The pause button

Beberapa tahun yang lalu (kalo gak salah tiga tahun lalu) Mumut ngesms aku dengan panik. Ia bilang ada kuis di kelas Abang. Aku yang lagi makan ramen sama Riki di Ciwalk membacanya dengan seksama. Aku lalu menyusun kata per kata untuk membalas pesan Mumut yang isinya kalo gak salah adalah “Iya Mut gapapa aku udah di Bandung wkwk”.

Pada hari itu aku sengaja bolos dari kelas Abang. Alasanya? Aku muak dan jenuh dengan tugas yang ia berikan. Di hari itu aku bersikap bodo amat dan pergi main ke Bandung. Aku gak peduli aku melewatkan kuis dari dia. Aku gak peduli nilaiku mau jadi B atau C sekalipun. Di hari itu aku hanya ingin menekan tombol ‘pause’ selama yang aku mau. Mengambil jeda dari rutinitas yang memusingkan dan tak pernah habis.

Kemarin aku menekan kembali tombol itu. Aku sengaja merencanakannya. Setelah dari Senin sampai Rabu syuting, aku sengaja mengambil cuti di hari Kamis karena Jum’atnya pun kantorku libur (menggantikan libur tahun baru Islam yang jatuh di hari Selasa).

Sama seperti saat melewatkan kelas Abang, kemarin aku tidak ambil pusing dengan segala urusan kantor yang akan aku lewatkan.

Satu hal yang pasti, aku ingin menekan tombol ‘pause’ selama mungkin, untuk minggu ini dan sebelum kembali bertemu Senin yang panjang esoknya.

Kemarin aku membeli kacamata baru, menonton Wiro Sableng (bahkan gak sengaja ketemu sama Indro Warkop dan Tora Sudiro yang sedang promosi film terbarunya), mencoba cheese coffee yang sedang hits, makan ayam goreng kecap Immanuel yang nikmatnya teramat nikmat dan ngemil dada montok KFC sambil ngobrol sama Riki.

Lalu hari ini aku pulang ke rumah. Alasannya sama, aku masih ingin mengambil jeda yang lama. Beristirahat dan mencoba menghilangkan pikiran negatif dan kecemasan yang menguasaiku selama sebulan belakangan.

Pokoknya, pulih tidak pulih, aku hanya mau menikmati jeda ini.

Film akhir pekan #2

I like ‘Sierra Burgess is a Loser’ better than ‘To All The Boys I’ve Loved Before”.

Keduanya adalah film romantic comedy keluaran Netflix yang berhasil melambungkan nama Noah Centineo. Tapi jujur aku sendiri baru suka banget ama dia pas nonton Sierra Burgess is a Loser hehe.

Ps: He likes writing and he watch Failure to Launch.

Walaupun kedua film ini punya cerita dengan tema yang sama yaitu masa SMA, si populer dan tidak populer, kisah cinta antara si ganteng dan itik buruk rupa dan lain halnya, aku lebih suka SBIAL karena…karakter Sierra agak-agak relatable? Terus disini si Noahnya lebih sweeet (walopun tetep rasanya sulit membayangkan cowok se perfect dia buat tetep jalan ama Sierra karena walopun Sierra gendut dan gak cantik dia adalah “tipe” nya Jamey alias si Noah).

Sementara di To All The Boys I’ve Loved Before aku ga suka liat si Lara Jean yang keliatan tua (kenapa beda banget ama gaya sehari-hari dia sih) terus ceritanya biasa aja kalo menurut akuuuu. Iya sih si Peternya so sweet juga tapi tapi…ceritanya kurang greget dan gatau kenapa ekspresi si Lara Jean itu selalu sama di mataku?

Well, pada akhirnya walopun kedua film ini tipikal film remaja dengan problematika cinta yang itu-itu aja aku merekomendasikan dua film ini karenaaaa dua-duanya ringan dan menghibur. Spesial untuk SITBL, aku rekomen film ini karena ada Kristine Froseth yang super duper cantiiiiik gilak!