banyak yang ditolak-tolak lho. Jadi untuk yang sekarang bakal lebih sedikit dan santai biar semuanya matang dan sesuai dengan yang kami harapkan.

[Wawancara] Erix Soekamti: Menyoal Ide Untuk Selalu Tumbuh dan Berkembang

Untuk lebih banyak tulisan Firda Fauziyyah di Kanaltigapuluh silakan klik disini.

Awal Agustus tahun lalu jadi babak awal bagi Erix Soekamti untuk menjajal banyak hal baru. Mengaku tidak pandai menuangkan pemikirannya dalam bentuk tulisan, ia menunjuk video sebagai media yang menurutnya paling pas untuk merangkum cerita kehidupannya sehari-hari. Video blogging (Vlogging) itu dinamai DOES alias Diary of Erix Soekamti yang pada bulan Desember 2015 sudah masuk episode ke-100. “DOES NEVER DIES” seakan-akan menjadi penekanan kalau DOES akan terus ada dan tumbuh menjadi produk kreativitas lainnya seperti DOES University. Untuk Erix yang mengaku ide-ide liar yang ia punya itu terkadang bikin sulit tidur, bukan tidak mungkin akan muncul lagi proyek-proyek kreatif lain dari dirinya.

Pada awalnya kamu lebih banyak dikenal sebagai frontman band Endank Soekamti, namun semakin kesini lebih banyak mengerjakan proyek-proyek kreatif seperti Radio Soekamti, #DOES, Euforia Music Ecosytem, DOES University dan mengerjakan proyek pembuatan video musik musisi-musisi Indonesia. Apa sih yang mendasari kamu mengerjakan hal-hal ini diluar kesibukanmu sebagai seorang pemain band?

PASSION. Mungkin jadi alasan klasik yang paling tepat. Sebenarnya apa yang Saya kerjakan semata-mata adalah bentuk survive dari Endank Soekamti. Radio Soekamti kita bangun dari tahun 2007, dengan tujuan awal sebagai sarana komunikasi untuk komunitas kita sendiri (kamtis-komunitas dari fans Endank Soekamti). Semakin ke sini semakin mengerti kebutuhan untuk menjadi mandiri. itu sebabnya Kita membangun perusahaan sendiri yang kebetulan alhamdulillah ternyata bisa membantu teman-teman musisi lain juga.

EUFORIA AV (audio visual) : production house, film, animation & color grading.

EUFORIA Digital : web developer & digital content distribution.

EUFORIA REC : music record label.

EUFORIA PUSTAKA : penerbit karya tulis/buku  dan gambar/komik.

EUFORIA ID :  music ecosystem infrastruktur.

Di salah satu episode #DOES, kamu mengenalkan produk kreativitas teranyar yang diberi nama Soekamti Karaoke, apalagi tuh?

Kami selalu melaukan berbagai macam inovasi saat Endank Soekamti merilis album baru. Soekamti Karaoke adalah salah satu bentuk community service sekaligus output baru di album baru Endank Soekamti yang dirilis pada tahun ini.

Sejak kapan sih punya ide buat bikin Euforia ID ? Dan apa aja yang  udah kamu siapkan?

Ide awalnya datang sekitar tahun 2012, yang disiapkan ya semuanya yang seharusnya menjadi kebutuhan kami.

#DOES, Euforia, DOES University semuanya tentang kegiatan perubahan. Apa yang mendasari Erix untuk membuat  gerakan perubahan itu?

Kebutuhan untuk tumbuh dan berkembang.

Revolusi musik seperti apa yang dimaksud Erix dengan program Euforia ID nya?

Bersama musisi lain kami akan bergotong royong berjuang untuk memerangi segala kegelisahan di industri musik nasional pada saat ini.

Apa yang kamu maksud dengan ekosistem musik Indonesia yang sehat? Apakah keadaan musik Indonesia saat ini menurut kamu masih tidak cukup sehat?

Seperti ekosistem dalam alam semesta, kita harus saling berkontribusi untuk kelangsungan hidup bersama. Itu sebabnya kita mengganti moto DIY (Do It Yourself) menjadi DIT ( Do It Together). Indonesia sebesar,sebanyak,sekaya dan sehebat ini kok band nasionalnya cuma lahir di 4 kota besar? Belum lagi masalah jualan dan distribusi karya.

Adakah momen saat kamu selalu terbangun di pagi hari dan tiba-tiba  bermunculan lagi ide-ide baru untuk membuat perubahan yang didasari kegelisahan kamu?              

Mungkin lebih tepatnya gak bisa tidur diserang banyak ide masuk, semua perubahan pasti muncul dari kegelisahan. Kebetulan Soekamti memang designnya sejak lahir tidak pernah aman. Salah satu contoh masalah nyata sejak lahir adalah soal nama. Dari nama aja (Endank Soekamti-red) udah gak komersil hehehe untung kebantu muka lumayan gantenglah hahaha.

Apakah kamu beranggapan kalo kondisi musisi lokal bakal lebih baik kalo  setiap daerah punya record label?

Nah,kalo itu aku juga gak ngerti. Yang jelas Indonesia akan lebih kaya jika banyak musisi-musisi daerah juga punya kesempatan berkontribusi sama untuk Indonesia dengan atau tanpa label.

Di video pengenalan Euforia ID kamu bicara soal “simbiosis mutualisme”. Bagaimana cara kamu memastikan kalau semua musisi yang terlibat dalam ekosistem Euforia Audio Visual mendapatkan porsinya masing-masing?

Karena apa yang mereka dapatkan adalah hasil dari usahnya sendiri-sendiri melalui infrastruktur yang kita siapkan.  Kalau bandnya sendiri gak bergerak ya gak dapet apa-apa, karena mereka tidak berkontribusi untuk lingkungan musiknya.

Apa yang terlintas di benak seorang Erix saat melihat perjalanan #DOES yang sudah melampaui 100 episode?

Yang gak mungkin adalah yang gak kita mau. I’m Possible!!!

Adakah rencana untuk membuka kelas-kelas lain selain kelas animasi yang sekarang sudah jalan di DOES University?

Pasti.

Sejauh ini bagaimana tanggapan orang-orang terdekat atas dibukanya DOES University?

Tentu saja memberi support, karena ini juga bagian dari cita-cita kita bersama.

Belakangan ini ada banyak band yang merilis ulang albumnya dalam bentuk vinyl. Apakah kamu masih beranggapan kalo vinyl gak bernilai dan cuma buat gaya-gayaan?

Vinyl mungkin bisa jadi bagus buat band lain, kita cuma berfikir efektifitas berdasarkan musik dan market dari band kita sendiri. Aku sendiri belum pernah hidup dijaman vinyl, Kamtis juga gak ada yang punya vinyl player, kalaupun memang untuk koleksi ya mungkin dari modal dan harga akan lebih efektif untuk memasarkan bentuk kreatif produk lainnya yang lebih terjangkau dan realistis.

Apakah seorang Erix juga membuat resolusi tahun baru?

Menjadi trigger segala bentuk movement kreatif anak muda untuk mandiri dalam bekerja, merdeka dalam berkarya!!!

Sempat tersiar kabar bahwa Endank Soekamti menjadi satu-satunya band di dunia yang memanfaatkan YouTube untuk berpromosi dengan membuat diary berupa video (vlog), menurut Erix seberapa efisien kah YouTube untuk menunjang kebutuhan suatu brand ataupun band?

Sejujurnya kita malah baru tau klo ini namanya vlog. monggo bisa dilihat di sini. Setidaknya itu usaha yang menyenangkan untuk kami dalam melayani community. Hasilnya sebenarnya gak pernah kita pikirin, yang penting kita bisa melakukan apa yang kita bisa untuk mereka, salah satunya ya dengan menggunakan fasilitas YouTube.

Pertanyaan terakhir, apa arti tahun 2015 bagi seorang Erix?

2015 adalah tahun sebelum 2016 🙂