Chemistry

Gak cuma perlu ada di hubungan sama pacar atau suami. Kita juga perlu itu saat menjalin hubungan sama teman kerja.

Buat aku, rada susah rasanya ngerjain sesuatu sama orang yang gak ada chemistry nya sama aku. Kerjaannya bakal tetep beres sih, tapi di prosesnya itu biasanya ada aja yang bikin ngebatin.

Bisa ngebatin karena beda visi yang ujungnya bikin gak puas ke diri sendiri, atau yang paling parah bikin jadi gak peduli sama apa yang dikerjain karena gak sejalan mulu dan capek duluan buat “memperbaikinya”.

Menurutku, kalo kita punya chemistry sama temen yang kita ajak kerja, ada beda pendapat atau visi pun masih bisa diselesain dengan enak karena kita tahu walopun ada perbedaan pendapat, jauh di dalam hati sebenernya kita pengen satu hal yang sama.

Sejauh ini, aku sering banget ngerasa banyak hal yang harusnya bisa jadi lebih baik tapi gak berjalan bagus karena aku kurang punya chemistry sama orang-orang yang juga ngerjain hal itu.

Sebenernya ini lumayan bikin stres, karena aku punya ekspektasi sedemikian rupa untuk hal yang aku kerjain, dan rasanya lumayan sedih pas liat itu gak berjalan semestinya karena orang lain yang ngerjain itu kadang gak peduli sama sekali.

Salah aku juga kali ya yang gak bisa percaya penuh sama orang yang aku ajak kerja itu. Jadinya ya, ada aja terus yang gak cocok 😦

But, you know what? Its only make me want to find the ‘chemistry’ stronger. Not with peoples whom I work with now. But I’m still searching.

Goodbye

So many tears I’ve cried
So much pain inside
But baby It ain’t over until it’s over

Selamat jalan, InsyaAllah ini jalan terbaik dari Allah. Semoga Allah melapangkan hati yang kalian tinggalkan. Kalian abadi dalam ingatan, dengan kebahagiaan. Aamin.

Syukuran

Masih belum bisa tidur..

Setahun yang lalu, pas tau Riki kena asam lambung dan gejala gerd aku hampir nangis tiap hari. Pas mau tidur, bangun tidur, di gojek, yang aku pikirin cuma takut ditinggal sama dia. Aku selalu mikir, gak akan siap, gak akan siap, gak akan bisa lanjut hidup, gak akan sanggup kerja lagi, gak akan pacaran sama orang lain lagi, pokoknya tiap hari hampir selalu dibayangi ketakutan itu. Ketakutan terbesarku.

Tapi nyatanya..

Kita emang gak akan pernah siap. Sekeras apapun kita nyoba buat menyiapkan mental, gak akan pernah ada waktu buat kita siap-siap ditinggalin sama orang yang berarti buat kita.

Yang bisa kita lakuin adalah bersyukur. Dan syukuran itu bisa tentang apapun.

Aku mestinya bersyukur udah dikasih waktu kurang lebih delapan tahun bareng pacar yang lebih pas dibilang sahabat.

Selain itu, ada lebih banyak hal yang harus disyukuri banget. Yang gak akan bisa disebutin satu per satu karena kadang kita luput dalam ngelihat nikmat yang Allah kasih ke kita.

Besok-besok, selain bersyukur, ada hal lain yang sebenernya paling penting buat dilakuin.

Hal itu adalah berdoa, berdoa dan berdoa.

Just like this setting sun is returned to this lonesome ocean

Sudah dua kali, melihat bukti kelahiran dan kematian seseorang dalam waktu berdekatan atau bersamaan. Dulu saat ibuku ulang tahun, besoknya kakekku meninggal lalu dilanjut sehari sesudahnya keponakanku merayakan ulang tahun pertamanya.

Hari ini Alhamdulillah masih bisa mengucapkan selamat ulang tahun ke ibu walaupun paginya harus menahan rasa sedih saat tahu adik kelas dan senior di kampus jadi korban kecelakaan pesawat.

Bagiku, tidak perlu ‘kedekatan’ untuk bisa merasakan kepedihan bagi mereka yang pergi dan ditinggalkan. Membayangkannya saja tidak mampu..

Tadi sore, aku melihat salah satu seniorku membagikan sebuah lirik lagu. Tanpa sadar, mataku berkaca-kaca saat membaca liriknya.

At The Bottom of Everything – Bright Eyes

So there was this woman and
She was, uh, on an airplane and
She’s flying to meet her fiancé
Sailing high above the largest ocean
On planet earth and she was seated
Next to this man who
She had tried to start conversations
And really the only thing
She’d heard him say was to order his bloody mary
And she’s sitting there and she’s reading
This really arduous magazine article about a
Third world country that she couldn’t
Even pronounce the name of and
She’s feeling very bored and very despondent
And then, suddenly there’s this huge mechanical failure and one of the engines gave out
And they started just falling, thirty thousand feet
And the pilot’s on the microphone and he’s saying
“I’m sorry, I’m sorry, Oh My God, I’m Sorry”
And apologizing and she looks at the man and she says
“Where are we going?” and he looks at her and he says
“We’re going to a party, it, it’s a birthday party
It’s your birthday party, happy birthday darling
We love you very, very, very, very, very, very, very much.”
And then, uh, he starts humming this little tune and, uh, it kind of goes like this: 1, 2, 1, 2, 3, 4.

A Good Number

cats

Celebrating the fact that I am getting closer to the official adult’s age with my ‘broke’ wallet, traveling to a new place by myself, sharing a super insightful thought with a super friends, fill my tummy with a lot of yummy foods, watching something new, going to a music concert again. If I have to describe October I must say: it’s full of love, love, and love. Words can’t describe how grateful I am.

Bismillah, 24!