Rutinitas

EsIsDs4.gif

Rutinitasku selama kurang lebih satu tahun  ini adalah mendengar bunyi alarm pukul 05.00 pagi. Menekan tombol snooze sampai tiga puluh menit. Bangun dan mengambil wudhu untuk sholat Subuh. Kadang lanjut tidur lagi atau langsung buka ponsel dan lihat Line Today, Facebook atau Instagram. Mandi pukul 07.40 dan selesai dalam sepuluh menit saja. Lalu setelah itu sholat Dhuha dan baca Qur’an dua halaman. Eh, lupa sebelum sholat aku pakai dulu lotion Hada Labo mumpung wajah masih agak basah.

Setelah baca Qur’an aku memakai pelembab wajah, lotion dan deodoran. Sehabis sholat, biasanya alarm keduaku berbunyi. Itu tandanya sudah jam 07.30 dan waktunya untuk siap-siap berangkat. Aku pun langsung merapikan tempat tidur, memunguti rambut rontok serta mengelap lantai dengan tisu basah agar tidak berdebu (biasanya sambil dengerin lagu dari YouTube). Jika beres-beres sudah selesai aku lantas memilih baju (yang itu-itu saja) memakai kerudung (yang itu-itu saja juga) dan memakai lipstik serta bedak.

Setelah itu aku mengecek dompet, memasukannya kembali ke tas, mengunci pintu kamar, mengambil sampah semalam dan turun ke bawah. Setelah mengunci kembali pintu kosan, aku membuang sampah, memakai masker, mengambil ponsel dan mulai memesan ojek online (disini biasanya hatiku berdebat apakah harus pakai promo atau tidak). Setelah dapat ojeknya, aku jalan ke hotel depan gang kosan dan menunggu ojeknya datang. Biasanya mereka datang dalam waktu lima menit (paling lama sepuluh menit). Setelah memakai helm, aku naik ke motor dan bilang “Udah A”. Pukul 07.45 atau paling lama 08.10 aku pun berangkat menuju kantor.

Jalur yang ku tempuh untuk ke kantor selalu sama. Jalur pertama adalah lewat Alun-Alun dan yang kedua lewat Astana Anyar. Tapi seringnya sih lewat yang Alun-Alun. Biasanya untuk sampai ke Kebon Kawung itu gak nyampe 15 menit dan setelah itu aku lanjut naik angkot St.Hall-Sarijadi dan mulai dari situ perjalananku jadi menarik karena hampir setiap hari aku naik angkot dengan orang-orang yang sama.

Mereka adalah, seorang wanita (sepertinya usia 60an) yang berjualan di kantin kampus Maranata. Ia selalu membawa dua tas besar (kadang satu), satu kresek kuning dan satu kresek putih.

Ibu-ibu yang mirip Bude Sumiyati dan selalu turun di belokan pom bensin, lalu jalan ke BNI Setrasari.

Mbak-mbak (sepertinya usia 30an awal) yang naik angkotnya dari Pasir Kaliki dan turunnya di Griya Pasteur.

Si teteh yang model kerudungnya selalu sama dan sepertinya kerja di J&T deket Maranata (dia selalu turun disitu soalnya).

Dan Si Teteh kurus yang selalu memakai masker, sama sepertiku, yang turunnya sama persis denganku (di belokan pom bensin) dan selalu mengandalkanku untuk menyebrang (meskipun pas udah nyebrang dia ngeleos pergi duluan ke belakang Griya, mungkin kantornya disitu).

Aku pun tidak pernah langsung masuk kantor. Pasti tiap pagi aku akan mampir ke Griya untuk beli roti isi cokelat pisang atau keju pisang. Membeli satu atau dua buah potong yang sudah dimasukan ke cup, lalu biasanya mampir lagi ke si ibu gorengan untuk beli satu gehu, satu singkong dan satu combro karena aku selalu pengen yang asin-asin kalau pagi. Tapi kadang aku juga mampir ke toko kue sebelah kantor dan beli dua risoles kecil.

Setelah membeli aneka sarapan itu aku baru berjalan ke kantor, membuka kunci gembok dan naik ke lantai tiga. Menaruh alas kaki yang ku pakai, memakai sandal kantor, menaruh buah di kulkas, memijit jempol di mesin fingerprint, kadang menyapa Ko Paul yang sudah serius mantengin komputer, menaruh tas di bawah meja lalu jika aku datang paling awal aku akan menyalakan AC, tapi jika sebelumnya sudah ada orang lain aku hanya akan mengambil tisu di dekat meja Ko Kevin untuk mengelap wajah, lantas aku duduk dan menyalakan laptop, memasang charger laptop dan ponsel daaaan makan roti atau gorengan yang sudah ku beli.

Setelah itu aku akan ke dapur untuk mengisi air minum, lalu setelah kembali duduk aku akan cek e-mail (kantor dan pribadi). Memikirkan apa yang harus dikerjakan (yang biasanya sudah dipikirkan sejak di kosan) dan menulis apa saja yang harus dikerjakan di agenda. Biasanya aku baru bisa bekerja pukul 10.00, tapi  jika sedang gabut aku biasanya hanya akan baca-baca berita atau membuat tulisan seperti ini. Lain halnya jika ada bos-bos datang, biasanya dari jam 10.00 pagi sampai jam makan siang aku akan sibuk meeting. Tapi jika tidak ada, maka jam 11.40 biasanya aku akan bertanya ke Teh Dini “Bekel atau nggak?” dan jika iya bilang nggak maka itu artinya kami akan beli makan siang ke luar bareng.

Biasanya, Lia, Sipli dan Afrida juga suka ikut buat beli makan siang, tapi Lia dan Sipli seringnya memilih makanan yang berbeda dari aku, Teh Dini dan Afrida. Makanan yang sering aku beli untuk makan siang adalah nasi warteg di Kantin Putri, nasi soto bandung dan telor dadar, mie ayam, mie goreng indomie, lontong kari, nasi goreng, nasi padang atau cuankie deket mesjid.

Kalau makan di luar, biasanya kami selesai makan jam 12.50 dan sesampainya di kantor akan selonjoran sambil berdesak-desakan di mushola kantor yang kecil bersama yang lain. Tapi jika sedang bekal, maka aku akan menyantap bekalku di dalam mushola itu dan baik keduanya akan selesai jam 13.10 atau lebih (jika sedang tidak ada para bos tentunya). Setelah makan, aku sholat Dhuhur lalu kembali bekerja. Kalau lagi semangat-semangatnya aku bisa fokus sampai jam lima tapi kalau sedang tidak mood, jam tiga pun aku udah mengerjakan hal lain (seperti menulis ini).

Pukup 16.30 biasanya aku sholat Ashar, sengaja agak sore karena menyimpan wudhunya buat Magrib (aku tahu itu salah) tapi itu dilakukan karena saat adzan Magrib aku harus langsung sholat (dan WC suka penuh) dan jam 18.00 teng emang harus langsung pulang karena aku ngejar angkot Sarijadi-St.Hall (biasanya lebih dari jam setengah tujuh bakal susah dapet). Jam enam pas aku menekan fingeprint dan berjalan ke bawah, tepatnya ke halte Damri Sarijadi dan menunggu angkot lewat. Kebiasaan baru-baru ini adalah aku membeli keripiki pedas di warung yang ada di dekat halte. Biasanya, angkot datang dalam waktu tiga puluh menit. Dari situ aku berkendara menuju Pasir Kaliki dan turun di sebuah kafe untuk melanjutkan perjalananku dengan ojek online.

Awalnya, itu adalah tempat menunggu ojek online yang paling nyaman sampai suatu hari aku dapat abang gojek menyeramkan yang sayangnya mangkal disitu dan membuatku jadi tidak nyaman lagi menunggu disitu. Kalau batang hidung si abang menyeramkan sudah tampak, aku akan memesan ojek online yang berbeda. Proses menunggu datangnya ojek ini biasanya berlangsung selama sepuluh menit dan jika sudah dapat waktu tempuh ke kosan hanya 15 menit saja.

Biasanya aku akan turun di depan hotel dekat kosan, di alfamart atau di dekat tukang batagor karena batagor adalah kehidupan. Setelah membeli jajanan, aku akan berjalan ke kosan. Menyapa seperlunya penghuni lanta satu. Naik ke lantai tiga, dan masuk kamar dengan kewalahan dan kepanasan, maka hal yang pertama aku lakukan adalah membuka kerudung dan masker.

Setelah itu aku akan memakan jajanan yang aku beli, tiduran dan nonton channel YouTube favoritku sampai satu jam. Dan pukul delapan aku akan membersihkan wajah dengan milk cleanser, lanjut mencuci wajah di kamar mandi, mengambil wudhu, sholat isya, minum yakult, telfonan dengan Riki saat jam bergerak ke pukul sembilan malam dan setelah itu tidur pukul 10 malam.

Bangun tidur, aku memulai rutinitas di atas kembali.

Boleh jujur?

Saat aku bercermin di pagi dan malam hari,

Aku kadang tidak bisa membedakan hari ini dan kemarin,

Semuanya terasa terlalu sama.

a-robot-in-parliament-square-london-during-a-photocall-for-the-campaign-to-stop-killer-robots-lethal-armed-robots-that-could-target-and-kill-humans-autonomously-should-be-banned-before-t
can you see his sad face?

 

Heavy clouds

Kalian pernah gak sih terus-terusan ngerasa negatif sampe capek sendiri?

Aku gak semangat sama sekali buat menjalani bulan Oktober. Gak tau karena lagi jenuh sama kerjaan dan rutinitas atau karena di bulan ini gak ada hari libur.. Pokoknya aku males banget. Kerjaan di kantor gitu-gitu aja. Ada proyek yang harusnya bikin semangat tapi karena beberapa hal aku sama sekali gak ‘bernafsu’ buat mengeksekusi itu dengan segala upaya terbaik yang aku punya.

large
this is october feels for me

Yang perparah perasaan ini adalah aku sangat, sangat, sangat negatif di bulan ini. Ada banyak hal yang bikin aku jadi berprasangka buruk dan cuma mikirin yang jelek-jeleknya doang..bahkan sampe benci menahun ke seseorang. Rasanya dada itu panas banget tiap diselimuti pikiran-pikiran negatif ini. Gak tau dari mana datangnya, tapi rasanya itu kayak ada setan yang terus manas-manasin mulu.

Perasaan dan pikiran negatif yang belakangan ini menguasaiku bener-bener membuatku gak bahagia. Aku benci kayak gini. Apa yang bisa membuatku lebih baik?

And sometimes. Sometimes i wish a took a simpler route

Instead of havin’ a demons that’s as big as my house

Mac Miller, 2009

Njang, njing

Saya: Njing, jauh banget kalo dari kantor ke Alfamart kamu?

Dia: Menurut mbem, lebih anjing mana dari Kawaluyaan ke Setrasari ke Jatinangor terus ke Kawaluyaan? Hah? Lebih anjing mana???

Saya: Oh iya juga ya wkwkwkwkwkwkwkwk.

13 Oktober 2018

00.15

Sepulang nonton acara musik.