Weekly Playlist #2

Top five songs of the weeks goes to..

1. Introvert – Rich Brian ft Joji

2. Build That Wall – Aimee Mann

3. One – Aimee Mann

4. Plants – Crumb

5. Thanks Dad – Richie Woods

Advertisements

Blissful

Someday,

When you’re older,

When you have a kids,

And when you tell a story about how much your grandma loves to take you on Angkot,

Remember some stranger witness your sweet memory and captured it.

How We Broken Inside

Terlepas dari fakta jika tanggal-tanggal segini tuh tanggal aku rawan menstruasi, aku memang mau mengakui jika momen nangis di Go-jek dan nangis saat jalan kaki ke kosan adalah bukti kalau.. Aku sedih dan aku perlu melepaskannya.

.

.

Bingung harus menjelaskan darimana perasaan ini. Gak tau karena trauma masa kecil atau apa, aku gak ngerti kenapa aku jadi anak yang khawatir berlebihan.

Ada banyak kekhawatiran yang aku pikirin belakangan ini..tapi gak aku ceritain ke orang terdekat karena aku takut mereka gak akan ngerti, atau cuma nganggep perasaan ini gak penting.

Contoh hal yang aku khawatirkan adalah soal menikah. Aku takut menikah akan merusak apa yang aku punya. Gimana kalau aku udah pacaran bertahun-tahun tapi semua itu hancur pas aku nikah dan misal aku gak punya anak? Aku cerai, aku terluka, semua gara-gara nikah, padahal dulu pacaran bertahun-tahun aku baik-baik aja.

Mungkin terdengar konyol, tapi pikiran itu terus-terusan mengangguku belakangan ini.

Terus, aku mikir kalau pacar aku mati kayaknya aku gak akan bisa menjalin hubungan lagi sama orang lain. Karena aku takut gak ada orang yang bisa nerima aku apa adanya. Aku akan terus sendirian.

Pikiran itu sukses membuatku menangis diam-diam di Go-jek.

Semua semakin membuatku merana saat bapak Go-ngasih info lowongan kerja dari penumpang sebelum aku. Dia bilang kasian sama aku yang rumahnya jauh, dia bilang penumpang sebelumnya juga kerja di dunia media, tapi dia nyuruh aku buat kerja setahun dulu di tempat ini biar dapet pengalaman.

Pas si bapak ngomong, gak kerasa air mataku ngalir. Aku bingung sedih kenapa, apakah sedih karena tiba-tiba kepikiran ketakutan-ketakutan yang aku sebutin di atas? Atau karena aku bertanya-tanya sama diri sendiri “Apakah pas aku lahir ibu bapak ngebayangin anaknya jadi karyawan biasa kayak gini? Mereka kecewa gak? Kecewa liat aku ujung-ujungnya gini?

Nyampe pintu kosan, tangisanku pecah memikirkan itu semua sendirian. Sendirian karena merasa gak akan ada yang paham sama yang aku rasain ini.

Be Right Back to be Alright

Salah satu episode Black Mirror yang paling berkesan buatku adalah episode ‘Be, Right Back’ di season 2.

Bercerita tentang Martha dan Ash. Sepasang kekasih yang baru pindah ke sebuah cottage di tengah hutan.

Suatu hari Ash dikabarkan tewas dalam kecelakaan dan tentu saja Martha terpuruk saat mendengarnya.

Seorang teman lalu menyarankan Martha untuk mencoba sebuah teknologi baru. Teknologi yang memungkinkan Martha untuk berkomunikasi dengan sosok Ash.
Teknologi ini akan mengumpulkan semua data yang pernah diunggah Ash di media sosial dan menjadikannya ‘bahan’ untuk membuat Ash seolah-olah masih hidup.

Yup, dengan teknologi ini Martha bisa chatting bahkan menelfon Ash yang sudah tiada.

Awalnya Martha enggan. Ia merasa akan semakin terluka saat ingat kalau Ash sungguhan sudah tidak ada. Tapi semua berubah saat tahu dirinya hamil dan rasa rindu pada Ash semakin tak terbendung.

Martha lalu melihat layar laptopnya. Sebuah chat room muncul dan menampilkan avatar Ash.

Untuk beberapa saat Martha merasa ragu. Tapi keraguannya berubah menjadi mata sendu saat robot yang menjadi Ash berperan cukup baik.

Robot ini bisa membalas chat Martha dengan gaya khas Ash. Selama beberapa saat Martha tertawa tapi berubah menjadi murung saat tahu layar yang ia tatap hanyalah robot yang meniru Ash.

Tapi apa mau dikata. Trauma ditinggal mati mendadak membuat Martha menjadi rapuh. Ia merasa balasan kata-kata saja tidak cukup. Ia butuh mendengar suara Ash dan sang robot menyanggupi.

Akhirnya malam itu Martha menangis sejadi-jadinya saat mengobrol dengan Ash–saat memberitahu Ash dia akan menjadi ayah.

Untuk beberapa saat ilusi Ash yang masih hidup dan bisa berbincang-bincang dengannya membuat Martha agak baikan. 

Tapi rasa rindu Martha yang begitu mendalam membuat suara Ash pun jadi terasa kurang. Ia butuh melihat Ash, ia butuh menyentuh Ash.

Sang robot lalu menawarkan upgrade yang ia sebut ‘creepy’. Dengan cara ini Martha bisa bertemu lagi dengan Ash, seolah-olah kekasihnya itu masih sehat lahir dan batin.

Tak perlu berpikir lama, Martha menyanggupi ide itu. Dan beberapa hari kemudian sebuah paket datang. Paket itu tak lain dan tak bukan merupkan robot berwujud Ash.

Robot tersebut harus direndam dulu di bak mandi sambil ditaburi elektrolit dan bahan-bahan lain. Dengan telaten, Martha merendam robot itu. 

Beberapa saat kemudian, Ash versi robot berdiri di depan Martha. Sambil basah kuyup, Ash meminta Martha untuk membawakan handuk. 

Martha menatapnya dengan tatapan sedih. Senyata apapun sosok Ash yang berdiri di depannya, tetap saja sosok Ash yang asli sudah dikubur di liang lahat. Dan Martha tahu ia idak akan pernah bisa melenyapkan fakta itu.

***

Well, aku suka banget episode ini karena episode ini punya pesan yang kuat yaitu: 

Rasa kehilangan adalah hal yang paling susah disembuhkan.

Rasa kehilangan bisa bikin robot dari plastik yang hidup karena sokongan data media sosial jadi pilihan paling baik untuk membuat kita tetap waras.

Atau dengan kata lain, untuk melindungi perasaanya manusia lebih memilih kebohongan karena terasa lebih baik dan membuat nyaman. 

Hmm, sounds familiar? 

Jakarta: Satu Tahun Setelahnya

*Ya ampun udah pengen nulis cerita ini sejak November 2016 tapi gak jadi mulu!*

Apa daya niat pengen bikin skripsi yang tidak mengaharuskanku pergi ke lapangan ujung-ujungnya pembimbingku tetep memintaku untuk melakukan wawancara. Aku bukan males ke Jakartanya sih tapi males ngurus-ngurus izin wawancara dsb tapiiiii salah satau bentuk #SkripsiMiracle yang aku alami adalah urusan wawancaraku lancar banget ternyata.

Iseng-iseng aku nge-add FB Mas Affan, produser BBC sekaligus penulis liputan mendalam soal Wahabi yang lagi aku teliti. Entah kenapa aku udah males ngurus izin wawancara ini lewat sistem birokrasi, apalagi abis kirim e-mail, mention, nge-DM si BBC gak dibales mulu akhirnya aku memutuskan buat nembak langsung orang yang mau aku wawancara.

Alhamdulilahnya, Mas Affan ini baik banget, fast response dan bahkan nelfon aku gara-gara aku lama ngebales WAnya dia! *yup dia langsung ngasih kontaknya pas chatting di FB*. Akhirnya aku janjian ketemu beliau di kantor BBC Indonesia yang letaknya deket Bunderan HI.

Jakarta, here I am agaaaaaain!

Terakhir aku bolak-balik Jakarta sendirian tuh tahun 2015 pas aku lagi magang. Dan tepat setahun kemudian yaitu bulan November aku ke Jakarta lagi seorang diri. Skripsi telah mengantarkanku ke kota yang sempat aku tinggali sebulanan ini.

Rasanya aneh naik Primjas lagi, rasanya aneh pas nyampe di deket Cililitan lagi, rasanya aneh pas naik angkot yang mau ke Kalibata, rasanya aneh karena aku udah cukup familiar, walaupun hanya hafal sekitaran apartemen kakak ku. Tapi rasanya pergi ke Jakarta ini sudah tidak semenakutkan tahun 2015 lalu, dimana aku masih meraba-raba jalan, tempat dan berbagai hal lainnya.

Lalu bagaimana Jakarta, satu tahun kemudian?

Perubahan yang cukup membuatku terkesima adalah ojeg di apartemen kakak ku. Ingat ceritaku yang ketakutan sama ojeg itu? Rupanya, setahun kemudian hampir semua tukang ojeg di apartemen ini jadi tukang ojek online!

Terus aku gak mesti sembunyi-sembunyi lagi kalau mau pesan gojek karena sekarang gojek bisa masuk sampai depan lobby apartemen! Perubahan kedua adalah KRL. Sebenernya ini pasti bukan hal baru buat orang Jakarta, cuma karena terakhir kali aku naik KRl ya tahun 2015 itu jadi aku gak tahu kalau beberapa stasiun KRL kayak di Sudriman udah gak pake sistem ngantri di loket lagi alias udah pake sistem e-ticketing.

Sisanya sama sih. Masih dapet gojek yang heboh ngajak ngobrol sana-sini. Panasnya masih sama. Macetnya masih sama. Sama seperti Jakarta satu tahun yang lalu. Pada akhirnya aku malah bersyukur pembimbingku nyuruh wawancara penelitian, karena sekali lagi aku berhasil mendorong jauh-jauh rasa takut dan berangkat ke Jakarta, ketemu pak Affan yang super baik parah dan sekali lagi menjajal Jakarta dan menikmati perubahannya.

5/3/17